Bab 2. Bertemu denganmu lagi

1497 Words
"Vi, hari ini ada tamu." Suara Rahma terdengar dari sambungan telepon saat Vita sedang memeriksa hasil panen stroberi di area kebun belakang. "Katanya sih temennya Niko. Gue nggak bisa ke The Garden seminggu ke depan. Niko ada tugas luar kota dan gue harus ikut." Vita mengangguk meski sahabatnya itu tidak bisa melihat. "Oke, nggak apa-apa." "Ada Sandi dan Iwan yang bisa bantu." "Iya." "Tamunya dari mana?" "Dari Jakarta. Katanya sih mitra bisnis Niko." "Oh, oke." "Hanya nyambut aja, setelah itu biarin Sandi sama Iwan yang urus. Oke?" "Oke." Setelah telepon ditutup, Vita kembali fokus pada pekerjaannya. Tamu dari Jakarta, bukan hal baru. The Garden sudah cukup dikenal dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya hanya kebun buah kecil dengan beberapa petak sayuran organik. Namun berkat ide-ide Rahma dan kerja keras Vita, tempat itu berkembang menjadi destinasi wisata alam yang cukup ramai. Pengunjung bisa memetik buah langsung dari kebun. Belajar bercocok tanam. Memberi makan hewan ternak. Menikmati restoran dengan menu organik. Bahkan menginap di villa-villa kayu yang dibangun menyatu dengan alam. Untuk yang menyukai petualangan, tersedia area camping lengkap dengan fasilitas modern. Banyak keluarga dari berbagai kota datang untuk menghabiskan akhir pekan. Tidak sedikit pula perusahaan yang menjadikan The Garden sebagai lokasi gathering dan retreat. Karena itulah Vita tidak terlalu memikirkan tamu yang dimaksud Rahma. Baginya, tamu tetaplah tamu. Datang, menikmati suasana, lalu pulang. Sesederhana itu. Pukul sepuluh pagi, udara masih terasa sejuk meski matahari mulai meninggi. Vita berjalan menuju area resepsionis utama. Gaun panjang berwarna krem yang dikenakannya bergerak mengikuti langkah kaki. Rambut panjangnya diikat sederhana ke belakang. Penampilannya jauh dari kesan glamor seperti saat masih tinggal di Jakarta dulu. Kini ia lebih menyukai pakaian nyaman dan sederhana. "Bu Vita." Sandi berlari kecil menghampirinya. "Iya?" "Mobil tamunya udah masuk gerbang." Vita mengangguk. "Oke." Ia berdiri di teras utama sambil menunggu. Tak lama kemudian sebuah SUV hitam mewah memasuki area parkir. Mobil itu terlihat berbeda dibanding kendaraan tamu kebanyakan. Mungkin karena desainnya yang elegan atau karena harganya yang jelas tidak murah. Vita tidak terlalu memperhatikan. Matanya justru tertuju pada pemandangan kebun di belakang mobil. Hamparan hijau selalu berhasil membuat hatinya tenang. Pintu mobil terbuka, seorang pria turun lebih dulu. Tinggi. Mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya. Pria itu kemudian berbalik membuka pintu belakang dan membantu seorang wanita turun dari mobil. Vita tersenyum kecil. Ternyata bukan tamu sendirian. Mungkin datang bersama istrinya. Langkah pria itu perlahan mendekat, sementara Vita tetap berdiri di tempat. Belum menyadari bahwa hidupnya akan berubah dalam hitungan detik. "Selamat datang di The Garden." sapanya ramah. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya dan dunia Vita seakan berhenti berputar. Tubuhnya membeku, nafasnya tertahan. Jantungnya berdetak sangat keras hingga telinganya berdengung. Tidak. Tidak mungkin. Matanya membulat. Wajah itu. Tatapan itu. Lelaki yang selama lima tahun terakhir hanya hadir dalam mimpi dan kenangan. Ares. Sementara di sisi lain, Ares juga membeku di tempat. Sorot matanya berubah. Syok, tidak percaya. Lima tahun. Lima tahun mencari ke berbagai kota. Lima tahun menunggu kabar. Lima tahun hidup dengan penyesalan dan sekarang wanita itu berdiri tepat di depannya nyata. Vita. Nama itu langsung memenuhi kepalanya. Tubuh Ares bahkan sedikit bergetar. "Vi..." Suara itu terdengar lirih, namun cukup untuk membuat Vita kembali sadar. Wajahnya langsung memucat, tanpa sadar ia mundur selangkah, kemudian dua langkah. Tatapan mereka bertemu dan rasa sakit yang selama ini terkubur kembali menyeruak. Kenangan buruk, percakapan yang pernah ia dengar, hingga perpisahan, semuanya datang bersamaan. "Bu Vita?" Sandi yang berdiri di sampingnya tampak bingung. Vita segera memalingkan wajah, berusaha mengendalikan diri. Ia tidak boleh terlihat lemah. Dengan susah payah ia menarik napas, lalu memaksakan senyum profesional. "Selamat datang di The Garden, Pak." Kalimat itu terasa asing. Dingin. Formal. Dan menusuk hati Ares. Karena dulu wanita itu memanggilnya dengan banyak nama, Mas, Res, sayang. Namun sekarang, Pak. Seolah mereka tidak pernah saling mengenal. Seolah tidak pernah ada cinta di antara mereka. Ares menelan ludah. Kesulitan menyembunyikan emosinya. Sementara wanita di sampingnya mulai memperhatikan keduanya. "Vita?" Suara perempuan itu membuat suasana yang sempat membeku kembali bergerak. Vita menoleh. Di samping Ares berdiri seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang yang jatuh rapi di bahunya. Penampilannya elegan dan berkelas, menunjukkan bahwa ia berasal dari lingkungan yang sama dengan Ares. Untuk sesaat Vita hanya menatapnya, lalu mengenali wajah itu. Indria. Nama yang pernah begitu sering menghantui pikirannya. Wanita yang dicintai Ares sebelum dirinya hadir dalam kehidupan lelaki itu. Wanita yang menurut banyak orang adalah cinta pertama sekaligus cinta terbesar Ares. Dulu Vita tidak pernah bertemu langsung dengannya. Ia hanya melihat foto-foto lama tanpa sengaja dan mendengar cerita dari beberapa orang. Namun wajah itu terlalu mudah dikenali. Terlebih karena lima tahun lalu, sebelum memutuskan pergi, Vita sempat mendengar kabar bahwa Indria kembali ke Indonesia setelah lama tinggal di luar negeri. Dan sekarang wanita itu berdiri di samping Ares. Seolah memang tempatnya berada di sana. Sebuah rasa asing menyelinap di d**a Vita. Bukan cemburu. Bukan marah. Melainkan sesuatu yang lebih mirip kesadaran. Kesadaran bahwa hidup memang terus berjalan. Lima tahun bukan waktu yang singkat, sangat wajar jika Ares kembali bersama wanita yang pernah dicintainya. Mungkin mereka bahkan sudah menikah, atau mungkin sedang merencanakan pernikahan. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka datang ke The Garden untuk bulan madu atau sekadar menikmati liburan bersama. Bukankah itu yang selalu Vita yakini? Bahwa Ares pasti sudah bahagia. Bahwa lelaki itu akhirnya mendapatkan kehidupan yang diinginkannya dan kini kenyataan itu berdiri tepat di depan matanya. Vita menarik napas pelan. Lalu kembali mengenakan senyum profesionalnya. "Selamat datang di The Garden, Bu." Sapanya sopan. "Saya Vita selaku pengelola di sini." Indria tampak sedikit terkejut dengan sikap formal tersebut. Mungkin ia mengira Vita akan menyambutnya dengan lebih hangat atau justru lebih dingin namun tidak. Vita memilih menjadi profesional. Karena baginya, urusan pribadi tidak boleh mencampuri pekerjaan. "Sandi dan Iwan akan mengantarkan kalian ke villa." Vita mengisyaratkan ke arah dua karyawan yang sudah menunggu. "Kalau ada yang perlu dibantu, bisa langsung menghubungi mereka." Ares tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya masih tertuju pada Vita, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia mengalihkan pandangan walau hanya sedetik. Sementara Indria justru tersenyum lebar. "Nggak nyangka banget ya kita ketemu di sini." Sambil berkata demikian, Indria melingkarkan tangannya di lengan Ares. Gerakan yang terlihat biasa bagi pasangan, namun cukup jelas untuk menunjukkan kedekatan mereka. Seolah tanpa suara ia sedang menyatakan sesuatu. Bahwa Ares adalah miliknya. Bahwa mereka datang bersama. Bahwa hubungan mereka bukan sekadar hubungan biasa. Vita melihatnya tentu saja, namun ekspresinya tidak berubah sedikit pun. "Iya." Jawabannya singkat. "Saya harap kalian menikmati waktu selama di sini." Indria sedikit mengerutkan dahi. Barangkali tidak menyangka respons Vita akan sedingin itu, sebab jika berada di posisi Vita, mungkin ia akan merasa tidak nyaman. Atau minimal menunjukkan keterkejutan. Namun wanita di depannya justru terlihat tenang. Terlalu tenang. Seolah keberadaan Ares dan dirinya tidak memberikan pengaruh apa pun. Padahal kenyataannya tidak demikian. Di balik wajah tenang itu, Vita sedang berjuang keras menjaga dirinya sendiri. Karena melihat Ares saja sudah cukup sulit. Melihat Ares bersama Indria jauh lebih sulit. Dan melihat keduanya tampak serasi... Itu bahkan terasa seperti membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Namun Vita tidak ingin menunjukkannya. Tidak ada gunanya. Semua sudah berlalu, Ares memiliki hidupnya dan Vita memiliki hidupnya sendiri. "Kalau begitu kami duluan." Sandi yang menyadari suasana aneh segera mengambil alih. "Silakan ikut saya, Pak, Bu." Indria mengangguk. Namun sebelum pergi, ia kembali menatap Vita. "Kamu tinggal di sini sekarang?" "Iya." "Wah, keren juga. Tempatnya bagus banget." "Terima kasih." "Lima tahun ya?" Vita tersenyum tipis. "Lumayan lama." Indria mengangguk pelan. Lalu akhirnya berjalan mengikuti Sandi. Ares masih diam, kakinya seolah enggan melangkah. Tatapannya tidak lepas dari Vita. Begitu banyak hal yang ingin ia katakan, banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Kenapa pergi? Kenapa menghilang? Kenapa tidak memberinya kesempatan menjelaskan? Dan yang paling penting, apa Vita bahagia? Namun tidak satu pun kata berhasil keluar. Karena jarak yang tercipta selama lima tahun terasa terlalu besar. "Ares?" Panggilan Indria membuatnya tersadar. Lelaki itu akhirnya mengalihkan pandangan. Namun sebelum berbalik, matanya kembali bertemu dengan mata Vita. Hanya beberapa detik, tapi cukup membuat d**a keduanya terasa sesak. Lalu Ares pergi mengikuti langkah Indria menuju area villa. Vita tetap berdiri di tempat menunggu hingga ketiga sosok itu menghilang di balik deretan pohon pinus. Barulah ia menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. "Bu Vita..." Iwan yang sedari tadi memperhatikan dengan bingung mendekat. "Bu nggak apa-apa?" Vita segera menggeleng. "Nggak apa-apa." "Yakin?" "Yakin." Ia memaksakan senyum. Meski hatinya terasa jauh dari baik-baik saja. Dari kejauhan, mobil pengangkut barang melintas menuju area perkebunan. Beberapa wisatawan tampak tertawa sambil memetik stroberi. Anak-anak berlarian mengejar kelinci di taman edukasi. Semua terlihat normal. Semua berjalan seperti biasa, namun entah kenapa, Vita merasa hidupnya yang selama lima tahun tenang baru saja dilemparkan batu besar dan riaknya mulai menyebar ke mana-mana. Ia menatap ke arah jalan setapak yang tadi dilalui Ares dan Indria lalu memalingkan wajah. Tidak. Ia tidak boleh memikirkan mereka. Mereka hanyalah tamu. Tamu yang beberapa hari lagi akan pergi dan setelah itu semuanya akan kembali seperti semula. Setidaknya Itulah yang berusaha diyakinkan Vita kepada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD