Part 18

1053 Words
Malam sudah turun ketika sebagian besar lampu di Aldebaran Group mulai dimatikan. Namun di lantai eksekutif—lampu ruang kerja Samuel masih menyala terang. Samuel duduk di kursinya dengan layar laptop terbuka di depannya. Beberapa dokumen digital sedang ia pelajari dengan serius. Di layar itu terpampang satu nama yang sejak siang terus berputar di pikirannya. Sangster. Samuel mengetukkan jarinya perlahan di meja. Beberapa menit kemudian pintu ruang kerjanya diketuk. "Masuk." Hansuke masuk sambil membawa sebuah tablet, "Kamu cepat sekali minta laporan." ketus Hansuke. Rasanya hari ini dia sudah sangat lelah dengan berbagai meeting yang ada. Tapi, sepupu tercintanya memberikan sebuah pekerjaan yang membuatnya tertarik. Bagi Hansuke masalah ini harusnya sudah berhenti sejak kabar meninggalnya mendiang ibunda Samuel. Tapi, kasus ini kembali di angkat dan sepertinya akan berhubungan dengan Sangster Family. Hansuke harap, sepupunya tidak bertindak gegabah kali ini. Karena jika salah langkah bukan hanya satu orang yang tersakiti. Ada banyak manusia yang tentunya akan jadi korbannya. Termasuk keluarga mereka. Samuel tidak menoleh. Matanya fokus pada layar laptop yang masih menyala sangat terang. Matanya fokus dengan apa yang ada di depannya, tapi pikirannya mulai bercabang memikirkan banyak hal. "Aku tidak suka menunggu." jawab Samuel dingin. Hansuke menghela napas kecil sebelum meletakkan tablet itu di meja, "Tidak banyak data yang tersisa tentang keluarga Sangster." ungkap Hansuke jujur. Di saat mencari data Sangster di sini, Hansuke malah menemukan bukti mengenai Ibunda Samuel yang pernah bertemu mantan Samuel sebelum akhirnya meninggal dunia. Hanya saja jika Hansuke ungkit saat ini, pasti Samuel akan mengelak dan menganggap Hansuke memihak Sangster, alangkah baiknya dia diam saja untuk saat ini. Entah mengapa Hansuke merasa Samuel menyembunyikan sesuatu darinya. Samuel akhirnya mengangkat pandangannya. Tatapan keduanya bertemu. Tentu saja dengan isi kepala yang berbeda. "Kenapa?" tanya Samuel menuntut penjelasan sepupunya yang sangat dia percayai saat ini. "Sebagian besar arsipnya... seperti sengaja dihapus.” kata Hansuke dengan ragu. Samuel mengangkat alis, "Dihapus oleh siapa?" tanya Samuel dingin. Samuel rasa yang bisa mengakses ruangan cctv selain dirinya ada keluarganya dan tentu saja seseorang yang ada di pikiran Samuel saat ini. Hansuke menggeleng. Tatapannya menatap raut wajah Samuel yang berubah seolah menyembunyikan sesuatu. "Belum tahu." jawabnya singkat. Ia menampilkan beberapa data di layar. Data yang ditemukan oleh Hansuke saat ini dan tentunya ada beberapa yang dia rahasiakan dari Samuel. Entah alasannya apa dia melakukan semua itu, sebaiknya ia simpan saja dahulu apa yang dia temukan saat ini hingga waktunya tiba. "Yang jelas keluarga ini dulu cukup dikenal di dunia bisnis. Grady Sangster bahkan sempat bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Begitu juga dengan Raka. Namun semuanya seakan hilang bak di telan bumi sejak kejadian di club malam waktu itu." jelas Hansuke. Samuel memperhatikan layar itu dengan serius. Tatapannya menajam saat melihat beberapa bukti yang Hansuke siapkan. "Termasuk kita?" tanyanya. Hansuke terdiam sejenak. "...Ya." Samuel menyipitkan matanya. "Kenapa aku tidak pernah tahu?" tanyanya. Hansuke tidak langsung menjawab. "Kerja sama itu terjadi cukup lama." Hansuke membuka suaranya seolah terasa berat untuk menjelaskan lebih lanjut. "Berapa lama?" tanya Samuel. Hansuke menatap Samuel. "Sebelum ibumu meninggal. Dan sebelum kedua orang tua Grady di makamkan. Dari pencarianku, kedua orang tua Grady sempat bertemu dengan Uncle sebelum pada akhirnya di kabarkan meninggal dunia. Bukankah itu aneh?" tanya Hansuke. Sengaja membuat saudaranya berpikir ke masa lalu untuk menyadarkan dia suatu hal. Samuel langsung terdiam. Beberapa detik ruangan itu benar-benar sunyi. "Lanjutkan." Hansuke menarik napas. "Setelah kejadian yang melibatkan Andin dan Grady, keluarga Sangster seperti menghilang dari dunia bisnis." Samuel bersandar di kursinya. Ia ingat kejadian ini, bahkan ketika semua keluarga Sangster menghilang dan Andin ikut pergi bersamanya, rasanya Samuel benci sekali dengan Andin dan sahabatnya yang memilih melarikan diri sejak kejadian itu. "Dan sekarang... tiba-tiba dua orang dengan nama Sangster muncul di sekitarku." kata Samuel sinis. Ia tersenyum tipis. Sangat tipis. "Menarik." ungkapnya. Hansuke menatapnya. Perasaan Hansuke tidak enak. "Apa kamu curiga pada Gya?" tembak Hansuke langsung. Samuel tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali ke layar laptop. "Aku tidak suka kebetulan." **** Di sisi lain kota—Raka berdiri di balkon sebuah apartemen. Angin malam berhembus pelan. Di tangannya terdapat sebuah ponsel yang baru saja ia tutup panggilannya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibandingkan saat di kantor tadi. "Dia sudah mulai menyelidiki." Suara dari telepon sebelumnya masih terngiang di kepalanya. Raka menghela napas panjang. Ia tahu cepat atau lambat Samuel akan mencari tahu tentang Gya. Dan ketika itu terjadi—masa lalu yang selama ini mereka sembunyikan akan terbongkar. "Aku harus bergerak lebih dulu." gumamnya pelan. Tatapannya menatap jauh ke arah kota yang penuh cahaya. "Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka menyakitinya lagi." **** Sementara itu—di rumah besar keluarga Aldebaran. Tuan Aldebaran berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Map tentang keluarga Sangster masih berada di tangannya. Ia membuka kembali salah satu halaman. Foto lama itu kembali terlihat. Seorang pria muda—Grady Sangster. Sahabat ponakan dan anaknya. Lelaki yang dia anggap anak sendiri. Tuan Aldebaran menatap foto itu lama sekali. Rasanya seperti sedang tengah bernostalgia masa lalu. "Grady..." Ia bergumam pelan. "Seharusnya kamu tidak kembali. Seharusnya kamu tetap sembunyi membawa luka yang kamu berikan pada anakku.” katanya. Ia menutup map tersebut dengan perlahan. Lalu berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil ponselnya. Beberapa detik kemudian seseorang menjawab panggilannya. "Cari tahu sesuatu untuk saya. Sebagian clue sudah saya kirimkan melalui chat.” kata Aldebaran dengan nada tegasnya. "Baik, Tuan." Aldebaran kembali duduk di kursinya. Matanya menerawang jauh. Lalu melanjutkan kembali apa yang ingin ia sampaikan pada anak buahnya, "Aku ingin tahu semua yang dilakukan oleh Raka Sangster sejak dia datang ke kota ini. Hingga alasan dia bersembunyi seperti tikus di masa lalu.” jelasnya. Ia berhenti sejenak, "Dan juga..." Tatapannya jatuh pada foto kecil Gya yang masih terlihat di dokumen. "...awasi perempuan itu." Sambungan telepon ditutup. Rasanya sudah cukup apa yang ingin dia sampaikan pada anak buahnya. Lelaki yang sudah tak muda lagi itu menyandarkan tubuhnya di kursi. Tatapannya perlahan berubah lebih dingin. "Kalau keluarga Sangster benar-benar kembali..." Ia tersenyum tipis. Seperti seseorang yang tengah merancang suatu hal yang luar biasa. "...maka permainan lama kita harus segera diselesaikan." Aldebaran termenung di tempatnya. Pikirannya terpaku pada tiga kejadian di masa lalu. Club malam. Kecelakaan. rumah sakit. Aldebaran mengetuk jarinya di atas meja. Rasanya ada yang janggal. Selain masalah yang belum tuntas di masa lalu, pasti ada yang disembunyikan Sangster berhubungan dengannya. Tapi apa? Dan kenapa? "Samuel... aku harus pantau anak itu juga." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD