2. Pemahaman Yang Berbeda

1465 Words
Seorang gadis dengan setelan jeans pencil panjang berwarna navy, kaos oblong berwarna putih, jaket berwarna hijau army, sepatu kets berwarna putih, dan tas ransel yang melekat di punggungnya itu sedang fokus memotret bangunan tua yang ada di sekelilingnya. Rambutnya yang berwarna hijau tua itu diikat bagai ekor kuda sehingga bergoyang-goyang seiring pergerakan kepalanya. Hawa dingin tidak membuat mereka mengurungkan niat mereka untuk berburu foto-foto cantik yang akan mereka jadikan koleksi. Gadis itu bagaikan fotografer handal yang lihai memainkan lensa pada kameranya. Ini salah satu hobinya jika ada waktu luang atau sedang penat berada di rumah. Hobi memotretnya didapat dari sang ayah yang memiliki hobby fotografi juga. "Al, mendung nih." seru seorang lelaki berwajah chinese yang dari tadi hanya duduk di atas mobil sambil mengamati gadis itu memotret sana-sini tanpa henti. "Lo mau ngajak gue ke mana?" gadis tadi berteriak membalas seruan lelaki tampan tadi. "Lo-nya mau ke mana?" lelaki tadi malah balik bertanya. Gadis tadi berlari ke arah lelaki yang duduk di atas mobil. Merapikan kameranya dan memasukkan ke dalam ransel yang sedari tadi dia gendong. "Nyokap gue tadi bilang mau masak cumi asam cabai hijau. Lo penasaran kan sama nyokap gue? Gimana kalau kita makan malam di rumah gue aja." usul lelaki itu terlihat antusias. "Nggak ngerepotin nih?" "Ya ampun Alexa, kapan lo pernah ngerepotin gue sih? Udah ah ayo, kita makan malam di rumah gue." lelaki ini turun dari mobil dan memasuki pintu kemudi meninggalkan Alexa yang masih berpikir. Tin! Tin! Alexa berjingkat kaget saat sahabatnya itu membunyikan klakson mobil.  "Woy! Ayo, nunggu apa lagi sih lo?!" "Iya-iya, gue ikut. Dasar ya lo manusia paling nyebelin." Alexa langsung memasuki mobil dan duduk di sebelah bangku kemudi. Rafli, langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan bangunan kuno yang tadi sempat dijadikan objek memotret Alexa. "Yakin nih nggak ngerepotin?" Alexa menatap Rafli yang fokus ke jalan raya. "Enggak Al, lo mah kayak sama siapa aja deh." Mobil yang dikendarai Rafli sudah memasuki jalan menuju kota. Meninggalkan tempat terpencil yang sangat jarang dikunjungi ini. "Emang lo cerita apa aja sih ke nyokap lo?" Alexa bingung sendiri karena mama dari Rafli selalu saja memberinya bekal makan siang dengan menu yang sama, yaitu cumi asam cabai hijau. Alexa memang sangat menyukai masakan itu. Tapi kenapa mama-Rafli jadi tahu kalau Alexa menyukainya. Padahal antara mamanya Rafli dan Alexa sendiri belum pernah bertemu secara langsung. Mereka sama-sama mendengar cerita dari Rafli. "Gue cuma bilang kalau gue punya temen yang doyan makan cumi asam cabai hijau, kebetulan nyokap juga suka masak itu. Di situ nyokap selalu nitipin makan siang buat lo ke gue." Rafli masih fokus ke jalan raya. Dirinya tidak mau mati konyol bersama Alexa sebelum lulus kuliah. Alexa dan Rafli adalah sahabat dari jaman SMP sampai sekarang mereka sama-sama kuliah di satu kampus yang sama. Hanya saja jurusannya yang berbeda. Rafli memilih kuliah di jurusan farmasi sedangkan Alexa arsitektur. Meski gedung kelas mereka tidak bisa dibilang dekat, tapi mereka suka nongkrong bareng kalau ada jam kosong secara bersamaan. Pastinya itu tidak setiap hari, ditambah sekarang mereka sama-sama mahasiswa semester akhir yang fokus dengan penelitian, wawancara, skripsi dan masih banyak lagi yang harus mereka lalui. Mama dari Rafli sendiri sering menitipkan bekal makanan kepada Rafli untuk diberikan kepada Alexa sudah dari jaman SMP. Tapi memang dasarnya Alexa selalu susah setiap kali diajak main ke rumah Rafli. Alasannya tidak enak dengan saudaranya Rafli atau mamanya, papanya dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya. "Lo ngelamunin apa sih, Al? Nggak akan terjadi apa-apa. Tenang aja kali, keluarga gue nggak gigit kok." kekeh Rafli membuat Alexa beralih pandang ke arahnya. "Gue cuma takut aja dikira siapa-siapanya lo." "Buahaha..." tawa Rafli pecah mendengar jawaban Alexa. "Kok lo malah ketawa sih Raf, gue serius ini." Alexa sudah mengerucutkan bibirnya. "Nggak mungkin Al, lagi pula gue udah kenalin Karin ke mereka sebagai pacar gue." Rafli mencoba meredakan tawanya. Untung saja mereka sekarang berada di lampu merah, jika tidak sudah dapat dipastikan Rafli akan sengaja menepikan mobilnya hanya untuk menertawakan kegelisahan Alexa. "Yakin? Sumpah demi apa lo udah bawa Karin ke rumah dan ngenalin ke keluarga lo?" sekarang Alexa yang jadi kaget. "Bener Al, dan keluarga gue setuju kok sama hubungan gue sama Karin." Rafli kembali melajukan mobilnya saat lampu merah berubah menjadi hijau. "Cie... Yang udah dapet restu nih ye." Rafli hanya senyam-senyum sendiri mendengar Alexa menggodanya. Memang benar adanya, Rafli sudah memiliki kekasih dari setahun yang lalu. Karin adalah mahasiswi satu jurusan dengan Alexa, bahkan satu kelas. Tapi Rafli kenal Karin bukan dari Alexa, tapi karena mereka tidak sengaja bertemu saat keduanya berada di perpustakaan fakultas teknik. Pasti bingung kenapa Rafli berada di perpustakaan fakultas teknik, semua itu karena Alexa yang meminta bantuan Rafli untuk meminjam buku saat Alexa sakit. Di saat Rafli bingung mencari buku yang Alexa minta, sudut matanya melihat buku itu ada di ujung dan tinggal satu lagi. Tapi naas, ketika Rafli ingin mengambilnya ada tangan lain yang yang memegang tangannya. Sepertinya gadis itu juga menginginkan buku itu. Di situlah Rafli bertemu dengan Karin, karena Rafli terpesona akan kecantikan Karin. Rafli malah memberikan buku itu kepada Karin dan membuat Alexa marah karena tidak mendapatkan buku yang dia inginkan. "Udah yuk ah turun, udah sampai nih." Rafli mematikan mesin mobilnya saat dirinya sudah sampai di rumah yang bisa dibilang megah ini. "Eh Raf, yakin nih nggak papa gue main ke sini? Gue malu, takut juga." Alexa merasa tak enak kepada Rafli dan keluarganya. Apalagi dirinya akan ikut makan malam di rumah ini. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit, itu artinya waktu makan malam akan segera tiba. Rafli selalu bilang bahwa orang di rumahnya selalu makan malam pukul tujuh tepat tidak kurang dan tidak lebih. "Ya elah Al, takut amat sih lo kayak yang mau dimakan aja. Udah ah nggak usah berlebihan gitu. Ayo turun." Rafli sudah turun terlebih dahulu. Lelaki itu menunggu Alexa di depan mobil sampai gadis itu benar-benar keluar. *** Dugaan Alexa tentang mamanya Rafli yang menakutkan itu sirna saat tadi dirinya disambut hangat oleh Erika. Wanita yang selama ini selalu memberikan bekal makan siang untuknya meski belum pernah bertemu langsung. Aneh bukan wanita paruh baya itu. "Ada asisten rumah tangga Al, kamu tidak usah repot-repot mencuci piringnya segala." tegur Erika ketika melihat Alexa mencuci semua piring bekas makan malam. "Tidak apa Tante, saya tidak merasa keberatan sama sekali." "Kamu seusia Rafli?" Erika masih memperhatikan Alexa. "Iya Tante, kenapa?" "Enggak, saya cuma nanya saja. Terima kasih sudah mau menjadi teman Rafli selama ini, Al. Tante seneng karena dia punya teman sebaik kamu." "Ah... Tante bisa saja, saya juga seneng kok temenan sama Rafli." Alexa membilas tanganya menggunakan sabun yang selesai mencuci piring dan mengelapnya dengan serbet yang sudah tersedia. "Mau ikut Tante ke ruang tamu?" Erika tersenyum manis kepada Alexa. Alexa hanya tersenyum kikuk, pasalnya Erika ini sangat baik kepadanya. Bokongnya dia dudukkan ke sofa yang memang disediakan untuk orang yang bertamu. Erika pun duduk di samping Alexa. Sedangkan Rafli dia sibuk bermain dengan dua bocah di depan televisi. Setahu Alexa, Rafli memang memiliki dua keponakan dari kakaknya yang bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. "Rafli itu sedari kecil selalu saja dikucilkan oleh teman-temannya. Katanya Rafli itu anak yang culunlah, nggak gaullah atau masih banyak lagi macamnya. Dia selalu sendiri, tapi semenjak dia berteman dengan kamu. Dia berubah menjadi orang yang berani dan mau mengikuti perkembangan zaman. Makanya pas Tante denger kamu suka cumi asam cabai hijau, Tante selalu menitipkan kepada Rafli untuk kamu." Erika masih memperhatikan Rafli yang bermain dengan dua cucunya dari putranya yang pertama. "Oma! Kata Om Rafli, besok aku sama Kak Zulla mau diajak jalan-jalan ke kebun binatang." seorang anak kecil sekitar berusia lima tahun mendekati Erika dan mengadu akan janji dari om-nya. "Oma! Boleh ya? Lagi pula kan Ayah sibuk terus. Jarang ngajak aku sama Yudha main." sekarang giliran seorang gadis kecil sekitar usia tujuh tahun mendekati Erika. "Boleh dong, besok kan libur. Biar Om kalian itu tidak tidur terus." "Oh iya, Tante Alexa ikut ya. Biar dikira kita punya Bunda, setiap pergi sama Ayah atau Om Rafli, pasti orang-orang pada nanya Bunda. Kita kan nggak punya Bunda." wajah Zulla terlihat mendung saat mengucapkan hal barusan. Alexa jadi tersentuh mendengar ucapan Zulla barusan. Alexa memang mengetahui bahwa ibu dari kedua anak itu sudah meninggal dari empat tahun lalu. Berarti saat usia Yudha satu tahun dan Zulla tiga tahun. Kasihan sekali mereka tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. "Boleh, Tante akan ikut buat nemenin kalian dan pura-pura jadi Bunda kalian nanti saat jalan-jalan." Alexa mengusap pipi Yudha dan Zulla secara bergantian. "Jadi boleh dong kita panggil Tante jadi Bunda?" "Eum... Boleh dong, sini peluk Bundanya." Alexa merentangkan kedua tangannya supaya Zulla dan Yudha masuk ke dalam pelukannya. Erika yang melihat kejadian barusan menjadi terharu. Air mata itu susah payah ditahan oleh wanita kepala lima ini. Rafli hanya melihat dari kejauhan.  "Kamu mau jadi Bundanya mereka, Al?" tanya Erika sambil menahan tangisannya. "Ya maulah Tante." "Nggak keberatan?" tanya Erika sekali lagi. "Enggak sama sekali, Tante." Alexa tersenyum kepada Erika. Ini sebuah pemahaman yang berbeda. Alexa dengan pemahamannya yang hanya pura-pura menjadi bunda dari kedua bocah itu saat besok tiba. Sedangkan Erika dengan pemahamannya yang dianggap sebagai keseriusan. *** Next... 1 Juni 2020.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD