9. Sadar, Setelah Sekian Lama.

1812 Words
Beberapa saat setelah mobil yang dikendarai Pak Alwi berlalu dari halaman, membawa ibu mertuanya, Vivi, dan Tini, sebuah mobil lain berhenti di depan gerbang. Uma yang sedang duduk di teras langsung berdiri. Pak Umar, seperti biasa, sigap membuka pintu pagar. Mobil itu adalah mobil Arumi. Uma menyambut kedatangan Arumi dengan senyum lebar. Hari ini mereka akan membeli bahan-bahan untuk membuat sabun di toko Kimia Jaya sebelum reuni kecil-kecilan dengan teman-teman SMA mereka. Karena itu, ia hanya berdandan sederhana. Sunscreen, bedak tabur, dan pelembap bibir sudah cukup. Ia mengenakan celana jeans, kaos lengan panjang, jilbab pastel, dan sepatu kets kesayangannya. "Ya ampun, Uma," seru Arumi begitu turun dari mobil. "Orang yang tidak mengenalmu, pasti mengira kalau kamu masih SMA." Uma terkekeh. "Padahal aku ini ibu-ibu yang sudah punya anak satu ya?" Uma menyengir. "Iya. Dan herannya masih tetap terlihat muda. Tidak sepertiku yang mukanya tampak boros. Sungguh tidak adil." Arumi pura-pura manyun sambil mencubit pipi Uma ringan. "Kamu ini manis banget mulutnya kalau memuji. Bisa laris sabun-sabun kita kalau kamu yang jualan. Yuk, masuk dulu sebentar. Aku mau menunjukkan sabun-sabun kita yang masih dalam proses curing." Uma membawa Arumi menuju dapur kecil di belakang rumah, tempatnya memproduksi sabun batang. Di sana, rak-rak kayu berisi sabun dalam berbagai bentuk dan warna tersusun rapi. Aroma lavender, mint, dan citrus memenuhi udara, membuat ruangan itu serasa taman bunga. "Wah, ini sih kayak spa mini," Arumi berseru sambil menghidu satu per satu aroma sabun. "Aku suka banget yang warna ungu ini. Lavender, ya?" Uma mengangguk. "Yang ini belum kering sempurna, masih dua minggu lagi." Arumi kemudian berbalik menghadap Uma, semangat menyala di matanya. "Karena kamu sudah bekerja keras di bagian produksi, biar aku yang mengurus masalah promosi. Aku akan menyusun label baru, terus membuat desain kemasan yang lebih kece dan menarik. Aku juga bakal mempromosikan sabun-sabun kita ini di IG dan TikTok." Mata Arumi berbinar-binar penuh semangat. Uma tertawa kecil. Semangat Arumi membuatnya terharu. Arumi sangat percaya kalau mereka akan sukses. "Pelan-pelan, Rum. Satu-satu dulu." "Aku mau gas kenceng aja. Aku yakin kita bisa menjadi eksekutif muda yang sukses!" Arumi menyilangkan tangan, penuh percaya diri. "Kita juga harus membuat akun marketplace. s****e, Tokopedia, semua. Biar kita makin dikenal!" Uma meringis kecil. "Ya ampun, jangan mikir sejauh itu dulu, Rumi. Pelan-pelan saja. Asal kamu tahu, untuk memenuhi pesanan kecil-kecilan saja aku keteteran. Modalku itu terbatas, tenaga apalagi." Uma melempar tangan udara. Pertanda menyerah dengan ambisi besar Arumi. Arumi mengangguk pelan, tapi matanya tetap bersinar. "Tapi kan tidak menutup kemungkinan kita bakal merekrut tenaga kerja kalau permintaan naik. Masalah modal, kamu tenang aja. Aku punya dana cadangan. Kalau pun perlu, aku bisa meminta tolong pada Mas Genta—eh Mas Gento sudah tidak bisa lagi, orang tuaku misalnya." Genta tidak bisa? Pasti ia menertawai usaha kecil-kecilan mereka ini. Uma langsung menggeleng cepat. "Jangan, Rum. Kita jangan menggunakan dana orang tua. Mending meminjam dana KUR dari bank kalau memang harus. Tapi itu juga nanti, kalau usaha ini sudah mulai terlihat arahnya. Jangan keburu nafsu." Uma mengingatkan. Arumi tersenyum. "Oke, oke. Kita mulai dari yang kecil dulu. Yang penting jalan dulu, ya kan?" Uma mengangguk setuju. "Setuju." Tak lama kemudian, mereka keluar rumah dan masuk ke mobil Arumi. Suasana di dalam mobil diisi tawa ringan dan obrolan hangat, menyambut angin sore yang menjanjikan semangat baru. Tujuan mereka selanjutnya adapah Toko Kimia Jaya. Dan mungkin, masa depan yang penuh kejutan yang akan menyambut mereka. *** Di dalam mobil yang melaju tenang menuju Toko Kimia Jaya, suasana awalnya santai. Arumi menyetir sambil sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar dari sistem audio mobil. Uma duduk di sampingnya, sibuk menggulir layar ponsel, mencari inspirasi kemasan sabun dari Pinterest. Sesekali ia berbalas pesan pada Tini. Menanyakan keadaan putrinya. Untungnya Vivi yang sudah kenyang tidur siang anteng dan tidak rewel. Saat mengirim foto, sekilas Uma melihat penampakan seorang peremouan tinggi semampai di samping Arya. Entah siapa perempuan itu. Mungkin salah seorang pelanggan butik. Tiba-tiba, layar audio di dashboard menampilkan panggilan masuk. Nama “Bu Ermi” muncul di sana. Bu Ermi adalah ibu Arumi. "Sebentar, ya," kata Arumi sambil menekan tombol hijau di setir. "Hallo, Ma?" sapanya. Di ujung sana terdengar suara Bu Ermi yang terdengar agak terburu-buru. "Rumi, Mama sudah di dalam pesawat. Tolong jaga rumah baik-baik, ya. Kalau Genta telepon, langsung kabari Mama." "Iya, Ma. Hati-hati di jalan. Jangan lupa mengabari Rumi kalau sudah sampai di rumah kakek, ya?" jawab Arumi. Setelah panggilan ditutup, Arumi mendecakkan lidah pelan dan menatap jalan di depannya dengan pandangan kosong sejenak. "Heran deh… kenapa ya orang tua zaman sekarang masih suka menjodoh-jodohkan anak?" Uma menoleh. Tumben Arumi tampak murung. "Lho, kok kamu tiba-tiba ngomong begitu? Siapa yang mau dijodohkan? Kamu?" tanya Arumi hati-hati. Arumi menggeleng. Arumi menghela napas berat, lalu tersenyum hambar. "Bukan aku, tapi Mas Genta. Di rumah sekarang lagi ada perang." "Perang? Maksudnya?" tanya Uma bingung. "Perang urat saraf antara Mas Genta dan orang tuaku." Arumi lagi-lagi mendecakkan lidah. Uma semakin bingung. "Memangnya kenapa sih?" Arumi melirik sekilas ke Uma, lalu kembali fokus ke jalan. "Kamu ingat nggak, aku pernah cerita soal Mas Genta yang mau dikenalkan sama anak kenalannya Mama? Namanya Mbak Puri." Uma mengangguk cepat. "Iya, ingat. Memangnya kenapa?" "Nah… mendadak Mas Genta menolak mentah-mentah rencana itu. Dia nggak mau ketemu, nggak mau dijodohin, pokoknya menolak apa pun yang berhubungan dengan Mbak Puri. Mama sampai marah besar. Soalnya si Puri ini sudah ngebet banget pengen dijodohin dengan Mas Genta. Katanya, dari dulu dia sudah suka sama Mas Genta." Uma mengangkat alis. "Kenapa Genta tiba-tiba nggak mau ya?" Uma sekarang ikut bingung." "Itulah! Dia nggak mau menyebutkan alasannya. Tidak etis katanya. Entah apa yang tidak etis. Mama sampai minta dan bilang, ‘Ya udah, kenalan aja dulu, ngobrol sebentar juga cukup.’ Tapi Mas Genta tetap aja nggak mau. Akhirnya dua keluarga yang awalnya deket jadi renggang." "Sampai segitunya?" Uma mendecakkan lidah. "Yup, sampai segitunya. Karena Pak Yahya, ayahnya Puri, merasa Mas Genta mempermalukan anaknya. Mbak Puri patah hati, nangis terus, mengurung diri di kamar." Arumi menghela napas panjang. "Makanya Pak Yahya marah dan bilang ke Papa, kalau Mas Genta nggak mau menemui Mbak Puri, kerjasama bisnis mereka batal.’" Uma melongo. "Astaga, sampai sejauh itu?" "Nah itu. Aku juga bingung. Lebih gilanya lagi, Papa jadi ikutan panas. Papa mengultimatum Mas Genta. Disuruh menemui Mbak Puri, atau angkat kaki dari rumah dan jangan mengaku anak lagi." "Astaga," Uma menepuk keningnya. "Dan tambah gilanya, Mas Genta memilih keluar." Arumi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mas Genta keluar rumah hanya dengan pakaian yang menempel di badan. Mobil, kartu, semua dikembalikan. Jabatan direktur utama di perusahaan Papa juga dilepas. Nggak ada tawar-menawar." Uma terdiam. Perlahan ia berucap, "Aku nggak nyangka masalahnya serius banget." Arumi tertawa hambar. "Mama sampai stres. Makanya Mama sekarang terbang ke Tokyo, mau meminta bantuan kakek. Siapa tahu bisa melunakkan salah satu dari dua batu itu—Papa atau Mas Genta." Uma menggigit bibir bawahnya. "Tapi kalau soal keras kepala Genta… ya, aku tahu banget. Dia dari dulu emang begitu. Genta itu pantang ditantang." "Yup. Begitulah darah Jepang, Ma. Papa dan Mas Genta sama keras kepalanya," keluh Arumi. Mobil pun melaju di antara lalu lintas sore yang mulai ramai. Mereka harus mengejar waktu agar tidak terlambat ke tempat reuni. *** Kafe tempat reuni kecil-kecilan itu terletak di sebuah sudut kota yang cukup tenang, dengan nuansa hangat dari lampu-lampu gantung dan furnitur kayu yang sederhana. Saat Uma dan Arumi melangkah masuk, aroma kopi dan tawa ringan langsung menyambut mereka. “Umaaa!” seru beberapa suara hampir bersamaan. Beberapa teman lama mereka yang sudah berkumpul lebih dulu segera berdiri. Ada yang melambai, ada yang langsung menghampiri. Uma tersenyum sopan, meski jantungnya sempat berdegup canggung. Teman-teman laki-laki menyambut paling antusias. “Duh, Uma. Mendengar kabar kamu menikah dulu, kita satu angkatan patah hati berjamaah, tahu nggak?” canda Dion, yang dulu terkenal suka menggoda cewek-cewek pintar. “Padahal kamu tuh primadona sekolah!” sambung Ical, terkekeh. Uma hanya tersenyum kecil. “Kalian berlebihan. Lagipula, semua sudah punya jalan masing-masing, kan?” Uma memberi jawaban netral. Sebenarnya, topik soal pernikahan adalah hal terakhir yang ingin ia bahas hari ini. Tapi ia tetap menjaga senyum di wajah, lalu dengan cekatan membelokkan arah pembicaraan. “Eh, kalian gimana? Masih struggling dengan dunia kampus?” Tawa-tawa ringan mengisi udara. Suasana sempat mencair… sampai suara nyaring Shanty tiba-tiba menyeruak. “Uma, serius deh. Gimana rasanya jadi nyonya kaya sekarang?” Semua menoleh, termasuk Arumi yang langsung terlihat tak nyaman. Sebelum Uma sempat merespons, Catherina menimpali, “Pasti bahagia, dong. Bisa berbelanja sesuka hati, nongkrong di kafe mahal, hidup ala sosialita. Apalagi suaminya katanya sudah berusia 37 tahun ya? Sudah ‘mapan banget’ tuh.” Farah ikut menyambar, “Padahal dulu kamu selalu bilang, ‘Aku nggak mau pacaran, aku mau kuliah dulu, sukses dulu.’ Eh, tahu-tahu… menikah. Satu sekolah heboh, tahu nggak?” Catherina tertawa kecil, “Yah, namanya juga uang. Bisa mengubah siapa pun. Bahkan yang idealis kayak kamu. Ya kan, Uma?" Suasana menjadi canggung. Beberapa teman saling pandang, sebagian tertawa canggung, sebagian diam menunggu reaksi Uma. Uma menunduk sesaat. Kata-kata mereka seperti tamparan halus yang menelanjangi hidup pribadinya. Ia mengangkat wajah dan tersenyum kecil—sopan tapi datar. “Maaf, kayaknya aku harus pulang duluan,” ucapnya pelan sambil bangkit. “Lho, Uma, baru aja datang—” “Bener, Uma. Jangan gitu dong,” sela Shanty, berdiri ikut mendampingi. Namun air mukanya mengejek. Uma hanya mengangguk kecil, tak menjawab. Arumi mengikuti langkahnya. Mereka berdua kemudian berjalan menuju parkiran dalam diam. Begitu sampai di parkiran, langkah Uma terhenti. Sebuah mobil hitam mengilap baru saja masuk. Ia sangat mengenali mobil itu. Mobil Arya—suaminya. Pintu kanan dan kiri mobil kini terbuka nyaris bersamaan. Uma refleks bersembunyi di balik mobil Arumi. Saat Arumi ingin bertanya karena tingkah anehnya, Uma menyilangkan telunjuk di bibirnya. Arumi pun terdiam. Ia langsung maklum saat Uma berbisik bahwa itu adalah mobil suaminya. Dari balik kemudi, Arya keluar. Tampan seperti biasa. Tapi kali ini, bukan itu yang membuat Uma tercekat. Dari sisi lain, seorang perempuan muncul. Cantik. Seksi. Dengan kaki jenjang dan busana elegan yang mencolok. Mereka berjalan beriringan. Uma seketika teringat pada foto yang dikirimkan Tini tadi. Perempuan inilah yang tadi ada bersama Arya. Ternyata mereka berdua memang berhubungan. Seketika, terdengar suara seorang pengunjung dari arah teras kafe. “Halo! Vivi? Kamu Vivi, kan?” Perempuan cantik itu tersenyum, menoleh. “Iya, aku Vivi.” Lalu dengan santai ia memanggil pria di sampingnya. “Kamu Arya, kan? Arya Tjokro?” Seketika darah Uma terasa berhenti mengalir. Vivi. Arya Tjokro. Nama itu terngiang-ngiang dalam benaknya. Kalimat yang tak pernah ia sadari artinya selama ini kini menyatu jelas dalam benaknya: Vivi Arya Tjokro. Itu… nama lengkap putrinya. Tubuh Uma gemetar. Ia segera membuka pintu mobil Arumi. “Kita pulang sekarang, Rum,” katanya cepat. Arumi terkejut, tapi melihat sorot mata Uma yang dingin, ia langsung mematuhi. Mobil pun meluncur meninggalkan parkiran, sementara Uma menatap penuh amarah ke depan. Satu persatu teka-teki mulai membentuk jawaban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD