Rumah sakit selalu berbau sama, antiseptik dan sesuatu yang dingin.
Aku berjalan di samping Ethan menyusuri lorong panjang dengan langkah yang berusaha kuulang setenang mungkin.
Dinding putih, lantai mengilap, dan suara langkah kaki kami yang bergema menciptakan kesunyian aneh.
Ethan berjalan setengah langkah di depanku. Sejak kami turun dari mobil, dia tidak banyak bicara. Tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras.
Tanda yang mulai kukenal sebagai kecemasannya yang terdalam.
“Kamarnya di ujung,” katanya singkat tanpa menoleh.
Aku mengangguk, meski Ethan tidak melihat. Ini pertama kalinya aku datang ke rumah sakit untuk keperluan orang lain.
Lidya, perempuan yang namanya telah lama tinggal di antara kami.
Jantungku berdegup pelan. Bukan karena takut, melainkan karena perasaan yang sulit diberi nama. Penasaran juga gugup dan sedikit waspada, meski aku menolak mengakuinya.
Ethan berhenti di depan sebuah pintu dengan papan kecil bertuliskan ICU dengan nama Lydia B. Tangannya terangkat ragu, sebelum akhirnya mendorong pintu itu terbuka.
Di saat itulah aku melihatnya.
Lydia terbaring di ranjang putih dengan selang-selang transparan menempel di tubuh. Wajahnya pucat, hampir tembus cahaya. Rambut cokelat mudanya tergerai di bantal.
Lydia terlihat rapuh seperti sesuatu yang bisa pecah hanya karena suara terlalu keras. Namun yang membuat dadaku mengencang bukanlah kondisi Lydia.
Melainkan Ethan.
Cara suamiku melangkah mendekat berubah sepenuhnya. Langkahnya melambat, seolah takut lantai akan melukai perempuan itu.
Tatapan dingin Ethan perlahan mencair. Bahunya yang biasanya kaku kini turun, santai, penuh kehati-hatian.
“Lydia…” Suara Ethan nyaris berbisik.
Aku berdiri beberapa langkah di belakang, mendadak merasa seperti tamu tak diundang.
Lydia membuka mata perlahan. Ketika melihat Ethan, senyumnya muncul, lemah tapi tulus.
Ethan membalasnya dengan senyum yang sama. Senyum yang tidak pernah dia berikan padaku.
“Kak Ethan,” katanya pelan.
Ethan langsung duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Lydia dengan dua tangannya sendiri. Gerakannya refleks dan alami karena sudah melakukannya ribuan kali.
“Kamu keras kepala,” katanya lembut. “Aku sudah bilang jangan memaksakan diri datang ke pesta.”
Lydia tersenyum kecil. “Aku tidak menyesal.”
Tatapan mereka saling bertaut, terlalu lama untuk sebuah percakapan biasa. Ada keintiman yang tidak bisa dipelajari. Hanya dimiliki oleh mereka yang telah berbagi terlalu banyak rasa sakit bersama.
Aku menelan ludah.
Ini hanya kasih sayang keluarga, kataku pada diri sendiri. Mereka tumbuh bersama, jadi itu wajar.
Aku melangkah maju. “Hai, Lydia,” sapaku lembut. “Aku Elena.”
Lydia mengalihkan pandangan ke arahku. Matanya besar, bening, dengan kilau lelah di dalamnya. Dia tersenyum sopan.
“Aku tahu,” katanya. “Kamu istrinya Kak Ethan.”
Istrinya. Bukan namaku yang ia ucapkan terlebih dahulu.
Aku mengangguk, berusaha tidak memikirkan hal itu. “Aku senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu.”
“Maaf,” ucap Lydia tiba-tiba. “Aku membuat hari pernikahan kalian berantakan.”
Ethan langsung menggeleng.
“Jangan bicara begitu.” Nada suaranya tegas, nyaris melindungi.
Aku tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Kesehatanmu lebih penting.”
Itu bukan kebohongan. Setidaknya, aku ingin percaya begitu.
Dokter datang tidak lama kemudian, menjelaskan kondisi Lydia dengan bahasa medis yang rapi dan datar.
Penyakitnya kronis dan akan sering kambuh. Lydia membutuhkan transfusi darah rutin. Ada kemungkinan prosedur lanjutan jika kondisinya memburuk.
Aku memperhatikan wajah Ethan selama penjelasan itu. Setiap istilah medis membuat rahangnya semakin mengeras. Setiap kemungkinan risiko membuat matanya menggelap.
Ketika dokter menyebut golongan darah langka, Ethan langsung bertanya, “Apa ada donor yang cocok?”
“Masih dicari,” jawab dokter. “Tapi kemungkinan besar dari keluarga.”
Ethan menoleh ke arahku. Tatapan itu cepat, singkat tapi sarat makna.
Aku langsung mengerti.
“Aku bisa tes,” kataku sebelum ia membuka mulut.
Wajah Ethan berubah. Ada kelegaan yang tidak sempat ia sembunyikan. “Terima kasih.”
Hanya itu.
Tidak ada apa kamu yakin, tidak ada aku khawatir padamu.
Aku tersenyum lagi, meski ada sesuatu yang retak pelan di dalam dadaku.
Saat Lydia tertidur kembali, Ethan mengajakku keluar ruangan.
“Kamu tidak harus memaksakan diri,” katanya di lorong, seolah baru teringat etika.
Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja.”
Ethan menatapku sejenak, lalu mengangguk. “Aku akan mengurus administrasinya.”
Aku duduk di kursi tunggu sendirian, memandangi orang-orang berlalu-lalang. Pasien, keluarga, perawat. semua membawa cerita masing-masing.
Pikiranku kembali pada adegan di dalam kamar putih itu.
Cara Ethan memegang tangan Lydia. Cara suaranya melunak.
Cara ia lupa bahwa aku berdiri di sana.
Itu hanya rasa tanggung jawab, aku meyakinkan diri.
Ethan merasa bersalah. Lydia sakit sejak kecil. Sebagai kakak, dia hanya ingin melindungi adiknya
.
Aku mengulang-ulang kalimat itu seperti mantra.
Tidak boleh ada cemburu.
Tidak boleh ada curiga.
Aku adalah istrinya sekarang.
Aku yang ia nikahi.
Aku yang berdiri di sisinya secara sah.
Sayangnya, ada satu pertanyaan kecil yang terus mengusikku, meski aku menekannya dalam-dalam.
Jika Lydia sehat… apakah Ethan akan tetap menikah denganku?
Aku bangkit saat Ethan kembali.
“Tes darah bisa dilakukan sekarang,” katanya.
Aku mengikuti perawat ke ruangan lain. Jarum menusuk kulitku. Aku menatap langit-langit, mencoba fokus pada hal lain.
Aku mendengar suara Ethan dari luar ruangan, berbicara di telepon. Nadanya cemas, lembut tapi terburu-buru. Aku tidak perlu menebak siapa di ujung sana.
Malam mulai turun saat kami keluar dari rumah sakit.
“Kamu lelah?” tanya Ethan.
“Sedikit.”
“Aku akan mengantarmu pulang dulu.”
“Setelah mengantarku, apa kamu akan kembali lagi ke rumah sakit?”
Ethan terdiam sejenak lalu mengangguk. “Aku ingin memastikan Lydia baik-baik saja.”
Aku mengangguk. Lagi.
Di mobil, hujan mulai turun. Lampu jalan memantul di kaca jendela seperti garis-garis cahaya yang patah.
“Aku minta maaf,” kata Ethan tiba-tiba. “Pernikahan kita langsung dihadapkan pada hal seperti ini.”
Aku menoleh padanya. “Aku tahu Lydia penting bagimu.”
Ethan mengangguk. “Dia satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku.”
Kata-kata itu menancap aneh di dadaku.
Lalu aku apa?
Pertanyaan itu bergetar di ujung lidahku, tapi tidak pernah keluar.
Aku hanya tersenyum. “Aku mengerti.”
Dan mungkin, itulah kebohongan terbesarku hari ini.
Malam itu, di rumah yang sunyi, aku berdiri di depan jendela kamar. Lampu ruang duduk masih menyala.
Ethan tidak ada. Dia kembali ke rumah sakit.
Aku menyentuh bekas plester kecil di lengan, lalu menutup mata.
Aku memilih percaya.
Bahwa tatapan lembut itu hanya milik seorang kakak.
Bahwa genggaman tangan itu lahir dari rasa bersalah.
Bahwa perasaan yang kutangkap hanyalah bayangan dari pikiranku sendiri.
Aku memilih menjadi istri yang diam.
Istri yang sabar.
Istri yang percaya bahwa cinta bisa tumbuh, meski awalnya tidak dipilih.
Aku belum tahu bahwa kamar putih itu hanyalah awal. Bahwa pengorbananku baru saja dimulai.