Bab 187

4794 Words

Dua tahun kemudian .... Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan jejak yang tidak selalu bisa dilupakan. Selama rentang itu pula, Biantara belajar berdamai dengan rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar tuntas. Ia menjalani hari demi hari dengan wajah yang tampak tenang, tetapi di dalam dirinya, ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi. Sepanjang waktu, nama Kania selalu tersemat di kepalanya—hadir dalam kesadaran maupun di sela-sela hening yang tak bisa ia hindari. Tidak ada satu pun hari yang ia lewati tanpa mengunjungi makam Kania. Seolah ritual itu menjadi satu-satunya cara untuk tetap merasa dekat dengan perempuan yang telah pergi darinya. Entah sudah berapa ribu tangkai peony biru yang ia letakkan di sana, satu per satu, tanpa pernah absen. Dan ent

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD