16 | Hampir Lepas Kendali

1152 Words
Wening merasa seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Kalimat Bhaga barusan bukan sekadar saran, melainkan sebuah maklumat yang meluncur dengan bobot yang begitu nyata. Menikah? Di tengah badai utang, ancaman Barata, dan pengkhianatan keluarganya yang baru saja terkuak, tawaran ini terdengar seperti oase sekaligus petir di siang bolong. "Ni-nikah? Besok, Pak?" Suara Wening mencicit, nyaris hilang tertelan desau angin malam. Banyu yang menyadari perubahan raut wajah Wening segera melangkah maju. Ia berdiri sedikit di depan wanita itu untuk memberikan ruang napas. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan memprotes. "Pa, jangan buru-buru gini, dong. Wening baru aja ngadepin drama di rumahnya, sekarang Papa malah nambahin beban lagi. Nanti dia takut, dikiranya kita sama aja kayak Barata yang maksa-maksa," bisik Banyu. Ia mencoba meredam ambisi sang Papa yang terkadang memang suka bergerak secepat kilat. Bhaga tidak langsung menjawab. Ia justru menyesap udara malam dengan tenang, tatapannya tetap tertuju pada Wening dengan sorot yang kini jauh lebih teduh. "Dia akan jauh lebih takut jika semuanya ditunda, Banyu. Ketidakpastian adalah hantu yang paling mengerikan bagi seorang wanita. Menunda hanya akan memberi celah bagi Barata dan ayahmu untuk menyusun rencana yang lebih licik,” ucap Bhaga Mantap. Bhaga kemudian beralih menatap Wening. Ia melepaskan seutas senyum yang sangat tipis. Gestur yang sangat jarang ia tunjukkan kepada sembarang orang. “Bagaimana, Nak Wening? Saya tahu ini terdengar gila dan terburu-buru. Tapi di dunia saya, kecepatan adalah kunci kemenangan. Saya tidak ingin cucu saya harus menunggu satu hari lagi untuk memiliki keluarga yang sah di mata hukum dan Tuhan,” imbuh Bhaga. Wening meremas jemarinya sendiri. Pikirannya berkecamuk. Ia benar-benar dihadapkan dengan situasi yang tak terduga hari ini. "Saya ... saya masih bingung, Pak. Menikah itu bukan perkara sepele. Saya nggak mungkin mutusin soal nikah ini buru-buru. Masih banyak yang harus saya pikirkan, terutama nasib perusahaan dan orang-orang di dalamnya,” jawab Wening. Tepat saat keheningan yang canggung mulai merayap, pintu kontrakan yang sedikit berderit terbuka. Sesosok kecil dengan piyama bergambar mobil balap muncul dari balik pintu. Bumi berdiri di sana, mengucek matanya yang mulai mengantuk sebelum wajahnya mendadak cerah melihat sosok tinggi di depan papanya. "Opa!" seru Bumi riang. Bocah itu berlari kecil dan langsung memeluk kaki Bhaga dengan akrab. Pemandangan itu membuat Wening terpaku. Sejak kapan Bumi sedekat itu dengan ayah Banyu? Ia melihat Bhaga, pria yang tampak begitu keras dan kaku, kini membungkuk dan mengusap rambut Bumi dengan gerakan yang sangat penuh kasih. "Halo, Jagoan. Belum tidur?" tanya Bhaga lembut. "Belum, Opa. Tadi Bumi denger suara berisik di luar," jawab Bumi polos. Bhaga berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang cucu yang kini menjadi salah satu hal paling berharga dalam hidupnya. "Bumi, Opa mau tanya satu hal. Apa Bumi mau kalau Papa sama Mama tinggal satu rumah selamanya? Biar Bumi nggak usah pindah-pindah lagi?" Mata bulat Bumi berbinar seketika. Ia menoleh ke arah Wening dengan raut wajah paling bahagia yang pernah Wening lihat. "Mau banget, Opa! Nanti kalau hujan, Bumi nggak usah sedih lagi karena Mama harus pulang ke rumah besar. Kita bisa tidur bertiga, kan?" katanya. Pertanyaan polos itu menghujam jantung Wening tepat di titik paling rapuh. Ia menatap putranya, lalu beralih pada Banyu yang kini sudah berdiri di sampingnya. Banyu meraih tangan Wening, menggenggamnya dengan jemari yang kasar dan memberikan kehangatan yang luar biasa menjalar hingga ke ulu hati. "Wen … aku tahu kamu ragu karena aku cuma pria di masa lalu di mata kamu selama ini. Tapi janji aku semalam nggak pernah berubah. Aku bakal jagain kamu sama Bumi. Aku nggak akan biarin satu orang pun nyakitin kalian lagi,” ucap Banyu kemudian. Wening menatap dalam ke mata Banyu. Di sana, ia tidak melihat kebohongan. Ia melihat pelabuhan yang selama lima tahun ini ia cari-cari. Perlahan, dinding pertahanan yang ia bangun dengan air mata dan harga diri itu mulai luruh. Ketegangan di bahunya mengendur. Senyumnya terbit tanpa diduga. "Iya, Nyu," bisik Wening akhirnya. Banyu menghela napas lega yang sangat panjang. Namun, Wening segera menarik sedikit tangannya, wajahnya kembali menampakkan sekelebat kecemasan. "Tapi … aku tetap harus pulang malam ini. Ada beberapa masalah yang harus aku selesaikan sendiri di rumah. Aku nggak bisa kabur gitu aja tanpa penjelasan," ujar Wening tegas. Banyu terdiam sejenak, menimbang risiko yang mungkin terjadi jika Wening kembali ke rumah itu. Namun, ia melihat tekad yang kuat di mata wanita itu. Ia tahu Wening bukan wanita lemah yang hanya bisa bersembunyi di balik punggung laki-laki. "Oke," jawab Banyu mantap. "Aku setuju kamu pulang.” Wening mengangguk pelan, sebuah senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya setelah seharian ini hidupnya penuh kejutan. Namun, ia tak pernah memungkiri. Hal yang paling menguatkannya adalah kehadiran Banyu dan Bumi. Selebihnya, tak ada pun tak akan jadi masalah. *** Deru mobil Bhaga perlahan menjauh, membawa Bumi yang tampak antusias duduk di kursi belakang sembari melambaikan tangan. Kepergian mereka meninggalkan kesunyian yang mendadak terasa pekat di dalam kontrakan. Lampu kuning temaram di sudut ruangan memberikan siluet yang intim, membiaskan bayangan Banyu dan Wening yang kini berdiri berhadapan tanpa ada lagi penghalang. Banyu melangkah mendekat, mengikis jarak hingga ujung jari kaki mereka bersentuhan. Ia meraih pinggang Wening, menariknya lembut ke dalam dekapan yang terasa begitu protektif. "Aku benar-benar bahagia, Wen," bisiknya tepat di kening Wening. Suaranya rendah, sarat akan kelegaan yang mendalam. "Bisa sama kamu, sama Bumi ... rasanya kayak mimpi yang akhirnya mau jadi nyata,” imbuhnya. Wening mendongak, menatap iris mata Banyu yang berkilat penuh kasih menatapnya. "Aku juga, Nyu. Walaupun aku masih nggak percaya semuanya bakal secepat ini,” jawab Wening. Banyu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menundukkan wajah, memagut bibir Wening dengan ciuman yang awalnya lembut, tapi perlahan berubah menjadi tuntutan yang dalam dan hangat. Rasa rindu yang tertimbun seolah meledak dalam satu pagutan. Wening membalasnya, jemarinya meremas kerah kemeja Banyu, mencari pegangan saat dunia di sekitarnya seakan berhenti bergerak.. Sentuhan Banyu beralih ke tengkuk Wening, ibu jarinya mengusap kulit halus di sana, memicu getaran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh. Desah halus lolos dari bibir Wening saat ciuman Banyu turun ke garis rahang dan lehernya, meninggalkan jejak hangat yang memabukkan. Atmosfer di ruangan itu mendadak memanas, penuh dengan ketegangan yang hanya bisa dipahami oleh dua orang yang telah lama terpisah. Namun, tepat saat Wening merasa pertahanannya benar-benar runtuh, Banyu mendadak menjauhkan wajahnya. Ia menarik napas panjang, menempelkan dahinya ke dahi Wening dengan sisa-sisa kontrol diri yang susah payah ia kumpulkan. "Udah, ya," bisik Banyu dengan suara serak yang seksi. "Aku nggak mau ngerusak momen sakral kita cuma karena aku nggak tahan. Sama kayak dulu." Wening terpaku, matanya masih sayu karena gairah yang belum tuntas. Ia baru menyadari posisinya yang begitu intim, dengan tangan Banyu yang masih melingkar di pinggangnya. Rasa malu mendadak menyerang, membuat wajahnya merah padam sempurna. Ia segera menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Banyu, mencoba meredam detak jantungnya yang menggila. Saat itu, Banyu tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat puas usai membuat Wening tak bisa menahan diri. Ia lantas mengecup puncak kepala Wening dengan gemas. "Wajahmu merah, Sayang,” bisiknya menggoda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD