RR.4

552 Words

Mendengar ucapan Raja, spontan Jovan melihat ke arah bawah. Ia melihat kedua kaki yang terlihat sedikit di lantai. Hanya terlihat bagian betis dan telapak kaki serta jarinya. Bagian lutut ke atas sama sekali tidak terlihat karena tetutup dengan tumpukan barang. Jovan masi menyoroti dengan lampu senter dari ponselnya. Tetapi ia bersembunyi di balik tubh kekar Raja. Peluhnya mulai becucuran karena ketakutan. "Jovan! Lo gak usah tarik -tarik baju gue!" umpat Raja kesal. "Cuma megang doang," bela Jovan untuk dirinya sendiri. "Lo tuh ya! Gue pikir, lo pemeberani, ternyata cuma segini doang keberanian lo!" ucap Raja semain kesal. "Gue berani Raja. Cuma ..." ucapan Jovan teenti karena suara rintihanitu semakin terdengar. Raja bergegas mendekati kai itu dan berteriak keras. "Ada orang! Mund

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD