Selepas makan malam bersama Mama Lena dan Papa Lembu, Cila berpamitan dengan alasan sudah terlalu malam. Senyumnya manis, tubuhnya tampak lelah, tetapi hatinya sama sekali tidak tenang. Ia berjanji akan datang kembali esok untuk membantu persiapan pertunangan, padahal pikirannya sudah terarah pada satu tempat lain pada sosok yang lain. Jovan tak kunjung pulang, ponselnya pun mati. Semakin larut, semakin Cila merasa bebas. Kesempatan itu seolah memanggilnya. Ia menolak tawaran Mama Lena untuk diantar supir, memilih sebuah taksi malam yang lampunya redup. Tangannya gemetar kecil ketika mengetik alamat hotel yang Markus kirim. Di dalam taksi, pandangannya kosong menatap jendela, tapi jantungnya berdebar kencang. Seperti seorang pencuri yang tahu dirinya sedang bermain api. Pertunangan denga

