Bab 21: Driver Taksi Ganteng

1205 Words
"Mitha!" panggil Fanny. "Apaan sih, Fan, aku di sebelah kamu juga, pake teriak segala," ucap Mitha. "Siapa tau aja gak kedengaran," ucap Fanny, dia dan Mitha sibuk merapikan peralatan mereka ke dalam tas. "Apa?" tanya Mitha. "Jalan yuk, bosen nih," jawab Fanny. "Ke mana?" tanya Mitha. "Ya ke mana aja, ke mall kek, atau nonton gitu," jawab Fanny. "Kita ke mall aja gimana?" tanya Mitha. "Oke, kita cabut lah," jawab Fanny. "Gue boleh ikut sama kalian?" tanya Dirga yang tiba-tiba datang menghampiri Mitha dan Fanny. "Kagak!" jawab Fanny dengan sinis. "Gue tanya Mitha, bukan lo," ucap Dirga. "Kan tadi lo bilang kalian, berarti termasuk gue dong," ucap Fanny lagi. "Jalan sekarang yuk, Fan!" ajak Mitha. "Ayo," sahut Fanny. "Mith, lo marah sama gue?" tanya Dirga sambil menarik lengan Mitha. "Lepasin, aku gak marah," jawab Mitha dengan senyuman yang dipaksakan. "Terus kenapa, gak biasanya lo jutek kayak gini," ucap Dirga. "Lepasin!" ucap Sesha yang tiba-tiba datang dan langsung menarik lengan Dirga. "Haiish ... nenek lampir datang lagi," ucap Fanny. "Lo ngomong apa barusan?" tanya Sesha dengan sengit. "Lo, nenek lampir, udah bisa dengar dengan jelas," jawab Fanny. "Fan, jadi pergi gak?" tanya Mitha. "Jadi lah, ngapain gue di sini sama orang gak penting kayak mereka berdua," jawab Fanny, lalu dia dan Mitha pergi. "Mitha, tunggu!" teriak Dirga, dia pun ikut pergi menyusul Mitha, meninggalkan Sesha yang kesal di sana. "Gue bakalan bales perbuatan kalian, Mitha, Fanny," ucap Sesha, lalu dia memanggil teman-temannya agar mereka ikut pergi dengan Sesha. "Lo ngapain sih ngikutin kita?" tanya Fanny dengan sengit karena Dirga sudah berada di samping Mitha. "Gue mau ngomong sama, Mitha," jawab Dirga. "Gak boleh!" ucap Fanny sambil mendorong Dirga, sedangkan Mitha berjalan lebih cepat menuju gerbang sekolah. "Bang Damar mana?" tanya Mitha dengan lirih karena dia tidak melihat mobil Damar di sana, tapi dia hanya melihat sebuah mobil Range Rover berwarna hitam yang terparkir di seberang sekolah. "Mitha, please sebentar aja, gue mau ngomong sama lo," ucap Dirga memohon. "Aku gak mau," ucap Mitha dengan tatapan tajamnya. "Lo udah denger kan, jadi sekarang mendingan lo pergi dari sini," ucap Fanny. "Mitha...." "Pergi, jangan sampai orang lain salah paham lagi sama kita, aku juga capek dibully terus gara-gara kamu," ucap Mitha menyela apa yang ingin Dirga katakan. "Sorry, Mith," ucap Dirga. "Basi!" ucap Fanny dengan memutar matanya malas, lalu Dirga pergi dengan perasaan kecewanya. "Bang Damar mana, tumben belum jemput?" tanya Fanny. "Aku juga gak tau," jawab Mitha sambil melihat di sekitarnya. "Mau nungguin bang Damar atau kita jalan aja?" tanya Fanny. "Bentar, aku telpon dulu," jawab Mitha, lalu mengambil ponselnya dari dalam saku. Mitha menghubungi Damar tapi kakaknya itu tidak menjawab panggilan telponnya. "Gak diangkat," ucap Mitha. "Terus gimana?" tanya Fanny. "Gak apa-apa sih, aku ijin dulu sama ayah," jawab Mitha, lalu dia mengirimkan pesan kepada ayah dan bundanya. "Ayo!" ajak Mitha. "Naik apa?" tanya Fanny. "Naik taksi aja," jawab Mitha. "Oke, tunggu deh sebentar," ucap Fanny. Mitha dan Fanny pun menunggu taksi di depan gerbang sekolah, mereka masih belum menyadari jika seorang pria yang ada di dalam mobil range rover itu sedang memperhatikan mereka. "Aduh, tumben banget gak ada taksi lewat," ucap Fanny. "Sebentar lagi kali, Fan," ucap Mitha, dia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah lima belas menit lebih mereka menunggu tapi tak ada taksi yang lewat. "Pesan ojol aja gimana?" tanya Fanny. "Kenapa gak dari tadi," jawab Mitha. "Ya lo juga sama aja, malah lemot," ucap Fanny, lalu Fanny membuka aplikasi ojek online yang ada di ponselnya. "Fan, itu ada taksi," ucap Mitha dengan mata yang berbinar, saat menoleh dia melihat taksi yang akan melintas di hadapan mereka. "Ya udah, gak jadi," ucap Fanny, lalu Mitha menghentikan taksi itu. "Fiuh, akhirnya," ucap Fanny mereka sudah duduk nyaman di dalam taksi. "Mau ke mana, Nona?" tanya driver taksi dengan sopan. "Ke mall, Pak," jawab Mitha, dia langsung fokus dengan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Damar, sang driver pun mulai melajukan taksinya ke tempat sesuai permintaan Mitha. "Woaaah ... ya ampun, semalem gue mimpi apa, naik taksi drivernya ganteng banget," ucap Fanny dengan heboh saat melihat wajah driver taksi yang sedang mereka tumpangi. "Fanny, jangan malu-maluin deh," ucap Mitha. "Biarin aja sih, Mith, kapan lagi gue cuci mata liat cowok bening kayak gini," ucap Fanny. "Mas, siapa namanya? Umurnya berapa taun? Mau gak sama anak SMA?" pertanyaan Fanny membuat Mitha menepuk keningnya. "Eh, tapi, Masnya udah nikah apa belum?" tanya Fanny lagi. "Fanny!" desis Mitha dengan kesal, wajahnya sudah memerah menahan malu karena ulah sahabatnya. "Saya belum nikah, Non, tapi udah punya calon," jawab sang driver tapi tatapannya melirik kepada Mitha. "Sukurin, rasain tuh, abisnya pecicilan sih," ucap Mitha. "Ye ... biarin aja, namanya juga usaha," ucapan Fanny lagi-lagi membuat Mitha mendengkus sebal. "Tapi, Mas, kan baru calon, gak papa dong kalau kita kenalan," ucap Fanny dengan wajah dibuat semanis mungkin. "Fanny!" ucap Mitha lagi. "Diem, Mith, setidaknya lo biarin sahabat lo ini bahagia walaupun cuma sesaat, eh tapi kan jodoh gak ada yang tau, ya kan, Mas, siapa tau aja Mas putus sama pacarnya terus kita pacaran," ucap Fanny dengan percaya diri. "Astaghfirullah, ya Allah, buat hamba menghilang saat ini juga," ucap Mitha sambil memalingkan wajahnya. "Emangnya lo hantu bisa menghilang sekarang juga," ucap Fanny. "Pak, maafin teman saya ya, dia emang suka pecicilan gak jelas," ucap Mitha. "Gak apa-apa, Non, emang banyak kok penumpang yang kayak temen Non ini," ucap driver. "Mas, ganteng-ganteng kayak gini kok mau jadi supir taksi?" tanya Fanny. "Aww, sakit, Mitha!" Fanny meringis karena Mitha mencubit lengannya. "Abisnya mau gimana lagi, Non, kan cari kerjaan sekarang susah, makanya saya mau kerja apa aja, supir taksi pun jadilah yang penting halal," ucap driver. "Dengerin tuh," ucap Mitha. "Ya kan aneh aja gitu, biasanya cowok yang ganteng kayak Mas ini gengsi cari kerjaan, dari pada jadi supir taksi mendingan morotin cewek kaya," ucap Fanny. "Fanny, kamu suka keterlaluan deh," ucap Mitha. "Kan emang faktanya kayak gitu, Mitha, banyak kok cowok ganteng yang malah jadi simpenan tante-tante kaya," ucap Fanny. "Tapi gak semua cowok kayak gitu, Non, buktinya saya enggak, kalau saya jadi simpenan tante-tante kaya, ngapain saya kerja keras banting tulang buat membiayai kuliah dan keluarga saya," ucap driver. "Wah hebat, Mas masih kuliah?" tanya Mitha. "Iya, baru mau masuk kuliah, Non, biasalah karena hambatan ekonomi," jawab driver. "Yang penting ada kemauan dan kerja keras, Mas," ucap Mitha, sepanjang perjalanan mereka berbicara hingga mereka sampai di parkiran mall. "Ini, Mas, ongkosnya," ucap Mitha sambil memberikan dua lembar uang seratus ribuan. "Ini kebanyakan, Non," ucap driver. "Gak apa-apa, Mas, ambil aja buat beli es," ucap Mitha seraya tersenyum. "Terima kasih banyak, Non," ucap driver. "Sama-sama, Mas," ucap Mitha, lalu turun dari taksi, tapi Fanny masih diam di tempatnya. "Fan, ayo turun!" ucap Mitha. "Tunggu bentar, Mith, gue mau puas-puasin dulu liat pangeran yang turun dari langit," ucapan Fanny membuat Mitha semakin kesal. "FANNY, CEPETAN!" pekik Mitha, tapi sahabatnya itu tidak menghiraukan dia sama sekali. "Mas, boleh minta nomer w******p-nya gak?" tanya Fanny, tapi belum sempat driver itu menjawab, Mitha sudah menarik lengan Fanny hingga dia keluar dari mobil. "Mitha!" ucap Fanny dengan kesal. "Terima kasih, Mas, maafin teman saya ya," ucap Mitha lalu menutup pintu mobil, dan menarik Fanny masuk ke mall. "Kau sangat menggemaskan, Sayang." ucap driver taksi itu menyeringai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD