"Pak Kapolsek, kendaraan sudah siap," lapor Aiptu Riyan sambil memberikan kunci mobil patroli.
"Jadwal patroli malam ke wilayah barat dan pemukiman Griya Lestari, ya, Pak."
Aku menyambut kunci itu dengan anggukan singkat. "Siapkan juga anggota di Pos 3, saya dan Kalya ikut turun."
Sekilas aku melihat tatapan Riyan yang sedikit terkejut.
"Kalya?"
Aku mengangguk. Dalam hati mungkin Aiptu Riyan bertanya kenapa aku memilih seorang polwan untuk patroli malam seperti ini. Tapi dia cukup profesional untuk tidak mengucapkannya.
Tak lama, Kalya datang dengan seragam dinas lengkap. Rambut diikat rapi, namun lipstiknya tetap merah muda seperti biasa. Senyum di wajahnya itu... menyebalkan, tapi entah kenapa aku tak bisa menolaknya.
"Siap, Pak. Malam ini kita berduaan?" godanya pelan saat sudah berdiri di dekatku.
Aku menahan senyum, mencoba tetap menjaga wibawa. "Ini dinas, Kalya."
"Tapi kan dinasnya bareng Kapolsek. Lumayan, bisa curi waktu."
Aku pura-pura tak dengar, lalu berjalan lebih dulu menuju mobil patroli.
Kami menyusuri jalan-jalan kecil di wilayah perumahan padat. Lampu jalan yang remang, warung kopi 24 jam yang masih ramai. Dan segerombol pemuda yang langsung bubar ketika sirene mobil kami nyalakan sebentar.
"Waktu masih menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh. Patroli aman sejauh ini, Pak," Kalya melirikku sambil mencatat di buku log.
"Mau lanjut ke pemukiman elit atau... istirahat sebentar?"
Aku menoleh. "Maksud kamu?"
"Ada kafe kopi yang buka sampai jam satu dini hari. Nggak jauh dari sini. Tempatnya tenang. Di dalamnya ada ruang tertutup. Buat ngobrol-ngobrol santai."
Aku menimbang.
Sejujurnya... aku tidak lelah. Tapi pikiran dan hasratku-ya, aku tahu ini salah-ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Tanpa hiruk pikuk kantor. Tanpa pandangan orang.
"Oke. Tapi cuma sebentar."
Kalya tersenyum lebar. "Siap, Komandan."
***
Kafe itu berada di sisi jalan yang agak tersembunyi. Lampunya temaram. Bangkunya dari kayu jati tua, dengan dekorasi vintage dan musik instrumental jazz yang mengalun pelan.
Kami memilih tempat duduk di sudut belakang, agak tertutup oleh partisi kayu.
Pelayan datang membawa dua gelas kopi robusta. Kalya membuka tudung kecil di gelasnya, menghirup aromanya sambil menatapku.
"Pak Damar..." suaranya melunak. "Saya tuh senang kalau bisa ngobrol kayak gini. Bapak beda."
"Beda gimana?"
"Ya... dewasa. Tenang. Matang. Beda banget dari cowok-cowok seumuran saya yang isinya cuma becandaan dan pamer motor."
Aku tertawa kecil, "Kamu juga beda. Banyak anggota baru biasanya kaku dan patuh perintah. Tapi kamu-"
"-nekat dan berani, ya?" potongnya sambil tertawa manja. "Emang, sih. Tapi justru itu yang bikin saya cepat nyambung sama Bapak."
Ia menyentuh lenganku pelan.
Refleks, aku menegang.
Sentuhan itu... ringan. Tapi cukup untuk membuat napasku terasa hangat. Kalya tidak menarik tangannya. Justru semakin menatapku penuh arti.
"Bapak sendirian terus? Di rumah maksud saya," bisiknya.
Aku menatap kosong ke arah cangkir. "Iya. Bisa dibilang begitu."
"Istri Bapak nggak kangen?"
Aku menelan ludah. "Dia... orang rumahan. Beda dunia."
Kalya mengangguk. "Sayang, ya. Padahal Bapak ini keren banget. Sayang kalau nggak dihargai."
Tangannya masih di lenganku. Aku tidak menyingkirkannya.
Lalu, ia mendekat.
Wajahnya hanya sejengkal dari wajahku dengan mata yang berbinar. Nafasnya terasa dan membuatku semakin menegang.
Jantungku berdetak tak karuan. Sentuhan itu begitu lembut.
Seketika dunia luar menghilang. Dan hanya ada dia, aku, dan keheningan yang membuat semuanya terasa salah... tapi menggoda.
Tanganku bergerak menyentuh tangannya. Dan ia tak menghindar.
"Kalya..." bisikku pelan.
"Hm?"
"Kalau ada yang lihat..."
"Tenang aja," ia tersenyum kecil. "Mereka pikir ini patroli."
Tepat saat itu-suara pintu kayu kecil terbuka di kejauhan.
Aku buru-buru menarik tubuhku sedikit menjauh. Kalya pun cepat-cepat mengganti posisi duduknya.
Seorang pria berpakaian dinas reserse tanpa atribut lengkap melongok ke dalam, berdiri sejenak di dekat pintu masuk kafe. Matanya menyapu ruangan. Lalu berhenti beberapa detik pada kami berdua.
Deg.
Itu Bripka Tegar. Salah satu anggota senior yang terkenal pendiam tapi sangat teliti.
Ia tak mendekat. Hanya menatap sekilas, lalu mengangguk kecil, dan pergi.
Kami terdiam. Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Bukan karena Kalya. Tapi karena... rasa takut.
"Dia lihat," gumamku lirih.
Kalya berusaha tenang. "Biarin aja. Dia nggak akan ngomong."
"Tegar itu bukan orang sembarangan. Dia orang lama. Mata dan telinganya tajam."
Kalya menyentuhku lagi, lebih pelan.
"Kalau ketahuan pun, tinggal bilang kita mampir sebentar buat makan. Nggak salah, kan?"
Tapi dalam hati aku tahu, kami sudah salah.
Bukan soal mampir. Bukan soal kopi.
Tapi soal niat. Soal cara aku memandang Kalya... dan bagaimana dia melihatku.
***
Dalam perjalanan pulang ke Polsek, suasana mobil hening.
Kalya bersandar, sesekali mengusap bibirnya dengan tisu, menyamarkan lipstik yang sudah agak luntur beaks sentuhanku tadi.
"Saya suka malam ini," bisiknya. "Bisa kita ulangi, Pak?"
Aku tak menjawab.
Kepalaku penuh dengan wajah Tegar. Matanya. Tatapan curiga itu... seperti pisau yang menggantung di leher.
Sesampainya di halaman Polsek, aku turun lebih dulu dan hendak masuk ke ruangan. Tapi langkahku terhenti saat melihat kertas kecil terselip di sela papan informasi internal.
Sebuah pesan tulisan tangan:
"Kapolsek seharusnya memberi contoh, bukan pelanggaran."
Jantungku berdetak kencang.
Mataku langsung menyapu sekitar, tapi tak ada siapa-siapa. Tanganku bergetar saat meremas kertas itu.
Siapa yang melihat?
Apa ini peringatan dari Tegar?
Dan... apa yang akan terjadi selanjutnya?