Bab 1 : Kembalinya Sang Gadis

1776 Words
"Ayah dengar kau membuat kekacauan di M.D.Crop, Aletha?" Suara berat Mahendra Dirgantara memecah keheningan malam di atas meja makan yang terlalu rapi. Segalanya tersusun sempurna, dari peralatan makan hingga semua hidangan yang masih mengepulkan uap hangat. Tetapi, walaupun begitu ntah mengapa suasananya masih terasa dingin. Aletha duduk dengan anggun di hadapan sang ayah. Punggungnya tegak, gerakannya halus, senyumnya terlatih. Benar-benar definisi putri yang sempurna. Atau setidaknya—terlihat seperti itu. Di sebelah kanan ada wanita tua yang rambutnya sudah dipenuhi uban, ia merupakan nenek Aletha bernama Ivana dan sebelah kiri Aletha ada Tante Helena, adik ayahnya yang merawat Aletha sejak kecil. “Kekacauan?” Helena memastikan kembali ucapan Mahendra. Aletha tidak langsung menjawab. Ia memotong daging steak-nya perlahan, lalu baru mengangkat wajahnya. Senyum kecil terukir disudut bibir. “Ah,” ucapnya ringan, “aku hanya tidak sengaja terjatuh tadi.” Mahendra memicingkan mata. Bukan marah, tetapi lebih ke arah mengenali. “Di lobi perusahaan orang?” tanyanya datar. Aletha terkekeh pelan. “Lantainya terlalu licin," tambahnya membuat Tante Helena ikut terkekeh. Tidak ada yang benar-benar percaya. Namun tidak ada juga yang membantah. “Untuk apa kau ke sana?” tanya ayahnya lagi. Aletha menghentikan gerakan tangannya, ia menaruh pisau dan garpu ditangannya dan menyandarkan punggung di kursi, menatap ayahnya dengan sorot yang lebih hidup. “Aku hanya merasa antusias ingin melihat bagaimana tempat kerjaku nanti," jawabnya santai. Alis pria itu terangkat. “Tempat kerjamu?” Aletha mengangguk kecil. “Aku mengambil jurusan Business dan International Finance, Ayah. Akan sangat aneh kalau aku tidak masuk ke perusahaan sebesar M.D.Corp, bukan?” Ya, benar. M.D.Corp adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang investment & strategic holdings, yaitu pengelolaan investasi besar, akuisisi, proyek properti, teknologi, dan masih banyak yang lain. Perusahaan yang dibangun oleh keluarga konglomerat Martadinata. Besan dari ayah Aletha. Mahendra terlihat mengelap bibirnya sejenak. “Kalau bicara tentang perusahaan besar, kau bisa bekerja untuk ayahmu, Aletha," tukas Helena menimpali. "No, tentu tidak, Tante Helen, aku tidak ingin mengandalkan Ayah dalam karirku." “Kau sudah dewasa rupanya," goda Helena. "Bukankah aku sudah dipaksa dewasa sejak dulu?" Ucapan Aletha membuat suasana menjadi hening. Ada sesuatu yang berubah di udara, sedikit, tapi terasa. Ayahnya menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Seolah mencoba membaca apakah itu benar-benar kemandirian? atau sesuatu yang lain yang tidak ia ketahui. “Sejak kapan kau berpikir seperti itu?” tanyanya akhirnya. Aletha mengangkat bahu kecil. “Sejak aku sadar, dunia ini akan lebih menyenangkan kalau aku mendapatkannya dengan tanganku sendiri.” Ayahnya tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Mungkin ia cukup puas melihat kepribadian Aletha yang sesuai dengan harapannya. “Baguslah kalau seperti itu,” ucapnya membuat Aletha tersenyum lebih dalam. "Bisakah kalian menghentikan percakapan seperti ini ketika kita berada di atas meja makan?" Protes sang nenek yang sepertinya tidak menyukai sebuah ketegangan. Helena terkikik geli. "Tentu saja, demi nenek apapun itu akan aku lakukan," ujar Aletha kembali melahap makanannya. Percakapan mereka berlanjut ke hal-hal ringan. Tentang Australia, negara dimana Aletha menempuh studinya, tentang kehidupan selama empat tahun terakhir, tentang Tante Helena yang setiap tiga bulan sekali selalu mengunjungi Aletha dan hal-hal lainnya yang seharusnya terasa hangat. Namun tetap saja terasa ada jarak yang tak kasat mata, tetapi nyata. Hingga akhirnya, Aletha meletakkan sendoknya pelan. “Ayah,” panggilnya lembut. Pria itu menatapnya lamat-lamat, begitupun nenek dan tantenya. “Aku ingin masuk ke M.D.Corp.” Kali ini Aletha tegas, tidak ada basa-basi dan candaan. Secara langsung dan jelas ia mengatakan keinginannya dengan serius. Ayahnya tidak terlihat terkejut. “Masuklah melalui jalur biasa," katanya tak acuh. Aletha tersenyum ambigu. “Sepertinya tidak bisa.” "Lalu? Apa kau tidak yakin dengan kemampuanmu?" "Hm, informasi yang aku dapatkan, sepertinya mereka sedang tidak membutuhkan karyawan baru." Pria itu menyandarkan tubuhnya. “Kau lupa dengan kalimat yang baru saja kau ucapkan?” katanya tenang dan mengulangi kata-kata penuh percaya diri Aletha tadi. “Kau tidak ingin mengandalkan ayah dalam kariermu.” Aletha menutup bibirnya yang tersungging dengan jemari. Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan memutari meja dengan langkah ringan memberi kecupan pada nenek dan tante Helena. Lalu ia beralih berdiri di belakang Mahendra, melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Sudah sangat lama Aletha tidak memeluk ayahnya, bahkan saat Aletha sampai tadi, tidak ada pelukan selamat datang. Rasanya hangat, Aletha rindu dengan sikap manjanya pada sang ayah. Ia menunduk sedikit, mengecup pipi Mahendra. “Bukakan saja jalannya untukku,” bisiknya lembut. Bukan permintaan. Lebih seperti perintah dan keputusan yang sudah dibuat. Aletha melepaskan pelukannya, lalu melangkah pergi tanpa menunggu jawaban. “Selamat malam, Ayah, Nenek dan Tante Helen, aku istirahat dulu,” pamitnya menaiki tangga. Dan seperti biasa, Aletha yakin ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Tinggal menunggu waktu saja. *** Aletha masuk ke dalam kamar, menutup pintu sepelan mungkin. Ia berjalan masuk tanpa menyalakan lampu utama, hanya cahaya temaram dari lampu samping yang menyambutnya, tanpa ragu menjatuhkan dirinya ke atas ranjang king size-nya. Sunyi. Tubuhnya tenggelam dalam kasur empuk yang bantalnya terbuat dari bulu angsa, tetapi tidak dengan pikirannya. Matanya menatap langit-langit, kosong selama beberapa detik sebelum perlahan berputar, mengulang kejadian siang tadi di lobi. Langkah awal yang cukup berani. Mengingat tatapan orang-orang yang tertuju pada mereka. Dan.. Adrian. Aletha masih bisa mengingat dengan jelas ekspresi pria itu. Tatapan tajam, dingin, nyaris seperti ingin mengumpat tepat di wajahnya. Ah, mengingatnya begitu menyenangkan. Namun yang lebih menarik adalah perubahan wajahnya. Dalam hitungan detik, begitu Aletha menyebutkan satu kalimat sederhana. Kakak ipar. Tatapan Adrian berubah. Dari marah, menjadi bingung. Dari dingin menjadi seperti berpikir keras. Seolah ia sedang memaksa ingatannya bekerja. Aletha terkekeh pelan. “Jadi, kau benar-benar tidak mengenaliku ya, tuan Adrian?” Ada sesuatu yang berdesir di dalam diri Aletha. Bukan sedih, tidak juga kecewa, tetapi lebih ke arah tersinggung. Walaupun hanya sedikit, namun cukup untuk mengusik pikiran Aletha. Tangannya bergerak, memainkan ujung rambutnya sendiri dengan malas. Tentu saja Adrian pasti akan bertanya-tanya. Apa yang Aletha lakukan di sana? Kenapa tiba-tiba Aletha kesana? Begitu juga dengan istrinya, si Evelyn itu. Senyum Aletha perlahan berubah lebih dalam dan tajam. “Pasti kau juga terkejut bukan, Kak Evelyn? Kau pasti sudah mengetahui jika aku kembali, tapi tidak akan menyangka jika aku akan datang ke kantor suamimu," gumamnya pelan lalu diam sejenak dan memejamkan matanya. Bukan tanpa alasan Aletha kembali. Bukan juga kebetulan. Dan jelas, bukan sekadar kunjungan keluarga. Aletha membuka matanya kembali, menatap lurus ke langit-langit dengan sorot yang penuh tujuan. Apa yang seharusnya menjadi miliknya, tidak akan selamanya berada di tangan orang lain. Bahkan ayah, nenek juga tante Helena, semuanya milik Aletha. Dan ia tidak datang untuk menonton orang lain bahagia. Tetapi ia datang untuk mengambilnya kembali. Mengambil yang memang seharusnya miliknya. "Ibu, aku tidak akan membiarkan diriku menderita seperti ibu, aku berjanji," lirih Aletha. Senyumnya terangkat perlahan. Tenang. Pasti. Dan berbahaya. “Permainan akan segera dimulai.” *** Lampu kota berpendar dari balik kaca jendela besar, membentang seperti lautan cahaya yang tak pernah benar-benar tidur. Adrian berdiri di sana, dengan satu tangan melingkar di pinggang Evelyn dari belakang, ia menarik tubuh istrinya lebih dekat. Dagu pria itu menempel di bahu Evelyn, napasnya tenang, namun pikirannya jelas masih tertinggal di tempat lain. "Ada seseorang yang membuat keributan di kantor tadi," ucapnya dengan suara rendah. Evelyn sedikit menoleh, alisnya mengernyit halus. “Keributan?” “Ya, Aletha,” lanjut Adrian singkat. Nada bicaranya datar, tapi ada sisa ketidaksabaran yang belum sepenuhnya hilang. Evelyn mengerjap pelan. “Aletha?" Adrian menghembuskan napas pendek, seolah mengingatnya saja sudah cukup mengganggu. “Ya, adikmu. Hampir saja aku memakinya, kalau saja dia tidak mengatakan jika dia adalah adikmu.” Evelyn memutar tubuhnya, kini menghadap Adrian. “Apa? Memangnya apa yang dia perbuat?” Adrian menatapnya sejenak, sorot matanya lebih dalam, malas menceritakan kejadian yang sebenarnya tidak terlalu penting itu. Tetapi ia penasaran kenapa istrinya justru tidak mengetahui jika adiknya datang ke kantornya. "Dia terjatuh," ucap Adrian asal. "Terjatuh?" Adrian tidak menjawab dengan kata, hanya menatapnya seolah mengiyakan. "Ayah memang sudah memberitahuku jika Aletha akan pulang, tapi aku tidak tahu jika itu hari ini. Mungkin saja ayah menelpon ku tadi, tapi karena pelanggan di toko sangat banyak, aku sampai melupakan ponselku," terang Evelyn. Wajahnya langsung berubah, meski hanya sepersekian detik. Evelyn menarik napas kecil. Ada sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Nada suaranya tetap lembut, seperti biasa. Namun ada sedikit rasa bersalah yang terselip. “Aku bahkan tidak menjemputnya, jika aku tahu ia akan pulang, pasti akan akan menjemputnya.” Adrian memperhatikan wajah istrinya. “Bahkan ketika kita menikah, dia tidak hadir, untuk apa kau merasa bersalah?" ujarnya datar, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. Ia tidak tahu apa yang terjadi di keluarga sang istri, Adrian tidak ingin menanyakan lebih jauh. Ia akan menunggu ketika Evelyn benar-benar siap menceritakannya. Yang Adrian tahu, sejak ia mengenal Evelyn lima tahun yang lalu, tepatnya saat perjodohan mereka, Evelyn dan adiknya memang tidak pernah terlihat bersama. Adrian bahkan tidak mengenali wajah Aletha, di rumah mereka poto sang adik pun tidak ada sama sekali. Jejak gadis itu tidak ada, seperti menghilang begitu saja. Evelyn tidak pernah membahas tentang adiknya. Mereka pun tidak pernah saling mengunjungi. Evelyn tersenyum tipis. Senyum yang terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. “Biar bagaimana pun dia tetap adikku,” jawabnya pelan. “Walaupun... ," ia berhenti sejenak, memilih kata yang tepat untuk menjelaskan kepada suaminya, "mungkin saja dia tidak pernah benar-benar menyukaiku.” Adrian tidak menanggapi. Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela membalikkan tubuh Evelyn dan kembali memeluknya dari belakang. Sepertinya Evelyn tidak butuh untuk ditanya kenapa dan mengapa, ia terlihat hanya butuh sebuah dekapan untuk membuat perasaannya lebih baik. Beberapa detik berlalu dalam diam. “Aku akan mengunjunginya besok,” ucap Evelyn kemudian, mencoba mengalihkan suasana. Adrian masih diam, menikmati hangat tubuh istrinya. “Kalau kau mau ikut, aku akan senang," lanjut Evelyn penuh harap. Adrian tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya, lalu menghela napas pelan. “Mungkin aku tidak bisa, ada meeting besok,” kata pria itu akhirnya. Evelyn hanya mengangguk kecil tidak memaksa. “Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. Adrian menunduk sedikit, mengecup pucuk kepala Evelyn dengan singkat, gestur hangat yang sudah biasa ia lakukan. “Istirahatlah, sudah malam," Evelyn mengangguk, lalu perlahan melepaskan diri dari pelukannya. “Jangan terlalu larut,” pesannya sebelum berjalan pergi yang hanya direspon dengan anggukan singkat. Langkah Evelyn menjauh, meninggalkan Adrian kembali sendiri di depan jendela. Tak lama ponselnya berdering di atas meja kerjanya. Pria itu melirik jam tangannya yang hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Siapa yang menelpon selarut ini? Adrian melirik sekilas ke layar ponsel. Ia paling anti jika ada yang mengganggunya di waktu malam. Tapi, ia tidak mungkin tidak mengangkat, karena disitu tertera nama ayah mertuanya. "Hallo, Adrian," sapa seseorang di seberang. "Ya, Ayah, ada apa?" "Besok siang, tolong temui aku di kantor setelah jam makan siang." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD