Epilog

1565 Words

  Aku mendengar pintu berderit terbuka. Angin, pikirku. Tetapi, di sanalah dirinya, dengan sebuah buket bunga di tangannya, serta sebuah senyuman yang menggoda, datang untuk mengajakku tinggal bersamanya selamanya, dalam kubangan dosa. (Elma Jacobs, 1814) -------------------------------------------------------------------------- "Huwaaanggg!!!!!" Sebastian menghela nafas dan mengerang. Hari sudah larut malam, mungkin menjelang subuh di kediaman Earl of Clarendon. Tetapi putri kecilnya, Elise, memang tidak mengenal waktu. "5... 4... 3... 2...." Sebastian mulai menghitung dalam hati. Benar saja, sejurus kemudian, bersamaan dengan angka satu yang diucapkannya dalam hati, terdengar derap langkah kaki dan pintu kamarnya dibuka lebar-lebar. Lebih tepatnya, didobrak keras-keras. "Papa!" pr

Great novels start here

Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD