BAB 9

1911 Words
Mandy dan Eun-Ji sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Kang Ha-Neul dan pacar misteriusnya ketika Mandy mendengar namanya dipanggil. Mereka berdua menoleh ke belakang dan melihat laki-laki tinggi besar sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka. Eun-Ji menyikut lengan Mandy dan berbisik, “Mau apa lagi dia?” Mandy mengerutkan kening dan menggeleng tanda tidak tahu. Laki-laki itu berhenti di depan mereka berdua sambil tersenyum lebar. “Halo, kebetulan sekali bertemu kalian di sini. Mau makan siang? Ayo, kutraktir.” Eun-Ji meringis. “Kebetulan apanya?” “Han Joo-Won ssi, sedang apa kau di sini?” tanya Mandy. “Tidak ada alasan khusus,” jawab Han Joo-Won riang, seakan tidak menyadari nada ketus kedua gadis itu. “Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya kita makan siang bersama sambil mengobrol.” “Pacarmu mana?” tanya Eun-Ji tiba-tiba. “Dia tidak marah kalau kau makan siang bersama dua wanita? Ngomong-ngomong, kau masih bersama gadis yang waktu itu, kan? Atau sudah ada yang baru?” Wajah Han Joo-Won memerah dan dia agak salah tingkah Ketika menjawab, “Oh, dia sedang ada urusan di tempat lain. Ayolah, mumpung pekerjaanku sedang tidak banyak. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Oke?” Mandy dan Eun-Ji berpandangan. Mereka tahu mereka tidak bisa menghindar tanpa bersikap kasar kepada laki-laki seperti Han Joo-Won. Mereka masuk ke restoran kecil yang sudah sering mereka datangi. Mereka baru saja duduk di meja kosong ketika Mandy mendengar ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponselnya. Ia tidak mengenal nomor telepon yang tertera di sana. “Halo?” “Sudah lihat?” “Apa?” Dalam kebingungan Mandy menatap ponselnya, lalu menempelkannya kembali di telinga. “Siapa ini?” Laki-laki di ujung sana mendengus kesal. “Kau tidak tahu?” “Tidak.” Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar, “Ini Kang Ha-Neul.” Mandy tersentak dan sontak menatap Eun-Ji dan Joo-Won bergantian. Kedua orang itu jadi ikut menatapnya dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu pelayan datang dan menanyakan pesanan. Mandy memalingkan wajah dan berkata dengan suara pelan di telepon, “Oh, kau rupanya. Ada apa?” Mandy mendengar Kang Ha-Neul menarik napas di seberang sana. “Kau sudah lihat fotonya?” Nada suaranya sudah kembali seperti biasa. “Sudah,” sahut Mandy. “Lalu bagaimana? Kau sudah ditanya-tanya?” “Sore ini aku ada jadwal wawancara.” “Min-Ah, kau mau makan apa?” tanya Joo-Won tiba-tiba. Mandy menoleh dan menjawab, “Terserah. Pesankan saja untukku.” “Kau tidak sedang sendirian?” tanya Ha-Neul. “Aku sedang makan bersama teman.” “Hei, kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa membongkar rencana kita.” “Lho, kenapa marah-marah? Kau sendiri tidak bertanya dulu, lagi pula aku kan tidak bilang apa-apa ke siapa pun.” Kang Ha-Neul terdiam sebentar, Ialu berkata, “Malam ini jam tujuh kau harus ke rumah Do-Yun Hyong. Ada yang ingin dibicarakan. Mengerti?” Wajah Mandy berubah kesal, tapi ia berkata, “Ya, ya, mengerti. Tapi rumahnya di mana?” Mandy mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Setelah mencatat alamat Lee Do-Yun seperti yang disebutkan Kang Ha-Neul, ia menutup ponsel dan mendapati Eun-Ji dan Joo-Won sedang memerhatikannya. “Dari siapa?” tanya Joo-Won. “Teman,” sahut Mandy ringan sambil tersenyum kecil. “Makanannya sudah dipesan?” *** Ha-Neul menutup ponselnya sambil melamun. “Kau sudah memintanya datang ke tempatku nanti malam?” tanya Lee Do-Yun membuyarkan lamunannya. “Sudah,” jawabnya pelan. “Kau juga nanti malam jangan datang terlambat,” kata manajernya sambil mengenakan jas. “Ayo, kita pergi makan siang. Mau makan apa?” “Hyong,” panggil Ha-Neul tiba-tiba. “Apa?” “Hyong pernah mencari informasi tentang Shin Min-Ah. Apakah Hyong sudah mengecek dia punya pacar atau tidak?” “Memangnya kenapa?” “Tadi ketika aku meneleponnya, dia sedang bersama laki-laki. Kalau memang dia punya pacar, pacarnya bisa tahu soal kita.” Lee Do-Yun berpikir. “Nanti malam kita bisa menanyakannya langsung pada Min-Ah ssi. Ayolah, kita pergi makan dan setelah itu kau harus bersiap-siap untuk wawancara.” *** “Jadi kau sudah mengatakannya pada wartawan?” tanya Mandy sambil menjepit sepotong daging panggang dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut. Mereka bertiga—Kang Ha-Neul, Lee Do-Yun, dan dia sendiri—sudah berkumpul di apartemen Lee Do-Yun yang besar dan mewah. Ketika Mandy datang, kedua laki-laki itu baru akan mulai memanggang daging. Do-Yun berkata makan malam ini adalah ucapan terima kasihnya atas bantuan Mandy. “Kau bisa baca sendiri beritanya di koran,” sahut Kang Ha-Neul sambil membolak-balikkan potongan daging di atas panggangan. Mandy meringis, lalu menoleh ke arah Lee Do-Yun yang sedang meneguk soju. “Paman tidak makan?” tanyanya ketika melihat pria itu tidak memegang sumpit. Lee Do-Yun meraih sumpit dan berkata, “Min-Ah ssi ...” “Kalian boleh memanggilku Mandy saja,” Mandy menyela dengan cepat dan memandang Lee Do-Yun dan Kang Ha-Neul bergantian. Kang Ha-Neul mendengus pelan, tapi tidak menjawab. Pakr Do-Yun berdeham dan melanjutkan, “Oke, kalau memang kau tidak keberatan. Mandy, sepertinya aku belum pernah bertanya, tapi apa kau punya pacar sekarang ini?” Mandy tersedak mendengar pertanyaan Lee Do-Yun. “Pacar?” Lee Do-Yun cepat-cepat berkata, “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, tapi kalau kau memang punya pacar, itu bisa agak menyulitkan. Kau tidak mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.” Mandy mengangguk-angguk pelan. “Oh,” gumamnya. “Tenang saja, aku tidak punya pacar.” “Siang tadi ketika aku meneleponmu, bukankah kau sedang bersama pacarmu?” Kang Ha-Neul menimpali. Mandy menoleh ke arahnya. “Siang tadi? Aah ... dia bukan pacarku.” “Kedengarannya seperti pacar,” Kang Ha-Neul bersikeras. Mandy menatap kedua laki-laki itu dengan mata disipitkan. “Baiklah,” akhirnya ia berkata. Ia meletakkan sumpitnya di meja. “Karena kalian curiga begitu, aku akan mengatakan yang sebenarnya.” “Dia pacarmu?” tanya Kang Ha-Neul langsung. “Bukan,” Mandy menegaskan. “Aku dan dia memang pernah berhubungan, tapi hubungan itu sudah berakhir delapan bulan yang lalu.” “Lalu hubungan kalian sekarang masih baik?” Kali ini Lee Do-Yun yang bertanya. “Susah mengatakannya,” sahut Mandy agak bingung. Ia bertopang dagu dan mengerutkan kening. “Sebenarnya setelah berpisah, kami tidak bertemu lagi. Kemudian kira-kira sebulan lalu dia mulai menghubungiku. Aku juga tidak tahu apa maunya.” “Itu artinya dia ingin kembali kepadamu,” kata Kang Ha-Neul. “Kenapa kau memutuskan dia waktu itu? Itu juga kalau kami boleh tahu.” Alis Mandy terangkat. “Siapa bilang aku yang memutuskannya? Dia sendiri yang minta putus dariku karena dia tertarik pada wanita lain.” Kedua laki-laki itu menatapnya dengan pandangan aneh. Apakah pandangan itu disebabkan rasa kasihan? Mandy memang merasa dirinya dulu sangat menyedihkan. Pacar yang ia percayai meninggalkannya demi wanita lain. “Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Waktu itu aku memang sedih, tapi aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Banyak sekali ...” Merasa canggung telah membicarakan masalah pribadinya pada kedua pria itu, sebelum Mandy bisa menghentikan dirinya sendiri, bibirnya terus mengoceh, “Mmm, aku suka mendengarkan musik, suka keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan bintang. Jadi waktu itu untuk menenangkan diri, aku makan banyak sekali keripik kentang dan aku sering membeli bunga untuk diriku sendiri. Kedengarannya mungkin aneh, tapi perasaanku langsung jadi lebih baik.” “Lalu kenapa sekarang dia mendekatimu lagi?” desak Kang Ha-Neul. Mandy mengangkat bahu. “Mana aku tahu.” “Mungkinkah dia sudah berpisah dengan wanita yang dulu itu?” tanya Lee Do-Yun. Mandy memiringkan kepala. “Sepertinya belum.” “Bagaimana denganmu?” tanya Kang Ha-Neul sambil menatap Mandy ingin tahu. Mandy membalas tatapannya. “Bagaimana apanya?” “Kau masih mengharapkannya?” Mandy terdiam sejenak, lalu ia mengetukkan sumpitnya ke piring dan berkata, “Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Yang penting sekarang aku tidak punya pacar dan tidak akan menyulitkan kalian berdua. Ayo, makan lagi.” Kang Ha-Neul masih terlihat tidak puas, tapi kali ini Mandy berhasil mengendalikan mulutnya. Bagaimanapun, ia kan baru mengenal kedua laki-laki itu, rasanya tidak nyaman membicarakan masalah pribadinya dengan mereka. Mandy berdeham untuk mengalihkan topik, lalu bertanya, “Lalu rencana selanjutnya apa? Paman akan memotret kami lagi?” Lee Do-Yun menggeleng. “Tidak. Untuk saat ini kau boleh bersantai dulu. Meski kau harus tetap siap seandainya kami tiba-tiba butuh bantuanmu.” “Aku mengerti,” ujar Mandy. “Yang jadi bosnya kan kalian berdua.” “Oh ya, hari Sabtu nanti Ha-Neul akan mengadakan jumpa penggemar untuk mempromosikan album barunya,” kata Lee Do-Yun tiba—tiba. “Kau mau datang?” Mandy tersedak dan terbatuk-batuk. Sumpitnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Mandy memungut sumpit yang jatuh dan mengulurkannya kepada Lee Do-Yun. “Maaf, sepertinya aku makan terlalu buru-buru,” katanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya yang basah karena keringat dingin ke celana jins. “Tidak perlu rakus seperti itu,” kata Kang Ha-Neul. Sama sekali tidak membantu. Mandy tidak mengacuhkannya dan bertanya pada Lee Do-Yun, “Jumpa penggemar? Seperti yang dulu?” Kang Ha-Neul tertegun menatap daging panggangnya. Ia kaget Mandy tahu soal jumpa penggemar terakhir yang dilakukannya sebelum mengambil jeda dari dunia selebriti. “Tidak, tidak seperti dulu,” Lee Do-Yun cepat-cepat menyela sebelum suasana hati Ha-Neul berubah menjadi buruk. “Kali ini tidak seramai dulu. Kami akan membatasi jumlah penonton. Bagaimana? Kau mau datang?” “Oh, begitu? Hmmm ...” Mandy menerima sumpit baru yang diulurkan Lee Do-Yun. “Aku boleh datang?” Kang Ha-Neul mendengus dan meneguk soju-nya, rupanya Lee Do-Yun terlambat menyelamatkan situasi. “Untuk apa kau datang? Memangnya kau termasuk penggemarku?” “Memang bukan,” jawab Mandy terus terang, lalu menjepit daging panggang dan memasukkannya ke mulut. Ia melihat Kang Ha-Neul menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, seolah menantinya memberi alasan. Entah kenapa Mandy merasa tidak nyaman dengan cara Ha-Neul memandangnya itu, ia pun berdecak. “Ya sudah, aku tidak akan datang. Lagi pula aku juga sudah bosan melihatmu. Aneh juga, kenapa teman-temanku begitu menyukaimu ya?” Ha-Neul sudah membuka mulut untuk membalas komentar Mandy, tapi Lee Do-Yun buru-buru menengahi, “Jangan begitu. Aku akan memberikan dua lembar tiket untukmu. Datanglah bersama temanmu hari Sabtu nanti. Kau belum pernah mendengar Ha-Neul menyanyi, kan?” Mandy meringis dan menatap Kang Ha-Neul yang melahap daging panggang dengan kesal. “Sebenarnya pernah. Di televisi ...,” katanya. Setelah beberapa saat Mandy memutuskan untuk melunak, “Bagaimana? Aku boleh datang, tidak? Siapa tahu setelah pergi ke acara itu, aku jadi bisa melihat apa yang tidak kulihat seiama ini. Siapa tahu nantinya aku jadi bisa mengerti kenapa banyak orang menyukaimu.” Kang Ha-Neul menatapnya dan mendesah. “Datang saja kalau kau mau. Tapi jangan macam-macam.” Mandy tersenyum jail, tiba-tiba saja ia merasa menggoda Ha-Neul adalah kegiatan yang menyenangkan, dan berkata, “Baiklah, kau mau aku berpura-pura menjadi penggemarmu yang paling fanatik? Aku bisa berlari ke arahmu dan memelukmu kuat-kuat. Lalu menjerit-jerit memanggil namamu. Ha-Neul Oppa! Aku cinta padamu! Itu yang biasanya dilakukan para penggemarmu, kan?” “Mungkin sebaiknya kau tidak usah datang,” kata Ha-Neul sambil meletakkan sumpitnya dengan keras. “Benar. Jangan datang!” Mandy menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Kau tadi sudah setuju. Tidak boleh ditarik kembali. Lagi pula temanku Han Eun-Ji penggemar beratmu. Aku sudah merasa tidak enak karena harus menyembunyikan masalah ini darinya. Dia sangat ingin mendapatkan tanda tanganmu. Jadi, aku pasti akan mengajaknya ke acara jumpa penggemarmu Sabtu nanti.” Kang Ha-Neul hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, ya, terserah kau sajalah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD