“Pengantinnya mana? Kok tidak dikenalin?”
Sekar memasang senyum masam. Akad baru saja selesai dan sungguh merasa lega karena keluarganya tidak jadi menanggung malu. Ya—meski masalah sebenarnya belum selesai.
“Sedang memperbaiki riasan. Sebentar lagi datang.”
Baru saja Sekar selesai menjawab, tiba-tiba muncul Taram yang saat itu memakai tuxedo dengan kancing terberai. Pria itu melangkah mendekat dengan begitu elegan seolah tuan muda kaya raya. Sekar saja sampai pangling dibuatnya.
“Ini ... pengganti Jodi Diningrat?” wanita memakai baju kurung berwarna hijau itu menyeletuk. Begitu saja menatap Taram mulai ujung kaki sampai ujung kepala lalu menggeleng tak percaya. “dapat pengganti di mana sekar? Dari keluarga terhormat mana?”
Sekar tersenyum masam. Sedikit menggigit bibir untuk menyembunyikan kesal karena di situasi ini, Zelaya malah tidak muncul ke permukaan. Entah berada di mana anak tiri sialannya itu sekarang?
“Keluarga jauh, kebetulan didesak menikah juga oleh keluarganya.”
Taram yang merupakan topik pembicaraan hanya tersenyum datar.
“Pasti lebih kaya dari Jodi Diningrat ‘kan? Kalau tidak mana mungkin kamu mau ambil? Meski Laya hanya anak tiri, tetap saja pria ini menantu keluarga Sekar Narendra.”
“Ya begitulah,” Sekar mulai kehabisan akal. Sepertinya mengakhiri semua ini sekarang lebih baik apalagi cukup wanita itu saja yang dia bungkam dengan kepalsuan ini. Tentu dia tidak akan sudi wanita bernama Rima itu mencaci dan menghina dia di tengah perkumpulan teman sosialitanya.
“Ah dan aku rasa perkenalan ini cukup sampai di sini karena pengantinnya harus beristirahat.” Sekar memegang lengan Taram, “ayo,” Sekar menarik Taram menjauh.
Berhenti sampai di depan kamar Bima Narendra yang saat ini terbaring kaku—memastikan tidak ada siapa pun di sekitar tempat itu.
“Mana Zelaya?” Sekar menyentak. “bisa-bisanya gadis itu tidak bertanggung jawab dan membiarkanku membereskan ini sendirian?”
Taram mengangguk kilas. “Saya juga tidak tahu. Saat masuk ke kamar, Nona sudah tidak ada.”
“Sialan!” Sekar mengumpat kesal. “ya sudah. Kembali ke tempatmu semula. Biar wanita itu kuberi pelajaran setimpal!”
***
Langit sore berwarna jingga ketika Zelaya melangkah masuk ke rumah yang sebenarnya tidak pernah bisa dia sebut ‘rumah’. Gaun sederhana yang ia kenakan masih menyimpan kesedihan teramat dalam walau ada lega yang tak dapat dikata mengingat nama terhormat keluarga ini tak sampai dia coreng dengan arang hitam.
Siang tadi, masih dengan rasa tak sanggup menerima kenyataan bahwa Jodi Diningrat telah lari dari pernikahan dan mencampakkannya begitu saja, membuat ia kabur dari rumah. Nekat membuka pintu di halaman belakang kemudian seharian meratapi nasib di apartemen yang 1 tahun lalu dia beli dari hasil menabung.
Laya tahu tindakannya akan membuat Sekar murka. Namun saat itu dia benar-benar kalut dan sedikitnya, rasa bersalah karena membiarkan Taram menghadapi ini sendirian pun membuat ia lekas bergegas.
Sedikit terlambat juga sepertinya, karena dia baru sadar bahwa langit sebentar lagi gelap.
Zelaya menghentikan langkah. Suasana di dalam rumah kali ini terasa berbeda—dingin dan menekan. Apalagi di depan sana, Sekar sudah menunggunya. Duduk tegak dengan wajah tanpa senyum—seperti biasa. Bahkan tatapan sinis yang selalu wanita itu tunjukkan serasa menghunjam jantung yang bahkan masih berdarah-darah.
“Ibu pikir kamu sudah mati?” ucap Sekar pelan, namun penuh tekanan. Membuat Zelaya yang tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan mengambil langkah mendekat dengan ludah yang terasa mencekik tenggorokan.
“Maaf, Bu. Aku hanya—“
Prang!
Vas bunga di atas meja terlempar. Hampir saja menghantam tubuh Laya yang saat itu mengerut takut. Wanita kejam itu, memang sangat tahu bagaimana menunjukkan otoriternya sebagai penguasa rumah.
“Para tamu bertanya di mana pengantinnya, di mana pengganti pengantinnya dan Ibu yang harus membereskan semua masalahnya.” Sekar berdiri. Perlahan mendekati Laya. “dasar tidak tahu terima kasih!”
Zelaya mengepalkan tangan, berusaha menahan emosi kala kalimat itu lagi-lagi Sekar ucapkan. Ya, dia tahu posisinya sebagai anak tiri. Dia tahu bahwa sebelum ayahnya menikahi Sekar, dia hannyalah gadis biasa yang tidak memiliki keluarga terhormat. Tapi haruskah nama terhormat itu menjadi belati yang terus menusuk?
“Aku minta maaf, Bu. Aku mengakui kesalahanku dan tidak akan mengulangi.”
Sekar mencebik. “Nyaris saja nama terhormat keluargaku dicaci maki karena kebodohanmu.” Selanjutnya, kalimat jahat pun kembali terlontar dari sela bibirnya yang berpoles lipstik merah terang. “sekarang, ceraikan Taram! Aku tidak mau keluarga ini punya menantu bodoh dan rendahan.”
“A—apa?!” dunia Laya mendadak suram. “bagaimana bisa semudah itu, Bu? Kita sudah membuat Taram menjadi korban dan ini—“
“Taram tahu bahwa posisinya hanya sebagai pengganti. Tentu dia harus sadar diri bahwa semua ini hanya sandiwara. Memangnya apa lagi?” Sekar tertawa sinis. “pria kaku itu juga tidak perlu kompensasi dan tetap bekerja di rumah ini, aku rasa pria itu akan mengerti.”
‘Ibu jahat’
Rasa ingin mengucapkan dua patah kata itu, tetapi keberanian Laya terlalu dalam terkubur. Pada akhirnya dia hanya bisa menunduk. Berpikir beberapa saat, sampai sebuah keberanian untuk membela Taram muncul.
“Beri aku waktu, Bu. Setidaknya sampai situasi ini membaik.”
Alis Sekar terangkat sebelah. “Beri kamu waktu? Maksudmu kamu tidak mau menceraikan pengawal rendahan itu? Kamu sudah gila hah?!” Sekar benar-benar murka. Tangan lentiknya bahkan sampai terangkat dan,
Plak!
Sebuah tamparan membuat tubuh Laya terjerembap—jatuh meringkuk di lantai keluarga Narendra yang dingin menusuk tulang.
“Ceraikan Taram, Zelaya!”
Zelaya menatap sekar dengan air mata mulai berderai. Di mata wanita itu, semua orang di rumah ini memang layaknya benda yang bisa diatur sesuka hatinya. “Aku tidak bisa menceriakan Taram sekarang, Bu. Tolong pahami sedikit maksudku. Bagaimana pun, Taram sudah menyelamatkan nama baik keluarga ini.”
Ekspresi sekar langsung berubah. Rahangnya mengeras, tegas saat menekan rahang Laya dengan keras. “Kamu benar-benar tidak tahu diri sekarang. Apa kamu lupa, bahwa selama kamu tinggal di rumah ini kamu mengikuti aturanku, Zelaya?”
Sunyi. Tegang.
Sekar menatap Zelaya lama, seolah mencoba mencari tunduk di wajah gadis itu. Namun yang ia temukan justru teguh. Untuk kali ini, gadis itu tidak mau menurut dan sudah menjadi aturan keluarga bahwa siapa pun yang menentangnya harus siap menerima hukuman.
“Baik,” ucap Sekar dingin dan tanpa emosi. “Kalau begitu, kamu tidak perlu tinggal di sini lagi.”
Zelaya tertegun. “Maksud Ibu...?”
“Aku mengusirmu,” potong Sekar tanpa ragu. “Keluar dari rumah ini sekarang juga. Bawa pergi suamimu yang ‘tidak berguna’ itu dan jangan pernah kembali sebelum kamu menceraikan aib bagi keluargaku!”
Hati Zelaya terasa diremas.
Tentu dia bisa meninggalkan rumah ini tapi bagaimana dengan ayahnya?
“Kamu tidak perlu memikirkan ayahmu dan cukup pikirkan kesalahan yang kamu perbuat!”
Zelaya beranjak.
Melangkah keluar, meninggalkan rumah yang kini tak lagi menerimanya karena ulah si k*****t Jodi Diningrat. Namun, untuk pertama kalinya dia justru tidak merasa sendirian walau kehilangan tempat pulang.
Taram ....
Dia pastikan bertanggung jawab walau tak seberapa.