03. Ini Penggantiku?

1260 Words
Setelah mengucapkan itu Indah langsung keluar dan membanting pintu ruangan itu sekencang mungkin. Nathan memandang nanar pada punggung Indah yang kini telah menghilang. “Iya, kamu yang salah. Kamu salah karena bikin aku gak bisa melupakan kamu! Kamu membuatku jadi seperti itu, mengkhianatiku dan lalu ninggalin aku. Kamu jahat, Indah. Tapi kamu bersikap seolah kamu korban di sini!” Tidak lama kemudian, Rio datang. “Rio, urus surat mutasi atas nama perempuan itu. Saya mau dua hari lagi dia ikut kita ke Jakarta!” titah Nathan. Rio heran tapi ia menahan rasa itu sendiri. “Mau ditempatkan di kantor pusat atau di mana, Pak?” “Letakkan dia di posisi yang selalu ada di sekitar saya. Sehingga saya bisa mengawasinya secara langsung, dan memastikan dia tidak akan kabur lagi!” “Baik, Pak. Akan segera saya kerjakan.” Rio pun pergi untuk segera melaksanakan perintah atasannya itu. Nathan kembali duduk, dan membuka berkas yang tadi diberikan Rio padanya. Data dan informasi mengenai kehidupan Indah beberapa tahun ini. Keningnya berkerut ketika ia membaca di bagian hutang dan rentenir. Ia cukup tahu bila keluarga Indah memang tidak sekaya dirinya, tapi memiliki usaha dagang di bidang material. Menurut Indah, kehidupannya tidak pernah kekurangan. Semuanya cukup, tapi kenapa sekarang ada list hutang dengan nominal yang cukup besar? Ada beberapa cicilan di tiap bulannya tapi itu baru mengurangi sekitar sepuluh persen dari pinjaman itu. Apalagi bunga dan denda yang berjalan. Cicilan kecil itu terlihat tidak sama sekali mengurangi pinjaman itu sendiri. Padahal sudah dicicil selama lebih dari lima tahun. Nathan juga membaca informasi yang menyebutkan bila Indah pernah bekerja beberapa kali sebagai pelayan. Bahkan juga pernah di bar. ‘Apa seputus asa itu dia? Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu Atau memang kamu yang suka dikelilingi banyak laki-laki?’ Nathan memijat pelipisnya. Terlalu banyak teka teki yang tidak bisa ia pecahkan. Sebenarnya ada cara singkat, ia bisa saja bertanya langsung pada Indah. Tapi pertanyaannya, apakah Indah mau menjawab pertanyaannya? Dan lagi, Nathan terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Ia membencinya, sakit hati karena kelakuan Indah dulu, yang berselingkuh dan juga meninggalkannya. Setidaknya itulah yang Nathan ketahui selama ini. Namun, ketika kembali bertemu dengan wanita itu, ia jadi tidak ingin melepaskannya. Ia akan menahan wanita itu untuk tetap di sampingnya, tentu saja untuk menyakitinya. Seperti rasa sakit yang Indah tinggalkan di hati Nathan dulu, hingga sekarang. *** “Indah, ini ada surat dari atasan,” ujar supervisor Indah. Ini adalah kedua kalinya ia ke ruangan ini. Sempat ia tidak ingin ke ruangan ini ketika dipanggil tadi, karena takut akan bertemu dengan Nathan lagi. Sudah cukup air matanya terkuras, ketika keluar dari ruangan ini tadi siang. Tapi apakah Indah punya pilihan untuk menolak? Indah bisa sedikit bernapas lega, karena ia tak lagi melihat Nathan ruangan atasannya itu. Tapi ketika ia membuka map yang berikan supervisornya, matanya terbelalak, hingga rasanya ingin keluar dari ronganya. “Saya dimutasi, Pak?” “Iya, permintaan khusus dari kantor pusat.” “Ta-tapi kenapa, Pak? Saya kan baru bekerja hari ini.” “Saya juga kurang tahu, Indah. Saya sama seperti kamu, hanya bisa mengikuti perintah.” Indah menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tahu sekali siapa yang membuat semua kekacauan ini. Siapa lagi kalau bukan Nathan? Tapi untuk apalagi lelaki itu mengacaukan hidupnya? Kalau memang ia sangat membenci Indah, kenapa juga Nathan tidak membuatnya langsung dipecat saja? Setidaknya itu akan lebih sederhana ketimbang memaksa Indah untuk kembali ke Jakarta. “Kalau saya tidak bersedia untuk dimutasi, bagaimana Pak?” tanya Indah setelah sekian menit hanya bisa memandang surat di tangannya. “Kamu terikat kontrak selama dua tahun kan? Dan di kontrak itu juga sudah tertulis dengan jelas bila kamu bersedia ditempatkan di mana saja sesuai kebutuhan perusahaan.” Indah mengangguk. Kepalanya makin pusing, ia sudah bisa menebak apa yang akan atasannya itu katakan selanjutnya. “Di kontrak menyebutkan kalau kamu melanggar kontrak, kamu akan dikenakan penalty sebanyak dua tahun gaji kamu. Termasuk tunjangan lainnya. Lagian, kenapa kamu mesti pusing? Banyak senior kamu yang ingin dipindahkan ke kantor pusat, karena di sana sudah tentu kamu tidak akan bekerja kasar seperti sekarang. Di sana juga kamu akan mendapatkan penyesuaian gaji. Intinya, kamu tidak akan rugi apa-apa dengan pindah ke sana. Jangan dibikin ribet, Indah. Hal gampang kok kamu buat sulit sih? Kamu harus berpikir panjang, mencari pekerjaan di jaman sekarang itu sangat sulit.” Akhirnya Indah keluar dari ruangan supervisornya. Tapi ia belum langsung memberikan jawaban. Setidaknya ia harus berbicara dengan ibu dan adiknya. ‘Apa yang harus Indah lakukan? Kalau ditolak, aku gak bisa membayar penalty, dan aku juga akan kehilangan pekerjaan. Tapi kalau ke Jakarta … aku belum yakin.’ Indah tidak mau sakit hati lagi serta mengingat kenangan buruk itu. Tapi di sana dengan gaji yang lebih besar itu artinya ia bisa menyicil hutang sang ayah lebih besar tiap bulannya, dan juga menyiapkan bekal untuk biaya kuliah Indra. Indah mengacak-acak rambutnya. Saat ini ia sedang duduk di atas motornya. Ia sudah akan pulang tapi banyaknya hal yang mengisi kepalanya hingga seakan hampir pecah. Tak jauh dari posisi Indah, Nathan menatapnya dari dalam mobil mewah, dengan kaca yang gelap. ‘Pasti kamu sudah dapat surat mutasi itu kan, Indah? Kenapa? Kamu takut menghadapi aku? Ini belum apa-apa, aku akan pastikan kamu lebih menderita lagi kalau sudah bekerja sama aku. Aku akan membalas semua sakit hati aku.’ Nathan lalu meminta supirnya untuk membuntuti Indah yang sekarang sudah mulai mengemudikan motornya. Ia jadi ingat percakapannya yang dulu dengan wanita itu, sebelum dirinya dikhianati. “Indah, lain kali jangan naik motor sendiri lagi. Boleh, kalau sama aku.” Nathan duduk di samping Indah. Ia baru saja keluar dari kelas, dan sudah janjian dengan pacarnya itu untuk bertemu di tempat ini. Sudah dari pagi ia ingin menegur Indah, tapi baru sempat bicara dengan pacarnya. Indah tersenyum lalu bersandar di lengan Nathan. “Terus motornya mau dibuat apa, Kak? Kasian dong dibiarin nganggur gitu aja. Lagian itu kan hadiah dari Ayah, masa gak aku pake sih?” Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Lebih baik disimpan, jadi motor dari Ayah itu bisa awet. Dan kamu juga bisa aman.” Tangannya terangkat untuk bisa mengusap kepala Indah. Angin sore di taman kampus, membuat aroma shampoo Indah menyapa indra penciumannya, dan ia sangat menyukai itu. “Terus aku gimana ke kampusnya?” “Aku yang antar jemput.” Indah terkekeh. “Tapi kan, jadwal kuliah kita gak pernah bareng, Kak. Lagian sekarang kan Kak Nathan lagi sibuk nyusun materi buat skripsi, aku gak mau ngenganggu.” “Aku gak merasa terganggu, kenapa malah kamu yang merasa seperti itu? Pokoknya mulai besok kamu gak boleh naik motor lagi. Nanti kamu chat aku jadwal kuliah kamu yang baru. Biar aku yang sesuaikan jadwal sama kamu.” Indah menegakkan tubuhnya. “Ini nih kenapa aku sayang banget sama Kak Nathan.” Indah langsung mengecup pipi Nathan, dan berlari sambil berujar. “Aku masuk dulu yah, Kak. Hari ini terakhir kalinya aku naik motor ke kampus. Besok aku tunggu Kak Nathan jemput di kosan yah.” Nathan tersenyum, dulu dan sekarang ketika ia mengenang semua moment indah dalam hubungan mereka dulu. Tak terasa Indah berhenti di depan sebuah rumah kecil yang terlihat sangat sederhana. Nathan melihat seorang lelaki tinggi dan tegap yang menghampiri Indah. Ia hanya bisa melihat punggung lelaki itu. Indah memeluk lelaki itu dengan erat dari samping, dan keliatannya lelaki itu juga bahagia dipeluk oleh Indah. Mereka terlihat mengobrol dan tertawa bersama. Tanpa bisa Nathan kendalikan, tahu-tahu ia sudah keluar dari mobil dan langsung menghampiri Indah dan lelaki itu. “Oh jadi ini lelaki yang katanya mau nikahin kamu? Ini pengganti aku?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD