Bab 169

1984 Words

“Nak …” Satu kata itu keluar dari bibir Biantara seperti sesuatu yang tertahan terlalu lama—pelan, serak, dan langsung mengguncang dadanya sendiri. Matanya seketika berkaca. Bukan hanya karena haru, tapi karena semua yang selama ini ia tekan tiba-tiba menyeruak tanpa bisa ia kendalikan lagi. Ia mengulurkan tangan, ragu sesaat, sebelum akhirnya mengangkat bayi di hadapannya. Tubuh kecil itu begitu ringan, begitu rapuh—hangatnya bahkan terasa menembus sampai ke dadanya. Jantungnya berdegup tidak teratur. Ia menunduk, mengecup kening bayi itu perlahan, lama, seolah ingin menanamkan sesuatu yang tak pernah sempat diberikan oleh ibunya. Lalu ia berpindah. Ke anak kedua. Ke anak ketiga. Entah kenapa, setiap sentuhan itu justru terasa semakin menyakitkan—semakin nyata, dan perlahan menghanc

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD