bc

Terjerat Obsesi Pilot Arogan

book_age18+
106
FOLLOW
1K
READ
friends to lovers
heir/heiress
sweet
bxg
lighthearted
brilliant
office/work place
love at the first sight
office lady
like
intro-logo
Blurb

"Juanda Tower, Alpha-Sierra-812, request direct to final approach."

"Negative, Alpha-Sierra-812. Maintain altitude. Ikuti instruksi saya, Kapten."

Bagi Thalia Valeryne Danubrata, suara di balik frekuensi radio bandara adalah garis tipis antara keselamatan dan bencana. Sebagai Air Traffic Controller di Bandara Juanda, ia tak pernah membiarkan emosi masuk ke dalam ruang radar—sampai Kapten Valen Radcliffe Aksara mengambil alih kemudi pesawat rute utama.

Valen bukan sekadar pilot dengan jam terbang tinggi dan senyum memikat; ia adalah gangguan manis di tengah hiruk-pikuk lalu lintas udara Surabaya. Lewat kode-kode penerbangan dan sapaan terselubung di udara, Valen pelan-pelan menembus pertahanan Thalia. Namun, di dunia di mana satu detik keteledoran bisa berakibat fatal, cinta di antara mereka menjadi sasaran empuk.

Saat ambisi rekan kerja mengancam karier Thalia dan obsesi konyol kru kabin memicu intrik, sebuah pendaratan darurat di tengah badai menjadi ujian pamungkas. Di antara deru mesin jet dan instruksi menara kontrol, apakah Valen akan mendapatkan clearance terakhir untuk mendarat sempurna di hati Thalia?

chap-preview
Free preview
BAB 1
“Juanda Tower, Indonesia 302, meminta izin turun ke ketinggian empat belas ribu kaki.” Suara pilot itu terdengar agak terputus di antara desis tipis radio dan deru samar mesin pesawat dari balik headset yang melingkar erat di telinga Thalia Valeryne Danubrata. Di ruang kendali ruang udara Bandara Juanda yang temaram, ia tak bergeming sedikit pun. Posisinya duduk tegap, matanya fokus menatap dua layar radar utama yang menampilkan garis-garis hijau bergerak pelan. Udara pendingin ruangan yang dingin menusuk kulit lengannya, namun jemarinya tetap dengan lincah menggerakkan tetikus, mengunci koordinat belasan sinyal pesawat yang berdesakan masuk ke ruang udara Surabaya sore itu. “Indonesia 302, Juanda Radar, disetujui turun dan tahan di ketinggian empat belas ribu kaki, laporkan saat melewati dua puluh ribu kaki,” balas Thalia lugas. Suaranya jernih, tanpa ragu sedikit pun. “Dimengerti, turun ke empat belas ribu kaki, melintasi dua puluh ribu kaki, Indonesia 302,” jawab suara dari kokpit. Thalia menyandarkan punggungnya sejenak, membiarkan matanya memindai seluruh peta jalur penerbangan di depannya. Di ruang kontrol yang sengaja dibuat agak gelap ini, setiap detik punya arti yang sangat besar. Garis-garis petunjuk di layar radar bukan sekadar titik digital, melainkan ratusan nyawa manusia yang menggantungkan keselamatan pada ketepatan petunjuk di darat. Di sebelah kirinya, Ria menyenggol lengan Thalia pelan. Mulutnya tak berhenti mengunyah permen karet dengan santai. “Gila ya sore ini, Tha. Padatnya mirip antrean sembako. Kepala aku rasanya mau pecah ngeliatin daftar penerbangan yang terus nambah dari tadi,” keluh Ria sambil membetulkan letak bantalan headset-nya yang agak miring. “Fokus, Ri. Jangan sampai pikiran kamu terbagi. Kalau kamu hilang fokus lima detik saja, dua pesawat di sektor tiga itu jalurnya bisa terlalu dekat,” tegur Thalia tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari layar utama. “Iya, Bu Senior,” gumam Ria terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana di antara mereka. “Tapi beneran deh, dari tadi jalur utara ramai banget. Kamu enggak capek apa dari tadi belum bergeser dari duduk sama sekali? Ini udah hampir tiga jam lho.” “Nanti pas pergantian shift jam lima baru istirahat,” Thalia membetulkan letak mikrofon kecil di dekat bibirnya. “Sekarang tahan dulu. Lalu lintas udara lagi padat-padatnya karena ada pengalihan jalur dari Bali.” Ria mendesah pasrah, kembali menatap layarnya sendiri. “Aku tuh heran sama kamu. Suasana ruangan lagi sibuk gini, kamu kok bisa tenang banget kayak enggak punya beban? Padahal kalau dihitung-hitung, kita lagi memandu hampir tiga puluh penerbangan bersamaan.” “Panik enggak bakal menyelesaikan masalah, Ri,” sahut Thalia tenang. “Panik cuma bikin respons kamu terlambat dua detik. Dan di udara, dua detik itu jaraknya bisa ratusan meter.” “Iya, iya, Mbak Thalia yang paling logis,” canda Ria. “Makanya teman-teman di menara sebelah pada julukin kamu 'Cewek Es'. Enggak pernah kelihatan panik, enggak pernah kelihatan tersenyum pas kerja.” Thalia hanya menyunggingkan senyum amat tipis yang hampir tak terlihat di kegelapan ruangan. “Terserah mereka mau panggil apa. Yang penting semua pesawat mendarat dan terbang lagi dengan selamat.” “Tapi serius, Tha, kamu enggak capek dituntut sempurna terus?” tanya Ria, mengubah nada bicaranya jadi sedikit lebih serius. “Sejak masalah laporan kemarin yang berhasil kamu selesaikan, standar orang-orang ke kamu makin tinggi. Semua mata kayak mengawasi tiap kata yang keluar dari mulut kamu di radio.” “Standar di ruangan ini memang harus tinggi, Ri,” balas Thalia datar, mata cokelatnya tetap memperhatikan tiap pergerakan data di layar. “Kesalahan kecil di sini harganya terlalu mahal. Orang-orang enggak bakal peduli seberapa capek kita. Yang mereka butuhkan cuma kepastian kalau pesawat yang mereka tumpangi mendarat selamat.” “Iya sih, tapi kamu kan manusia biasa juga,” bisik Ria lagi. “Sekali-kali atur napasnya santai sedikit, jangan terlalu tegang.” “Aku santai kok,” kata Thalia pelan. “Rileksku ya memastikan semua titik di layar ini berjalan di jalurnya masing-masing.” Namun, tepat saat kalimat itu selesai terucap, mata Thalia yang tajam menangkap sebuah pergerakan aneh di sudut kanan layarnya. Sebuah pesawat sewaan penerbangan lokal—dengan kode panggilan PK-LKN—mendadak menaikkan ketinggiannya secara drastis. Titik sinyal berupa garis hijau tebal itu melenceng jauh dari petunjuk awal yang baru diberikan beberapa menit lalu. “Ri, coba cek tampilan sektor dua sekarang. Pesawat sewaan itu kenapa malah makin naik?” bisik Thalia cepat namun tetap tenang. Ria mendekatkan wajahnya ke layar, matanya membelalak kaget saat membaca angka ketinggian yang terus melonjak. “Eh? Lho, kok dia malah naik ke enam belas ribu kaki? Bukannya tadi disuruh tahan di sepuluh ribu kaki?” “Pilotnya salah readback,” tegas Thalia. “Dia salah tangkap petunjuk atau tertukar sama jadwal penerbangan lain.” Sinyal PK-LKN terus merayap naik dengan lumayan cepat. Pesawat itu bergerak memotong tepat jalur penurunan pesawat komersial besar yang sedang bersiap mendarat dari arah berlawanan di atasnya. Jarak ketinggian di antara kedua pesawat itu menyusut dengan sangat cepat. Jika dibiarkan lima belas detik lagi tanpa dikoreksi, jarak aman bakal terlanggar dan bahaya besar bisa terjadi. Ria menahan napasnya, jemarinya membeku di atas meja. “Tha, itu dekat banget sama pesawat Garuda! Jaraknya makin tipis!” “Tenang,” potong Thalia singkat. Tanpa membuang waktu sedikit pun, Thalia menekan tombol bicara pada alat kendalinya. Suaranya tetap tenang, stabil, dan jauh dari nada panik. “PK-LKN, Juanda Radar! Hentikan naik ketinggian sekarang juga! Tahan di ketinggian sepuluh ribu kaki!” Frekuensi radio hening sejenak. Suara dengung statis memenuhi headset Thalia selama dua detik yang terasa panjang. Lalu, suara pilot pesawat sewaan itu terdengar dengan nada yang agak gugup. “Umm ... Juanda, PK-LKN, konfirmasi ulang ... bukannya tadi kami diarahkan ke ketinggian enam belas ribu kaki?” “PK-LKN, tidak benar!” potong Thalia tegas. Suaranya terdengar sangat jelas memecah keheningan radio. “Petunjuk awal Anda adalah sepuluh ribu kaki. Ada pesawat komersial tepat di atas Anda pada ketinggian empat belas ribu kaki. Segera turun ke sepuluh ribu kaki dan belokkan arah ke posisi sembilan puluh derajat!” Tekanan dalam suara Thalia begitu nyata hingga sang pilot di kokpit tidak berani mendebat lagi. “A-aduh, dimengerti, Juanda! Turun ke sepuluh ribu kaki, belok arah sembilan puluh derajat, PK-LKN minta maaf,” sahut pilot itu terbata-bata dengan nada cemas yang jelas terdengar. Di layar radar, titik sinyal pesawat sewaan tersebut akhirnya berhenti merayap naik. Garis penunjuk arahnya berbelok tegas ke arah kanan, menghindar secara pas dari jalur kritis pesawat komersial. Hidung pesawat kecil itu dipaksa turun kembali ke ketinggian aman yang seharusnya. Ria mengembuskan napas lega yang panjang, lalu menepuk dadanya sendiri yang berdebar kencang. “Astaga, hampir saja aku kena serangan jantung sore-sore gini, Tha. Agak kapok deh kalau dapat jadwal bareng pilot pesawat sewaan yang suka melamun gitu.” “Bukan kapok, tapi kamu yang harus lebih jeli melihat gerakan awal titik sinyalnya,” kata Thalia sambil menyandarkan punggungnya tipis ke sandaran kursi kerjanya. Jemarinya meraih pulpen digital, mencatat secara rinci posisi, waktu kejadian, dan jenis kesalahan pilot pada log sheet digital di depannya. “Satu detik kita terlambat sadar, akibatnya bukan cuma teguran tertulis dari kantor.” “Iya, aku tahu,” balas Ria tersenyum kecil, mencoba menutupi rasa takutnya. “Untung ada kamu yang matanya tajam banget. Kalau aku yang pegang sektor itu tadi, mungkin suara aku udah tinggi karena panik di radio.” “Di ruangan ini, rasa panik itu menular,” ujar Thalia datar sambil menyelesaikan catatannya. “Kalau suara kamu terdengar panik di radio, pilot di atas sana yang lagi kebingungan bakal sepuluh kali lebih panik. Dan pilot yang panik cenderung bikin kesalahan lebih besar.” “Bener juga sih,” gumam Ria. “Tapi asli ya, suara kamu pas mengoreksi tadi tegas banget. Pantesan pilotnya langsung nurut tanpa protes.” “Dia nurut karena dia sadar dia salah dan nyawanya ada di tangan petunjuk kita,” balas Thalia dingin. Ia menutup catatan kejadian tersebut, memastikan seluruh jalur udara di bawah kendalinya kembali berada dalam jarak aman yang ideal. Ruang kontrol kembali berada dalam ritme dengung pendingin udara yang konstan. Thalia menyesap sedikit air dari botol minumnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Namun, belum sempat ia meletakkan botol itu kembali ke meja, sebuah bunyi beep halus berbunyi di alat kendalinya. Sebuah titik sinyal baru pesawat Airbus A330 dari Jakarta masuk ke batas ruang udara Surabaya. Suara berat, hangat, dan sangat tenang mengalun langsung di headset Thalia, “Juanda Radar, Indonesia 812, Flight Level 280, Captain Valen Aksara on controls.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.6K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.8K
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.4K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
171.0K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook