“Oh, Hyong*. Kenapa lama sekali?”
Lee Do-Yun tersenyum meminta maaf kepada laki-laki bertubuh tinggi yang membuka pintu, lalu melangkah masuk ke rumah yang sudah sering didatanginya. “Maaf, jalanan agak macet,” katanya sambil berjalan ke ruang duduk yang luas. “Hei, Ha-Neul. Punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman.”
Kang Ha-Neul mengikuti Lee Do-Yun ke ruang duduk. Ia tidak menghiraukan pertanyaan temannya dan balik bertanya, “Hyong sudah dengar gosipnya?”
Lee Do-Yun memerhatikan temannya mengempaskan diri ke sofa. Tatapan Kang Ha-Neul terlihat menerawang dan cemas. Sebagai manajer Kang Ha-Neul, Lee Do-Yun memahami alasan kekhawatirannya.
“Dari mana asal gosip itu?” kata Ha-Neul, seakan-akan bertanya pada dirinya sendiri.
Lee Do-Yun hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sebotol soju kepadanya.
Ha-Neul membuka tutup botol itu dan meneguk isinya. “Aku dibilang gay.” Ha-Neul tertawa pahit. “Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku, Hyong. Jangan-jangan selama ini Hyong juga berpikir seperti mereka?”
Lee Do-Yun duduk di kursi di hadapan Ha-Neul, ikut meneguk soju langsung dari botolnya. “Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu,” ujarnya tenang. “Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan Wanita mana pun di depan publik.”
Kang Ha-Neul mengangkat bahu. “Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa. Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”
Lee Do-Yun menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan. Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa menimbulkan gossip-gosip lain. Bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit. Produsermu tidak akan senang. Ditambah lagi, bagaimana dengan para penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar.”
Jung Tae Woo mendongak menatap langit langit dan mengembuskan napas berat. “Lalu bagaimana?”
Lee Do-Yun meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seorang wanita kepada publik.”
Kepala Ha-Neul berputar cepat ke arah Lee Do-Yun. “Apa?”
“Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Lee Do-Yun langsung.
“Apa?”
Lee Do-Yun tidak memandang Kang Ha-Neul dan melanjutkan dengan nada serius, “Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Bisa jadi skandal. Terlalu berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”
Lee Do-Yun mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikiran. Akhirnya ia menoleh dan mendapati Ha-Neul sedang menunggu hasil renungannya.
“Baiklah,” katanya sambil tersenyum. “Kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa wanita itu dan tidak ada yang pernah melihatnya.”
Ha-Neul mengerutkan kening karena bingung. “Tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada sekadar kata-kata belaka.”
“Tapi kita bisa memberikan bukti.”
“Bukti apa?”
“Foto dirimu bersama wanita itu.”
“Wanita yang mana?”
“Wanita yang menjadi kekasihmu.”
“Kekasih yang mana?”
“Semua bisa diatur kalau memang kau mau.”
“Maksudnya?”
Senyum Lee Do-Yun bertambah lebar. “Kita cari wanita yang tidak dikenal siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”
Ha-Neul merenung, lalu berkata, “Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usul wanita itu? Lagi pula di mana kita cari Wanita yang bersedia dan bisa dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”
Lee Do-Yun meletakkan gelas soju di meja dan menatap Ha-Neul dengan serius. Ia bisa melihat betapa temannya itu sedang berusaha menimbang usul yang baru saja ia lontarkan. Wajah Ha-Neul menunjukkan keraguan yang jelas. Alisnya terus berkerut, dan giginya sesekali menekan bibir bawah seolah mencari jawaban yang tepat.
Suasana di ruang tamu terasa tegang. Do-Yun tidak berkata apa-apa, menunggu Ha-Neul menyampaikan pikirannya. Setelah beberapa saat, Ha-Neul menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah pintu depan, lalu berbicara dengan nada ragu.
“Wanita yang seperti apa yang akan kita pilih?” tanyanya pelan. “Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita pertama yang berjalan melewati pintu itu?”
Ha-Neul menggerakkan dagunya ke arah pintu, seakan menegaskan maksudnya. Do-Yun menatap pintu itu, mencoba membayangkan kemungkinan yang akan terjadi jika mereka benar-benar mengikuti ide tersebut.
Tawa Lee Do-Yun meledak. Ha-Neul menatapnya dengan pandangan bingung. “Hyong, ada apa?”
Lee Do-Yun mendorong pelan bahu Ha-Neul. “Astaga, Ha-Neul. Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius begitu?”
“Apa?”
Lee Do-Yun menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.”
Ha-Neul mendengus, lalu tertawa kecil. “Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan sebentar. Hyong mau ikut?” kata Ha-Neul sambil merebahkan kepala di sandaran sofa dan memandang langit-langit ruang duduk.
Lee Do-Yun mengangkat bahu. “Oke.”
Ha-Neul mengayun-ayunkan botol soju yang sedang dipegangnya, lalu bertanya, “Oh, Hyong, ponselku sudah diperbaiki belum?”
Lee Do-Yun mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan meletakkannya di tangan Ha-Neul. Ia berniat menjelaskan sesuatu, tetapi pikirannya kembali pada telepon yang ia terima dalam perjalanan tadi. Seorang wanita yang menyebut dirinya Shin Min-Ah mengatakan bahwa ponsel mereka tertukar. Nada suaranya terdengar tenang, namun jelas ia merasa bingung dengan situasi itu.
Do-Yun sebenarnya tahu bahwa meminta wanita itu datang ke rumah Ha-Neul bukanlah keputusan yang tepat. Kesalahan ini bukan sepenuhnya tanggung jawabnya. Namun ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa kembali ke tempat pertemuan, sementara Ha-Neul sedang dalam keadaan tidak sabar. Jika Ha-Neul harus menunggu terlalu lama, suasana akan semakin buruk.
Ia menatap Ha-Neul yang duduk dengan wajah muram. Do-Yun membuka mulut, bersiap untuk menjelaskan tentang ponsel yang tertukar. Ia ingin memastikan Ha-Neul tidak salah paham. Namun sebelum satu kata pun terucap, bel rumah berbunyi. Suara itu terdengar jelas di ruang tamu.
Ha-Neul menoleh ke arah pintu dengan ekspresi curiga. Do-Yun berdiri, merasakan ketegangan yang semakin nyata. Ia tahu siapa yang mungkin datang. Langkahnya menuju pintu terasa berat, tetapi ia tidak bisa menghindar. Saat ia membuka pintu, sosok wanita yang menelepon tadi berdiri di sana.
“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Ha-Neul heran.