Kesan yang Dia Tinggalkan

1046 Words
Hari pertamaku di kantor Polsek Sukatani dimulai lebih cepat dari biasanya. Pagi-pagi benar aku sudah duduk di ruang Kapolsek, mengenakan seragam rapi dengan lencana baru mengilap di d**a kiri. Ruangan ini cukup luas, berpendingin udara, dengan kaca besar yang menghadap ke halaman utama. Masih tercium aroma cat baru dan lem kayu dari meja kerja yang belum lama diganti. Satu demi satu anggota datang menyalami, mengenalkan diri, mengucapkan selamat, dan menyelipkan sedikit harapan. Harapan untuk perubahan, peningkatan, atau paling tidak… pemimpin yang tidak “asal tanda tangan”. Aku hanya mengangguk, mencatat nama-nama dan jabatan mereka dalam pikiranku. Tapi satu nama, satu wajah, sudah terekam dengan sangat jelas sejak kemarin: Kalya Prameswari. Jam sembilan tepat, rapat perdana digelar. Aku duduk di kursi kepala meja panjang. Para perwira, termasuk Kanit Reskrim, Kanit Lantas, dan Kanit Intel, sudah duduk berjejer. Kalya duduk agak ke ujung, tapi tetap mencolok. Seragamnya terpasang rapi, rambutnya yang pendek, tapi indah menambah kesan segar di ruangan yang biasanya penuh aura formal dan kaku. Rapat dimulai. Aku memaparkan rencana kerja, beberapa program unggulan, dan target selama enam bulan ke depan. Wajah-wajah di sekitarku mengangguk, mencatat, atau hanya berpura-pura peduli seperti biasanya. Aku sudah terbiasa. Sampai suara itu terdengar. “Maaf izin menyela, Pak Kapolsek.” Semua menoleh. Kalya mengangkat tangan. “Untuk program penguatan unit Perlindungan Perempuan dan Anak, menurut saya sebaiknya tidak hanya pendekatan kuratif, tapi juga preventif." Aku menatapnya dengan lekat. "Saya pernah menangani kasus di Polda, di mana kami menggandeng puskesmas dan karang taruna untuk edukasi soal kekerasan dalam pacaran.” Suara Kalya begitu lantang. Tegas. Matanya menatap langsung ke arahku tanpa ragu. Aku terdiam sejenak. Bahkan Kanit Intel di sebelahku melirik Kalya dengan heran. Seorang polwan muda baru saja ‘mengganggu’ alur rapat? Tapi jujur, aku... kagum. “Teruskan, Brigadir Kalya,” kataku. Ia melanjutkan penjelasan dengan cepat dan padat. Menyebut data, pengalaman, dan bahkan menyarankan pelatihan untuk anggota Polsek agar lebih peka saat menangani korban perempuan. Semua terkesan. Aku... terkesima. Setelah dia duduk kembali, aku mendapati diriku menatapnya sedikit lebih lama dari seharusnya. Bukan hanya karena dia cerdas. Tapi karena energinya… hidup. Segar. Penuh semangat. Sementara Nadira—istri yang menemaniku selama lebih dari sepuluh tahun—terasa semakin jauh dari dunia yang kini kutinggali. *** Selesai rapat, aku masuk ke ruangan. Baru saja duduk, pintu diketuk pelan. Tok. Tok. “Masuk.” Pintu terbuka dan Kalya muncul. Ia berdiri di ambang pintu sembari mengangkat berkas. “Ini notulen rapat dan draft usulan kegiatan unit PPA, Pak Kapolsek.” Aku mengangguk. “Letakkan saja di meja.” Kalya berjalan masuk. Langkahnya ringan tapi yakin. Aku memperhatikan cara ia melangkah, membawa map, lalu berdiri tepat di depanku. Jantungku berdegup tak karuan. Seperti ada sesuatu yang muncul dari dalam diri yang sudah lama terpendam. “Kalya…” Aku memanggil sebelum sempat berpikir. Ia menoleh. “Iya, Pak?” “Kamu... selalu seberani itu bicara dalam rapat?” Ia tersenyum kecil, tipis tapi menggoda. “Kalau memang penting dan ada yang perlu disampaikan, kenapa harus diam?” Aku terdiam. Jawaban itu seolah menampar bayangan Nadira di rumah. Selama bertahun-tahun, Nadira tak pernah menyela. Bahkan untuk hal sepele seperti warna cat rumah pun ia menyerahkan padaku. Tapi Kalya? Baru dua hari kenal, dia sudah berani menyanggah, menyarankan, bahkan mengubah arah diskusi. Benar-benar berbeda. “Apa saya terlalu lancang tadi, Pak?” tanyanya. Aku menggeleng cepat. “Justru saya senang. Kamu punya energi. Itu penting.” Kalya tersenyum lagi, lalu berjalan mendekat sedikit. Seolah-olah ingin menunjuk satu bagian di notulen, padahal sejujurnya tidak perlu. Aroma parfumnya menyusup ke hidungku. Lembut, segar, dan… berbeda dari aroma sabun bayi yang biasa dipakai Nadira. Ya Tuhan, aku bisa gila. “Kamu pernah jadi staf pribadi pejabat sebelumnya?” tanyaku berusaha mengalihkan pikiran. “Pernah tapi cuma sebentar. Saya lebih suka kerja lapangan.” Kalya duduk di kursi depan meja dan menyilangkan kaki. Lalu membuka map sambil menjelaskan dengan santai. Saat ia membungkuk, kerah seragamnya menyingkap sedikit kulit lehernya yang putih mulus. Aku langsung mengalihkan pandangan, tapi detik itu… sesuatu dalam diriku goyah. Aku tak tahan, benar-benar tak tahan. “Kamu betah di Sukatani?” tanyaku mencoba terdengar biasa. Ia tertawa pelan. “Betah sih belum. Tapi... kalau lingkungannya menyenangkan, siapa tau.” Aku mengangguk pelan. “Pak Kapolsek sendiri, betah?” lanjutnya sambil menatapku tajam. Pertanyaan itu seharusnya sederhana. Tapi sorot matanya... membuat maknanya terasa ganda. “Aku masih adaptasi,” jawabku lirih. Ia tersenyum simpul. “Saya juga.” Kalya berdiri pelan, membereskan mapnya, tapi matanya tak lepas dari mataku. “Kalau ada yang bisa saya bantu... dalam penyesuaian jabatan. Atau hal-hal personal, jangan ragu bilang, ya Pak.” Nada suaranya sedikit berbeda. Ada jeda di kata “personal” yang membuat ruang sempit itu terasa semakin panas. Aku mengangguk, hampir tak sadar. “Siap,” jawabku pelan. Dan ia keluar ruangan, menutup pintu perlahan. Meninggalkan aroma parfum dan ribuan pikiran dalam kepalaku. *** Sepanjang sore, pikiranku tak bisa tenang. Kalya seakan menanam sesuatu dalam pikiranku—sebuah kehadiran yang tak bisa kuhindari. Di rumah, Nadira menungguku dengan teh manis dan kue serabi. Rumah baru sudah cukup rapi. Tapi saat aku duduk di meja makan, kutatap wajah istriku… dengan hati yang kosong. “Mau disiapkan air hangat, Mas?” “Enggak usah,” jawabku cepat. Nadira duduk di seberang, mengenakan daster panjang dengan motif bunga kecil. Rambutnya disembunyikan rapat di balik kerudung. Tidak ada parfum, tidak ada make up, hanya Nadira... polos seperti biasa. “Kamu tadi ke kantor?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ada siapa aja?” lanjutnya. Pertanyaan sederhana, tapi entah kenapa aku merasa bersalah. Lalu aku jawab singkat, “Rapat biasa.” Ia mengangguk dan tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin. Seperti dua tahun lalu. Seperti sepuluh tahun lalu. Senyum yang dulu menenangkan, tapi kini terasa hambar. Dan aku tahu, aku sedang berada di ambang sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Tapi entah kenapa... aku tak ingin kembali. Saat malam menjelang dan Nadira sudah tidur di sampingku, ponsel kembali bergetar. Sebuah pesan w******p masuk. Kalya Prameswari: “Besok saya bikin laporan harian langsung ke ruangan, ya, Pak. Sekalian tanya-tanya soal... penyesuaian pribadi yang Bapak maksud tadi siang 😊” Tanganku gemetar sesaat. Aku menoleh ke arah Nadira yang tertidur lelap. Lalu jari-jariku bergerak. “Silakan. Saya tunggu, Kalya.” Dan entah kenapa... aku tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD