Perempuan berambut pirang itu setengah berlari. Tubuhnya yang ramping bergerak cepat melewati tiap lorong panjang bangunan rumah Hans, gaun tipisnya berayun mengikuti langkah tergesa yang tidak teratur. Ujung sepatunya sesekali berdecit di lantai yang licin, sementara napasnya terdengar tertahan, seperti sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu yang tidak ingin ia hadapi. Biantara mengejar tanpa ragu. Langkahnya lebar, cepat, penuh tekanan. Sepasang kakinya menghantam lantai dengan ritme yang berat dan tegas. Ia tidak boleh kehilangan jejak sosok itu lagi. Tatapannya tajam, menyisir setiap sudut dengan kewaspadaan tinggi, seolah seluruh indranya bekerja bersamaan hanya untuk menemukan satu sosok tersebut. Tiap sisi ia cari. Tiap ruang sekecil apa pun tidak ia lewatkan. Pintu-pintu yan

