6 | Namanya Juga Mantan

1823 Words
“Mas Banyu menolak datang, Pak.” Bhaga membuang napasnya dengan kasar. Ia sudah hafal tabiat sang putra. Sejujurnya, ia hanya ingin memastikan saja mengenai kabar yang ia dapat dari bawahannya. Pria itu mengurut kening, lalu mendongak demi menatap ajudan setianya dengan saksama. “Kalau begitu, cari tahu sendiri. Kumpulan sebanyak mungkin informasi dan laporkan padaku besok pagi,” titahnya. “Siap, Pak. Izin, undur diri,” sahut Sandyo. Bhaga hanya mengangguk lemah. Ia tak tahu sampai kapan hubungannya dengan Banyu mulai renggang seperti ini. Namun, jika apa yang ia dengar mengenai sang putra itu benar, maka ia tak akan lagi ambil pusing mengenai hal itu. Fokusnya hanya akan tertuju pada cucu. Itu saja. Sementara itu di bengkel, Banyu sudah bersiap untuk menjemput Bumi. Ia sudah izin pada atasannya jika mulai hari ini, waktu istirahat kerjanya akan ia gunakan untuk menjemput sang putra. Dengan motornya, pria itu melaju menuju ke sekolah paud di mana Bumi menimba ilmu. Namun, ketika sampai di sana, rupanya Wening juga sudah menunggu. Keduanya saling tatap tanpa berniat untuk menyapa. Ketika kemudian, bell sekolah berbunyi tanda sekolah usai. Gerbang sekolah yang semula tenang mendadak riuh oleh tawa khas anak-anak yang berhamburan keluar. Di antara kerumunan kecil itu, Bumi muncul dengan tas punggung pahlawan supernya yang bergoyang mengikuti langkah larinya yang penuh semangat. Langkah bocah itu seketika melambat tepat di tengah-tengah antara Banyu dan Wening. Ia berdiri mematung, menoleh ke kiri ke arah motor gagah papanya, lalu ke kanan ke arah mobil mamanya yang nyaman. Matanya yang sipit berbinar, memancarkan binar kebahagiaan yang jarang sekali terlihat seutuh ini. “Papa! Mama!” teriaknya riang, tangannya melambai antusias. Wening segera melangkah maju, mencoba mengamankan situasi sebelum perhatian orang tua murid lain tertuju pada mereka. Ia berlutut di depan Bumi, merapikan helai rambut putranya yang sedikit berantakan karena keringat. “Ayo, Sayang, kita pulang. Mama udah siapkan camilan kesukaan Bumi di rumah,” ajak Wening dengan nada lembut tapi mengandung ketegasan yang tak ingin dibantah. Namun, Bumi tidak langsung menyambut uluran tangan Wening. Ia justru menoleh pada Banyu yang masih bersandar di jok motor dengan tangan bersedekap, menatap mereka dengan sorot mata yang sulit dibaca. “Bumi mau pulang sama Papa, Ma. Mau naik motor lagi,” pinta Bumi dengan nada merajuk yang kental. Wening menghela napas, matanya sekilas melirik ke arah Banyu dengan tatapan dingin yang masih menyimpan sisa-sisa kemarahan tadi pagi. “Bumi, di rumah lebih enak. Ada AC, Bumi nggak kepanasan. Lagi pula, Mama sendirian di rumah, nggak ada temannya kalau Bumi ikut Papa,” kata Wening mencoba mengiba. Wening mencoba menggunakan taktik emosional yang biasanya selalu berhasil melunakkan hati Bumi. Ia berharap putranya akan merasa kasihan dan luluh. Namun, jawaban yang meluncur dari bibir mungil Bumi justru membuat Wening terhenyak, sekaligus menusuk ulu hati Banyu. “Tapi, kan, di rumah ada Opa, ada Oma, terus ada Tante Aditi juga yang jagain Mama. Mama punya banyak teman,” ucap Bumi polos sambil menatap Wening lurus-lurus. “Papa yang nggak ada temannya, Ma. Papa sendirian di sana. Bumi mau temenin Papa biar Papa nggak sedih,” imbuhnya. Suasana di depan gerbang sekolah itu mendadak terasa senyap bagi Banyu dan Wening. Logika polos seorang anak kecil baru saja meruntuhkan ego orang dewasa yang selama lima tahun ini saling membangun benteng. Banyu merasa dadanya sesak, kenyataan bahwa putranya begitu memikirkannya padahal mereka baru saja bertemu, membuatnya merasa sangat tak berdaya sekaligus dicintai secara luar biasa. Wening terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia menatap Bumi, lalu beralih menatap Banyu yang kini menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai memanas. Ada sebuah kebenaran pahit dalam ucapan Bumi yang tak bisa ia bantah, bahwa selama ini, memang hanya Banyu yang benar-benar sendirian, setahunya. Tanpa menunggu reaksi Wening, Bumi memeluknya dengan erat. Lengan kecilnya melingkar di leher Wening, disusul ciuman hangat di pipi wanita itu. “Bumi ikut Papa, ya, Ma,” kata bocah kecil itu kemudian. Setelah melepas pelukan, Bumi berlari ke arah Banyu yang kini sudah menegakkan punggungnya. Ia tersenyum, lalu menyambut Bumi dengan tangan yang terulur dan dicium takzim. “Ayo, Pa. Kita pulang,” katanya. Banyu mengangguk lemah. Ia memasangkan helm warna biru ke kepala Bumi dengan hati-hati. Lalu membantunya naik ke tangki kendaraannya. Sebelum benar-benar berlalu, ia meminta Bumi pamit pada Wening. “Ma, Bumi sama Papa duluan, ya. Da Mama ….” Banyu ikut menoleh sebelum akhirnya melajukan kendaraan itu meninggalkan halaman sekolah Bumi. Ada sebersit rasa yang tak ingin ia akui mengendap dalam dadanya. Entah sisa cinta yang dulu dipaksa mati, atau hanya iba yang mendadak menggerogoti hati. Sementara Wening hanya bisa melambai lemah. Ia tak menyangka jika keputusannya mempertemukan Bumi dan Banyu jadi Boomerang untuk dirinya sendiri. Wanita itu mendesah pelan, lalu menunduk dalam. “Harusnya nggak gini, kan?” *** Sore itu, langit di atas kontrakan Banyu berubah menjadi kelabu pekat. Hujan pasti akan datang sebentar lagi. Banyu turun dari motornya, menenteng kantong plastik berisi sayur kangkung dan ayam goreng yang baru ia beli tadi. Di depannya, Bumi melompat turun dengan wajah ceria, masih mengenakan jaket kecilnya. Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu kayu kontrakan. Di sana, Wening sudah berdiri menyandar di dinding, tampak gelisah sambil meremas tali tasnya. "Mama!" seru Bumi kaget sekaligus senang. "Mama ngapain ke sini?" tanya bocah kecil itu. Wening langsung berjongkok, memeluk putranya dengan erat seperti telah Mama tak bertemu. Padahal baru siang tadi berpisah. "Mama kangen. Mama nggak bisa kalau nggak ada Bumi di rumah. Sepi banget, Sayang,” katanya. Wening mendongak, menatap Banyu yang berdiri mematung dengan tatapan yang masih sedingin es. "Nyu, aku jemput Bumi, ya? Dia harus istirahat di rumah yang bener. Kasihan kalau harus di sini terus,” katanya kemudian. Bumi langsung menggeleng kuat, tangannya malah makin erat memegang ujung kaos Banyu. "Nggak mau, Ma. Bumi mau di sini sama Papa." Wening hendak membuka mulut untuk membujuk lagi, tapi tiba-tiba suara guntur menggelegar dahsyat. Disusul dengan guyuran hujan yang langsung tumpah begitu saja. Dalam hitungan detik, halaman kontrakan yang semula berdebu kini berubah menjadi tetesan air yang berisik. Banyu melirik Wening yang mulai terkena percikan air hujan di teras sempit itu. Ia menghela napas panjang, lalu merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci. "Masuk dulu," ujar Banyu pendek, tanpa menoleh ke arah Wening. "Nyu, aku cuma mau–" "Hujannya deras, Wen. Jangan keras kepala," potong Banyu, suaranya datar, tapi jelas tak terbantah. "Masuk. Kita ngobrol di dalam aja biar nggak basah semua." Banyu membuka pintu, membiarkan Bumi berlari masuk lebih dulu ke atas ambal. Wening sempat ragu sejenak, menatap hujan yang kian menggila di belakangnya, sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke dalam ruang kecil milik pria yang pernah sangat ia cintai itu. Suasana di dalam mendadak terasa sempit dan pengap oleh aroma hujan yang bertemu dengan wangi pengharum ruangan. Banyu meletakkan plastik sayurannya di meja kayu kecil, lalu berbalik menatap Wening dengan tangan bersedekap. "Duduk aja. Di sini bersih, walaupun sempit. Nggak kayak di rumahmu," celetuk Banyu santai tapi menusuk. Wening tak menjawab, tapi kemudian ia mengambil duduk di ambal bersama Bumi yang sudah terlihat nyaman di sana. Sementara Banyu memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri usai menyiapkan makanan yang ia beli tadi di piring. Saat itu, Wening kembali membujuk Bumi yang tampak ogah-ogahan ikut dengannya. “Kamu nggak kasian sama Mama, Sayang? Mama sendirian, loh. Papa, kan, udah biasa sendiri, Mama sama kamu terus,” katanya. “Mama manja, ih. Kalau Mama di kantor, Bumi, kan, juga sendirian di rumah. Bumi mau di sini aja, Ma. Bumi masih mau main sama Papa.” Wening membuang napas dengan kasar. Sepertinya, susah membujuk sang putra yang memang selama ini terus merindukan Papanya. Tak lama, Banyu keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengenakan celana denim selutut tanpa atasan. Wening yang tanpa sengaja mendongak mendadak berdebar. Ia memang sudah pernah melihat tubuh itu sejak lama, tapi waktu lima tahun itu benar-benar membuat perubahan besar. Mendadak wanita itu jadi kikuk. Wening menunduk dengan wajah yang memerah hingga ke telinga. Sementara Banyu mengambil kaus dan segera membawa piring berisi sayur dan nasi serta lauk yang tadi ia beli untuk makan Bumi. Banyu mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, lalu menyampirkan selembar kaos hitam yang tadi ia ambil ke bahunya, meski belum berniat memakainya. Ia duduk bersila di atas ambal, tepat di depan Bumi yang sudah menunggu dengan antusias. Di tangannya, sebuah piring berisi nasi hangat, kangkung tumis yang masih mengepul, dan potongan ayam goreng sudah siap. Wening yang duduk di sudut ambal berusaha keras mengalihkan pandangan. Namun, ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Banyu dengan telaten menyendokkan nasi yang sudah bercampur sayur hijau ke mulut Bumi. "Ayo, buka mulutnya yang lebar, Jagoan," perintah Banyu santai. Bumi menyambut suapan itu dengan lahap. Tidak ada drama, tidak ada aksi tutup mulut seperti yang biasa Wening hadapi setiap hari di rumah. "Loh, Bumi ... kok, mau makan sayurnya? Biasanya, kan, cuma mau ayamnya aja,” tanya Wening tak percaya. Bumi mengunyah dengan semangat, lalu menyahut sambil tersenyum lebar hingga matanya makin menyipit. "Sekarang Bumi suka sayur, Ma! Kata Papa, kalau mau kuat kayak pahlawan, harus makan kangkung juga,” jawabnya polos. Wening hanya bisa mengangguk lemah, ada rasa takjub sekaligus iri melihat betapa besarnya pengaruh Banyu hanya dalam waktu singkat. Ia kembali menunduk, meremas jemarinya sendiri untuk mengalihkan rasa canggung yang makin menjadi-jadi. Di luar, suara hujan berubah menjadi deru yang memekakkan telinga. Air seperti tumpah dari langit, membuat jarak pandang ke halaman kontrakan benar-benar tertutup kabut putih. Suasana di dalam ruangan yang sempit itu mendadak terasa lebih intim dan personal. Bumi yang sudah selesai makan, beranjak dari duduknya. Ia melihat ke arah jendela yang bergetar tertiup angin, lalu menatap Mamanya dengan mata polosnya. "Ma, hujannya serem banget. Jalannya pasti banjir. Mendingan Mama nginep di sini aja malam ini sama Bumi dan Papa,” cetus Bumi. Ia kemudian menatap Banyu dan Wening bergantian. Seketika, kesunyian yang mencekam jatuh di antara mereka. Wening tersentak, wajahnya yang tadi sudah merah kini terasa makin panas hingga ke leher. Ia melirik Banyu yang juga tampak membeku dengan sendok yang masih menggantung di udara. Pikiran keduanya mendadak berkelana ke arah yang sama. Kenangan-kenangan lama yang seharusnya sudah terkubur rapat di bawah lapisan waktu lima tahun. Ruangan kecil itu tiba-tiba terasa begitu sempit bagi dua orang yang pernah berbagi segalanya, tapi kini harus berpura-pura menjadi orang asing. "Eh, Bumi ... nggak bisa gitu, Sayang. Mama kan–" Suara Wening menggantung, kehilangan kata-kata. Banyu berdehem keras, mencoba menormalkan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Ia akhirnya mengenakan kaos hitamnya dengan gerakan cepat, seolah ingin menutupi kegugupannya sendiri. Lalu membuka suara. “Mama nggak bisa tidur di tempat sempit seperti ini, Sayang. Jadi, biarin Mama pulang kalau dia mau,” katanya asal sambil beranjak. Wening melongo. Ia tak menyangka jika Banyu akan berkata demikian. Apakah ia lupa, bagaimana dulu keduanya bersama? Saat ego masih ada di hatinya, Wening menjawab dengan lantang. “Siapa bilang? Aku bisa tidur di mana aja,” ucapnya hingga menarik atensi Banyu lebih dalam. “Apa maksudnya Wening mau menginap di sini?” batin Banyu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD