“Nih,” ujar Anne seraya menyerahkan dompet lipat milik Ben. Suaminya mencengir garing. “Ribet sama kruk, baby. Makanya lupa. Lupa kan ngga inget. Maklumin ya?” “Hmm,” gumam Anne, malas. Bentayga putih itu meluncur pelan meninggalkan halaman rumah, ban menyentuh aspal yang masih basah sisa hujan semalam. Dimas duduk tegak di balik kemudi, matanya fokus ke jalan, sementara Amir sudah lebih dulu memacu motor di depan, mengawal. Ben merendahkan punggung kursi, mengaktifkan penyangga kaki, lalu menyandarkan diri dengan santai. Anne yang duduk di sampingnya, sesekali memalingkan titik pandang dari novel yang ia baca, menatap Ben—memastikan suaminya cukup fit untuk beraktifitas dan dalam suasana hati yang baik-baik saja. “Masih sakit ngga kakinya?” tanya Anne, ada nada khawatir di sana. Waja

