Bab 13: Siapa Pelakunya?

1275 Words
"Apa-apaan ini?" tanya Iqbal sambil melemparkan berkas yang dia pegang dengan menatap tajam kepada semua pengurus yayasan di ruangan meeting. "Maaf, Pak, kami pikir Bapak yang memerintahkan untuk menaikkan uang bangunan siswa setiap bulan," jawab Farida, bendahara yayasan. "Saya tidak pernah memberikan perintah seperti itu, siapa yang menyetujui berkas ini!" ucap Iqbal dengan murka. Keadaan di ruang meeting menjadi semakin hening dan mencekam, Iqbal mengadakan rapat dengan para pengurus yayasan setelah mendapatkan laporan dari beberapa orang tua murid yang keberatan dengan kenaikan biaya sekolah anaknya, dan hal itu sudah berlangsung selama satu semester, sedangkan Iqbal tidak mengetahui apapun. BRAAK "KENAPA KALIAN DIAM SAJA!" pekik Iqbal seraya memukul meja, membuat semuanya terkejut. "Baiklah jika seperti ini, saya sendiri yang akan turun tangan mengusut tuntas kasus ini, bersiaplah untuk masuk penjara karena kasus penggelapan uang yayasan dan mengubah aturan tanpa persetujuan saya!" ucap Iqbal lalu keluar dari ruangan meeting dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. *** "Gimana dong, Bang?" tanya Mitha, Damar sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah meraka. "Gimana apanya," jawab Damar. "Kalungnya gak ada, udah dibawa sama pasien kemarin," ucap Mitha. "Ya bilang aja yang sebenarnya sama bunda, gak usah bohong," ucap Damar. "Bunda pasti marah, Abang!" ucap Mitha dengan kesal. "Ya itu resiko kamu," ucap Damar. "Ish... Abang, ngeselin banget sih," ucap Mitha. "Cepetan turun, mobilnya mau Abang masukin ke garasi!" perintah Damar. "Rese!" ucap Mitha dengan wajah kesalnya turun dari mobil Damar, abangnya itu pun segera memasukkan mobilnya ke garasi. "Assalamu'alaikum," ucap Mitha dengan pandangan yang mengitari setiap sudut ruangan. "Aman, bunda gak ada di rumah," ucap Mitha dengan menghela nafasnya lega. "Assalamu'alaikum, Bunda, aku sama Mitha udah pulang nih!" teriakan Damar membuat mata Mitha terbelalak sempurna. "Abang, berisik!" ucap Mitha, dengan tatapan tajamnya. "Apaan, kan Abang cuma panggil bunda," ucap Damar dengan tatapan jahilnya. "Maaf, Non, Den, ibu lagi pergi belanja bulanan," ucap bibi asisten rumah tangga mereka. "Alhamdulillah, selamet!" ucap Mitha. "Yah gak seru, tadinya mau liat drama," ucap Damar. "Kasian deh, makanya jangan suka jail!" ucap Mitha lalu dia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. "Bi, tolong bikinin jus ya," ucap Damar. "Siap, Den," ucap Bibi, lalu segera ke dapur membuatkan jus untuk Damar. Ting Ponsel Damar berdering menandakan ada chat masuk. (Tania: Hai, Sayang, lagi ngapain?) "Haiish... syaiton betina, males ah," ucap Damar setelah membaca chat dari wanita bernama Tania itu. Damar pun berlalu menuju kamarnya. Sedangkan Mitha, masih mondar mandir gelisah di kamarnya memikirkan di mana korban tabrak lari itu tinggal, karena saat bertanya kepada resepsionis, Mitha tidak mendapatkan informasi apapun. "Aduh, gimana dong, bunda pasti ngamuk lagi kalau kalungnya gak ketemu," ucap Mitha dengan gelisah. Mitha lalu mengambil ponselnya, untuk menghubungi Fanny. Dering pertama sahabatnya itu tidak menjawab panggilan Mitha, dering ketiga barulah Fanny menjawab telponnya. "Paan, sih?" tanya Fanny di ujung sana. "Ada ya, orang jawab telpon langsung tanya paan sih," jawab Mitha dengan berdecak kesal. "Ya adalah, kan gue," ucap Fanny. "Ck... gak temen, gak abang sendiri, semuanya nyebelin," ucap Mitha. "Halah bilang nyebelin, tapi lo tetap aja nyari gue, iya kan," ucap Fanny. "Kalo gak kepepet gak bakalan aku nyari kamu," ucap Mitha. "Terus lo mau ngapain telpon gue?" tanya Fanny. "Mau gak bantuin aku," jawab Mitha. "Paan?" tanya Fanny. "Bantuin nyari korban tabrak lari kemarin," jawaban Mitha membuat Fanny memekik di sana. "What? Lo gila ya!" teriak Fanny. "Gila apanya, kamu kan tau tadi kalungnya udah gak ada, dibawa sama korban itu," ucap Mitha. "Ya gak gitu juga kali, Mitha, kita mau cari dia ke mana, Jakarta itu luas woy, kagak selebar daun kelor, lo pikir nyari alamat satu kampung, mending kalau ada alamatnya, lah ini kagak ada info apa-apa, lo emang suka ngadi-ngadi ya," ucap Fanny panjang lebar. "Kan namanya juga usaha, Fanny, gak ada salahnya dicoba," ucap Mitha. "Ntar gue pikirin juga deh gimana caranya," ucap Fanny lalu menutup sambungan telponnya. "Fan... tunggu, ya malah ditutup duluan lagi, ngeselin banget sih!" ucap Mitha lalu melempar ponselnya ke atas ranjang. "Aduh, gimana dong!" ucap Mitha semakin gelisah. "Tenang, tenang," ucap Mitha lalu dia menarik nafas dalam-dalam setelah itu Mitha keluar dari kamar. Saat membuka pintu, Mitha berpapasan dengan bibi yang akan mengantarkan jus ke kamar Damar. "Bi, mau ke kamar abang ya?" tanya Mitha. "Iya, Non," jawab bibi. "Bunda sama ayah udah pulang?" tanya Mitha. "Bapak sudah pulang, Non, kalau ibu belum," jawab bibi. "Ayah di mana sekarang?" tanya Mitha. "Masih di ruang tamu, Non," jawab bibi. "Oke, Bi, terima kasih," ucap Mitha lalu mengambil jus yang bibi bawa. "Non Mitha mau jus juga? Biar Bibi bikinin lagi?" tanya bibi. "Gak usah, Bi, aku cuma mau nyobain jus punya abang, nanti Bibi bilang aja jusnya aku minum," jawab Mitha, lalu bibi pergi ke kamar Damar. "Abang, jusnya aku cobain sedikit, thank you Abang rese!" teriak Mitha saat melihat Damar keluar dari kamar, setelah itu Mitha pergi untuk menemui ayahnya. "Untung adik gue, kalau bukan, udah gue pites tuh anak," ucap Damar berdecak kesal. "Mau Bibi ganti, Den, jusnya?" tanya bibi. "Gak usah, Bi, terima kasih," jawab Damar lalu mengambil jusnya dan kembali ke kamar. Saat sampai di ruang tamu, Mitha melihat Iqbal yang duduk bersandar di sofa sambil memijat keningnya. "Ayah!" sapa Mitha lalu duduk di samping ayahnya. "Sayang," ucap Iqbal sambil tersenyum. "Ayah sakit?" tanya Mitha. "Ayah gak sakit," jawab Iqbal. "Pasti Ayah capek, mau aku pijitin?" tanya Mitha. "Gak usah," jawab Iqbal. "Bibi!" panggil Mitha saat melihat bibi baru kembali dari kamar Damar. "Iya, Non?" tanya Mitha. "Tolong bikinin teh buat Ayah ya, Bi," jawab Mitha. "Beres, Non," ucap bibi lalu segera pergi ke dapur. "Abang kamu mana?" tanya Iqbal. "Di kamar, Yah, paling lagi main game online sama temen-temennya," jawab Mitha. "Hmm... abang kamu itu, kapan dewasanya," ucap Iqbal sambil menghela nafasnya dengan panjang. "Ayah lagi ada masalah di yayasan, atau perusahaan?" tanya Mitha. "Perusahaan aman aja, gak ada masalah apa-apa," jawab Iqbal. "Berarti, di yayasan," ucap Mitha. "Sedikit," ucap Iqbal. "Oh, iya Yah, aku lupa mau bilang ini sama Ayah, bukan lupa sih, tapi waktunya aja yang belum pas," ucap Mitha. "Bicara apa?" tanya Iqbal. "Udah lama sih, Yah, kejadiannya, tapi Ayah janji gak marah," jawab Mitha. "Janji!" ucap Iqbal seraya tersenyum. "Kenapa yayasan mencabut beasiswa untuk siswa yang berprestasi dan kurang mampu?" pertanyaan Mitha membuat mata Iqbal terbelalak. "Yayasan gak pernah mencabut beasiswa, Ayah juga gak pernah menyetujui pernyataan itu," jawab Iqbal. "Berarti, Ayah gak tau soal masalah itu?" tanya Mitha. "Ayah gak tau sama sekali, kamu dapat informasi ini dari siapa?" tanya Iqbal. "Aku gak sengaja dengar pembicaraan temen waktu di kantin, Yah, katanya dia dipanggil kepala sekolah, dia bilang beasiswanya dicabut, gak tau alasannya apa, padahal dia siswa yang berprestasi, dia juga udah beberapa kali ikut olimpiade sama aku," jawab Mitha. "Astaghfirullah, ternyata masalah ini sudah merembet ke mana-mana," ucap Iqbal. "Maaf, Yah, aku bukan bermaksud untuk lancang, tapi kenapa yayasan harus membuat keputusan yang merugikan siswa dan keluarganya," ucap Mitha. "Ayah gak pernah menyetujui itu," ucap Iqbal. "Berarti, ada yang memalsukan tanda tangan Ayah, dan melakukan kecurangan untuk keuntungan pribadi," ucap Mitha. "Ayah harus segera mengusut tuntas kasus ini, kasihan para siswa yang tidak mendapatkan lagi hak mereka," ucap Iqbal. "Iya Yah, aku gak mau Ayah sebagai pemilik dan ketua yayasan dzolim sama semua siswa, kasihan mereka yang sudah mati-matian belajar untuk mengejar beasiswa," ucap Mitha. "Pastinya, Sayang, terima kasih sudah mengingatkan Ayah," ucap Iqbal lalu memeluk putri kesayangannya. "Aku sayang sama, Ayah," ucap Mitha. "Ayah juga sayang sama, Mitha," ucap Iqbal, lalu melepaskan pelukannya dari Mitha karena bibi datang mengantarkan teh untuk Iqbal. "Terima kasih, Bi," ucap Iqbal. "Sama-sama, Pak," ucap bibi setelah itu bibi pun pergi. "Kalung kamu udah diambil?" pertanyaan Iqbal membuat mata Mitha terbelalak sempurna, dan dia semakin gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD