Althaf duduk memandangi Jemma yang tengah diskusi dalam ruang kaca. Ia datang sudah lima belas menit yang lalu, tetap menunggu dengan sabar di ruangan lain yang tepat bersebelahan. Sudut bibir Althaf tertarik tiap kali melihat wanitanya tampak fokus. Duduknya selalu tegap, pandangan matanya teliti dan menundukkan lawan bicaranya, benar-benar cocok sebagai pemimpin perusahaan begini. Sisi mandiri yang seolah mematahkan jika sedang bersama Althaf, Jemma bisa manja juga. Jemma menutup meeting terakhir hampir jam tujuh malam, semua langsung pamit menyisakan ia dan Melati terakhir. Jemma tampak merentangkan tangannya, kemudian memijat tengkuknya. Rambut ia sejak tadi memang kebetulan sedang diikat satu. Althaf akhirnya memutuskan berdiri, mengetuk pintu lebih dulu baru masuk dengan senyum