Lampu kamar hotel redup, memantulkan cahaya keemasan pada dinding kaca yang menghadap kota. Jam di dinding menunjukkan pukul 21.03 ketika pintu kamar Hotel CultureX diketuk pelan.
Samuel Aldebaran berdiri di dekat minibar, segelas wine masih berada di tangannya. Senyum tipis terlukis di bibirnya—senyum seseorang yang sudah memikirkan sepuluh langkah ke depan.
Tok. Tok.
"Masuk," ucapnya tenang.
Pintu terbuka perlahan. Sabrina muncul dengan gaun hitam yang membalut tubuhnya, rambutnya tergerai rapi. Matanya langsung menangkap sosok Samuel yang berdiri santai seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Samuel..." suaranya pelan, sedikit ragu.
Samuel meneguk wine-nya sebelum menaruh gelas itu di meja.
"Duduklah," katanya santai. "Kamu yang mengajakku bertemu."
Sabrina melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di sofa, namun tubuhnya terlihat tegang.
"Aku tahu kamu marah," katanya cepat. "Yang terjadi di depan teman-temanmu tadi—"
Samuel tertawa pelan.
Bukan tawa marah. Justru terlalu tenang.
"Itu bukan masalah besar."
Sabrina mengerutkan kening.
Samuel berjalan mendekat, lalu duduk di kursi tepat di seberangnya. Tatapannya tajam namun lembut, seperti pisau yang dibungkus sutra.
"Justru... kamu membuat semuanya lebih menarik."
"Apa maksudmu?" Sabrina bingung.
Samuel menyandarkan tubuhnya.
"Kamu tahu siapa Gya Sangster bagi mereka?" tanyanya tiba-tiba.
Sabrina mengangguk pelan.
"Perempuan yang mereka lindungi."
Samuel tersenyum.
"Dan sekarang," katanya pelan, "kamu sudah membuat mereka melihat sisi lain dari diriku."
"Aku tidak sengaja—"
"Aku tahu."
Samuel memotongnya lembut.
Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Makanya aku butuh bantuanmu."
Sabrina terdiam.
"Bantuan... apa?"
Samuel menatapnya dalam-dalam, seolah sedang menimbang apakah perempuan di depannya cukup berguna atau tidak.
"Kamu dekat dengan mereka sekarang," katanya pelan. "Kamu bisa masuk ke lingkaran mereka tanpa dicurigai."
Sabrina mulai mengerti arah pembicaraan itu.
"Kamu ingin aku... memata-matai mereka?"
Samuel tidak langsung menjawab. Ia mengambil kembali gelas wine-nya, memutarnya pelan sebelum meneguk sedikit.
"Bukan memata-matai."
Ia menatap Sabrina lagi.
"Anggap saja... membantu seseorang mendapatkan keadilan."
"Keadilan?" Sabrina mengulang.
Samuel tersenyum tipis, namun kali ini ada sesuatu yang gelap di matanya.
"Mereka menghancurkan keluargaku," katanya pelan. "Satu per satu."
Sabrina membeku.
"Dan sekarang," lanjut Samuel dengan suara sangat tenang, "aku hanya mengembalikan semuanya."
Ruangan itu menjadi sunyi beberapa detik.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sabrina akhirnya.
Samuel berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap kota malam.
Lampu-lampu jalan terlihat seperti papan permainan raksasa dari atas sana.
"Mulai besok," katanya tanpa menoleh, "kamu tetap dekat dengan Gya."
"Dengar semua yang mereka rencanakan."
"Dan ceritakan semuanya padaku."
Sabrina menelan ludah.
"Lalu... setelah itu?"
Samuel menoleh. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
"Kita jatuhkan mereka satu per satu."
Matanya berkilat.
"Seperti permainan catur."
Samuel lalu berjalan kembali mendekat dan berhenti tepat di depan Sabrina.
"Kamu hanya perlu menjadi bidakku."
Ia mengulurkan tangannya.
"Dan aku akan memastikan... kamu menang bersamaku."
Sabrina menatap tangan itu beberapa detik.
Tanpa ia sadari—
di saat itulah permainan Samuel Aldebaran benar-benar dimulai.
****
Samuel masih berdiri di dekat jendela kamar hotel ketika Sabrina perlahan bangkit dari sofa. Hujan di luar mulai turun tipis, membuat cahaya kota terlihat kabur di balik kaca.
Sabrina memandangi punggung Samuel beberapa detik.
"Aku masih tidak mengerti," katanya pelan. "Kenapa kamu memilihku?"
Samuel tidak langsung menoleh.
"Kamu berada di tempat yang tepat," jawabnya santai. "Dan kamu cukup berani."
Sabrina tersenyum tipis, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang berputar cepat. Ia melangkah mendekat, tumit sepatunya terdengar pelan di lantai marmer kamar hotel.
"Berani?" ulangnya.
Samuel akhirnya menoleh. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
"Banyak orang takut padaku sekarang," katanya. "Kamu tidak."
Sabrina tertawa kecil.
"Aku seharusnya takut?"
Samuel mengangkat bahu ringan.
"Mungkin."
Beberapa detik mereka saling menatap. Suasana kamar terasa semakin sunyi, hanya suara hujan yang terdengar samar dari luar.
Sabrina melangkah lebih dekat lagi.
Terlalu dekat.
Samuel menyadarinya, tetapi ia tidak bergerak mundur.
"Kamu tahu sesuatu, Samuel?" bisik Sabrina pelan.
"Apa?"
"Orang yang ingin membalas dendam biasanya terlalu fokus pada rencananya... sampai lupa melihat apa yang ada di depannya."
Samuel sedikit mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Sabrina tersenyum tipis.
"Bahwa tidak semua orang yang kamu ajak bermain... benar-benar hanya bidak."
Kalimat itu diucapkan sangat pelan.
Namun sebelum Samuel sempat menanggapi, Sabrina sudah berdiri tepat di depannya.
Tangannya perlahan menyentuh lengan Samuel, seolah hanya ingin menahan langkahnya.
Samuel menatapnya tajam.
"Sabrina—"
Kalimat itu tidak pernah selesai.
Karena Sabrina sudah lebih dulu menarik kerah kemeja Samuel sedikit ke arahnya.
Semuanya terjadi cepat. Terlalu cepat bahkan untuk seseorang seperti Samuel yang biasanya selalu mengendalikan keadaan.
Awalnya bibir keduanya hanya saling terdiam. Hingga aura panas sekitar membuat keduanya saling menggerakkan bibir mereka sampai lupa tujuan mereka berbicara malam ini. Ranjang yang tenang kini sudah berantakan. Potongan-potongan pakaian berserakan di lantai. Bahkan cairan cinta yang ada di mana-mana tidak menghentikan kegilaan keduanya untuk saling melepaskan hasrat masing-masing. Samuel adalah pemain perempuan. Maka Sabrina adalah pemain laki-laki. Lepas dikhianati Grady Sangster dia merusak dirinya sendiri begitu pula dengan Samuel yang dikhianati cinta pertamanya yang namanya sampai saat ini masih ada dalam hatinya.
Mereka semua punya rencana.
Samuel masuk jebakan Sabrina atau Sabrina yang masuk dalam permainan gelap Samuel selama ini? Hanya tunggu bidak catur mana yang kalah dalam permainan saat ini.
ruangan itu kembali sunyi.
Hujan di luar semakin deras, menutupi segala suara dari dalam kamar.
Lampu kamar yang redup membuat bayangan mereka menyatu di dinding kaca.
Tidak ada kata-kata.
Tidak ada rencana.
Hanya satu kesalahan yang terjadi di tengah permainan yang seharusnya penuh perhitungan.
Samuel menggila dan Sabrina pun juga. Keduanya lupa ketika hasrat sudah menggelora.
****
Beberapa waktu kemudian.
Samuel duduk di tepi tempat tidur, tangannya menyisir rambutnya ke belakang. Wajahnya kembali datar, meski pikirannya bekerja cepat seperti biasa.
Sabrina sudah berdiri di dekat pintu, merapikan tas kecilnya.
Ia menoleh ke arah Samuel dengan senyum samar.
"Jadi..." katanya ringan. "Apakah aku masih bidak caturmu?"
Samuel menatapnya beberapa detik.
Tatapannya sulit dibaca.
"Permainan ini baru dimulai," jawabnya pelan.
Sabrina terkekeh kecil.
"Bagus."
Ia membuka pintu kamar.
Namun sebelum keluar, Sabrina berhenti sebentar dan menoleh lagi.
"Aku harap kamu tahu satu hal, Samuel."
Samuel mengangkat alisnya sedikit.
"Apa?"
Sabrina tersenyum.
"Tidak semua jebakan terlihat seperti jebakan."
Lalu ia keluar dari kamar itu.
Pintu tertutup perlahan.
Samuel tetap duduk di tempatnya beberapa detik.
Wajahnya tenang.
Namun di matanya ada sesuatu yang berubah.
Ia mengambil ponselnya, membuka layar, lalu menatap pesan yang belum sempat ia kirim.
Perintah untuk mengawasi Sabrina.
Samuel menghela napas pelan.
"Menarik..." gumamnya.
Untuk pertama kalinya malam itu—
Samuel Aldebaran tidak sepenuhnya yakin siapa yang sedang memegang kendali permainan.
****
Klik.
Suara kecil itu terasa lebih keras dari seharusnya di lorong hotel yang sunyi. Sabrina berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil, tetapi wajahnya sudah kembali tenang—seolah tidak terjadi apa-apa di dalam kamar itu.
Ia merapikan rambutnya sedikit, lalu berjalan menyusuri koridor panjang Hotel CultureX.
Karpet tebal meredam langkah kakinya.
Di tangannya, ponsel sudah menyala. Layarnya menampilkan kamera depan sebentar. Sabrina memastikan riasannya masih rapi.
"Perfect," gumamnya pelan.
Lift di ujung lorong terbuka dengan bunyi ding.
Sabrina melangkah masuk.
Pintu lift perlahan menutup, memantulkan bayangannya di kaca. Ia menatap pantulan dirinya sendiri beberapa detik.
Lalu senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
"Samuel Aldebaran..." bisiknya pelan.
Ia menekan tombol Lobby.
Lift mulai turun.
Di dalam keheningan itu, Sabrina membuka aplikasi di ponselnya. Sebuah rekaman suara terlihat baru saja tersimpan.
Durasi: 07:42
Sabrina memutar rekaman itu sebentar.
Suara Samuel terdengar jelas di sana.
"...Mulai besok kamu tetap dekat dengan Gya. Dengarkan semua yang mereka rencanakan..."
Sabrina menghentikan rekaman itu.
Matanya berkilat.
"Terima kasih untuk pengakuannya," katanya pelan.
Lift berhenti di lantai dasar.
Ding.
Pintu terbuka.
Lobby hotel terlihat mewah dan ramai dengan beberapa tamu yang baru datang. Aroma parfum mahal dan kopi dari lounge menyatu di udara.
Sabrina berjalan santai melewati resepsionis, seolah ia hanya tamu biasa yang baru selesai bertemu seseorang.
Di luar hotel, hujan sudah mulai reda.
Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah.
Sabrina berhenti di bawah kanopi pintu masuk.
Ia membuka ponselnya lagi.
Satu pesan baru masuk.
Nomor Tidak Dikenal
"Apakah berhasil?"
Sabrina menatap pesan itu beberapa detik.
Lalu ia mengetik balasan singkat.
"Lebih dari yang kamu bayangkan."
Beberapa detik kemudian balasan datang.
"Bagus. Samuel tidak boleh tahu siapa yang sebenarnya kamu bantu."
Sabrina tersenyum tipis.
Ia menatap kembali bangunan hotel tinggi di depannya—tepat ke arah lantai tempat Samuel berada.
"Dia bahkan tidak tahu," bisiknya pelan.
Hujan menetes dari ujung kanopi.
Sabrina memasukkan ponselnya ke tas.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu masuk hotel.
Pintu mobil terbuka.
Namun sebelum Sabrina sempat melangkah—
sepasang mata memperhatikannya dari seberang jalan.
Raka.
Ia berdiri di bawah lampu jalan, sebagian wajahnya tertutup bayangan.
Tatapannya tajam.
Ia melihat semuanya.
Sabrina keluar dari hotel Samuel.
Larut malam.
Sendirian.
Raka mengepalkan tangannya perlahan.
"Jadi benar..." gumamnya pelan.
Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu.
Tapi satu hal jelas.
Permainan Samuel Aldebaran sudah dimulai.
Dan tanpa disadari siapa pun—
Sabrina kini berada tepat di tengah medan perang itu.
Mobil hitam itu membawa Sabrina pergi.
Sementara Raka tetap berdiri di tempatnya, menatap mobil yang menjauh.
Di dalam pikirannya hanya ada satu nama yang berputar.
Samuel Aldebaran.
Dan kali ini—
Raka bersumpah tidak akan membiarkan pria itu menghancurkan siapa pun lagi.
****