"Ana!" Kartika, wanita berusia menginjak enam puluh tahunan itu tersenyum penuh kebahagian melihat kedatangan sang putri tercinta. Ana pun sama. Mendengar sang mama memanggil namanya, begitu saja dia meninggalkan kopernya dan berlari memeluk mamanya. "Mama, aku rindu mama." Bagaimana pun, Ana tetaplah anak bungsu yang selama ini selalu dimanja oleh keluarganya. Jadi wajar meski telah menikah wanita itu akan bersikap demikian. "Kamu apa kabar sayang?" Kartika membingkai wajah sang putri dengan kedua tangan, lalu ia ciumi kedua pipi Ana. "Alhamdulillah aku baik. Mama sendiri?" "Mama tidak baik-baik saja karena sangat merindukan kamu." "Ehem!" Dan suara deheman itu, mengalihkan perhatian Ana. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan sang papa yang turut datang menjemputnya ke stasiun s