Bab 10. Gubuk di tengah sawah

1309 Words
Udara di desa kembali terasa lembap setelah semalaman diguyur hujan. Aroma tanah basah menyeruak sampai ke dapur, di mana Bu Lastri sedang menata bekal di dalam rantang bertingkat. Di dalamnya, ada nasi putih hangat, tumis kangkung, sambal terasi, dan beberapa potong tempe goreng. Winona berdiri di pintu dapur, masih mengenakan daster lembut berwarna peach, rambutnya diikat seadanya. Sejak tadi, ia hanya memerhatikan mertuanya yang sibuk menyiapkan bekal tanpa di minta bantuan. "Nona, kamu tidak mau bantuin?" tegur Bu Lastri, tanpa menatapnya. Winona tersentak. "Eh, iya, Bu. Aku bantu apa?" "Tidak usah, ini udah selesai. Tapi, kamu nanti yang antar makan ke sawah, ya. Sekalian lihat suamimu bekerja biar tahu rasanya hidup di bawah panas matahari." Winona membeku di tempat. "Ke sawah, Bu?" "Iya. Tidak keberatan kalau ibu suruh kamu antar makanan untuk Abi dan bapakmu?" "Tidak, Bu. Hanya saja aku belum pernah ke sawah." "Ya sudah berarti ini perdana kamu pergi ke sawah. Nanti ditemenin sama Antika, anaknya Bu Neneng. Tadi ibu sudah bilang juga sama dia," sahut Bu Lastri. Nama Antika tidak asing di telinga Winona. Gadis kecil itu anak Bu Neneng, berusia dua belas tahun yang sering main ke rumah mereka. Ceria, cerewet, dan suka sekali bercerita. Beberapa waktu kemudian, Winona sudah siap. Gadis itu mengenakan topi lebar pinjaman dari Bu Lastri dan membawa rantang di tangan kanan. Saat melangkah keluar, suara Antika sudah terdengar memanggil. "Mbak Winona, ayo!" Winona tersenyum lega. "Iya, kamu saja yang jadi pemandu jalan, ya. Mbak takut nyasar." "Tenang saja, Mbak. Aku di sini bakalan pimpin jalan," sahut Antika sambil tertawa. Mereka berjalan di jalan setapak yang diapit oleh hamparan padi muda yang hijau dan berkilau tertimpa sinar matahari. Winona menatap sekeliling, terpesona. Meskipun panas, suasana itu terasa damai dan jauh dari hiruk pikuk kota. "Segar dan sejuk udara di sini," ujar Winona pelan. "Iya dong, Mbak. Mbak lama-lama pasti bakalan betah tinggal di sini." Antika Langkah mereka berhenti di sebuah gubuk kecil di tengah sawah. Di sana, terlihat dua sosok pria yang tengah bekerja. Abimanyu sedang membajak tanah dengan cangkul besar di tangan, sementara Pak Arman, ayahnya, menanam bibit padi satu per satu. Peluh membasahi wajah keduanya. Pakaian mereka kotor, tapi raut wajahnya tenang, seperti menikmati pekerjaan itu. Winona menatap lama, hatinya terasa bergetar. Ia belum pernah melihat seseorang bekerja sekeras itu, apalagi suaminya sendiri. "Mas Abi!" panggil Antika sambil melambaikan tangannya. Abimanyu menoleh. Fokus pria itu langsung tertuju pada Winona dan senyum hangat langsung mengembang di wajahnya begitu melihat Winona datang. "Kamu yang antar makan siang ini?" Winona mengangguk, lalu berjalan perlahan ke arah gubuk. "Iya, ibu yang minta buat aku antar makanan ke sini. Untungnya ada Antika yang mau ikut antar aku juga. Kalau tidak, aku mungkin akan tersesat." Abimanyu menatap Antika yang berdiri di sebelah istrinya kemudian menganggukkan kepala. "Terima kasih banyak, Antika, sudah antar istri mas ke sini." "Santai saja, Mas Abim. Aku juga lagi menganggur di rumah, tidak ada pekerjaan," sahut Antika seperti orang dewasa. Abimanyu terkekeh pelan melihat anak tetangga yang seperti adik kandungnya sendiri. Bahkan, Abimanyu lebih akrab dengan Antika daripada dengan Rara. "Istirahat dulu, Pak," ajak Abi pada bapaknya. Pak Arman mengangguk. "Iya, istirahat dulu, Bi." Mereka bertiga duduk di gubuk sederhana yang hanya beratapkan ilalang kering. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah dan air sawah. Winona membuka rantang, menata lauk pauk di atas daun pisang. "Masakan ibu ini memang sudah dinantikan sejak tadi," kata Abi, sambil mencuci tangan di air yang dibawa di botol plastik. Pak Arman tersenyum kecil. "Ibumu memang paling ahli kalau soal memasak. Nanti Winona belajar juga dari ibumu," kata Pak Arman pada menantunya. Winona menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum tipis. Belajar memasak adalah hal yang paling sulit daripada belajar beberapa bahasa asing. Bisa dimaklumi, untuk urusan akademik memang Winona juaranya, untuk urusan dapur, dia tidak akan pernah bisa menjadi juara. Abi dan ayahnya makan dengan lahap, sedangkan Winona hanya duduk memerhatikan mereka. Hatinya hangat melihat kebersamaan sederhana itu. Tak ada meja makan mewah, tak ada piring porselen mahal, hanya piring plastik biasa, gelas plastik, dan sendok stainless biasa. "Mas pasti lelah sekali, ya? Aku melihatnya dari jauh tadi sepertinya sangat sulit untuk dilakukan," kata Winona disela keheningan. Abi tertawa kecil. "Kalau lelah, sudah pasti. Tapi, kalau sudah biasa, malah jadi kebiasaan. Sawah ini bukan milik kita, tapi kalau hasilnya bagus, bisa bantu buat kebutuhan harian." "Jadi, ini sawah orang lain?" "Iya," jawab Pak Arman tenang. "Kami bantu garap, nanti dibagi hasil. Hidup di desa gitu, Nona. Tidak semua orang punya tanah sendiri. Ada 'sih tanah, tapi tidak seberapa lebar." Winona terdiam lama. Ternyata keluarga Abimanyu memiliki tanah dan bahkan rela menggarap sawah orang lain hanya untuk mendapatkan hasil. Di dalam keluarga hanya ada Abimanyu dan bapaknya yang mencari nafkah untuk kebutuhan semua orang. Sementara Rara mencari uang untuk dirinya sendiri yang tentunya kedua orang tuanya tidak pernah meminta. Radit juga belum bekerja dan penghasilannya yang baru lulus SMA tentunya tidak seberapa. Kadang-kadang bahkan harus mengambil upah mengumpulkan daun-daun untuk makan kambing. Abi menatapnya heran karena melihat istrinya yang terbengong. Abimanyu melambaikan tangannya di hadapan Winona, membuat perempuan itu mengedipkan matanya dan tersadar jika sejak tadi pikirannya tidak berada di tempat. Tatapan mata mereka bertemu, Abimanyu menyelami mata indah Winona yang baru saja ia sadari jika istrinya memiliki mata yang cantik. Pun, dengan Winona yang dari jarak sedekat ini ia bisa melihat wajah Abimanyu dengan sangat jelas. Terlihat bersih, tanpa bekas jerawat, meskipun kulitnya kecoklatan, tidak menutupi wajah tampan dan manis pria ini. Antika yang sejak tadi memerhatikan keduanya tertawa kecil melihat keduanya saling pandang. "Ih, Mbak Winona sama Mas Abi kayak di sinetron saja, tatap-tatapan terus." Keduanya tersentak kemudian sama-sama mengalihkan pasangan mereka ke arah lain. Abimanyu berdeham kemudian menyentil dahi Antika. "Sudahi menonton sinetron, Tika. Kamu masih terlalu kecil buat nonton sinetron yang tidak sesuai dengan umur kamu." "Masalahnya aku suka menonton sinetron." Antika berkedip, membuat Winona yang duduk di sebelahnya tertawa pelan. Mereka menghabiskan waktu makan siang dengan penuh tawa. Sesekali, Abimanyu menyuapi Winona dengan potongan tempe goreng, membuat gadis itu tersipu malu. Momen kecil itu yang tampak sepele justru membuat hatinya terasa hangat. Setelah selesai makan, Abimanyu kembali turun ke sawah bersama ayahnya. Winona duduk di gubuk, menatap punggung keduanya yang kembali sibuk bekerja. "Mas Abim baik 'kan Mbak? Banyak mbak-mbak yang suka dengan mas Abim, tapi mas Abim menolak." "Oh? Berarti Mas Abim di sini jadi favorit mbak-mbak di sini. Apa mereka tidak marah kalau tahu Mas Abim sudah menikah?" "Mbak-Mbak di sini tidak marah. Lagi pula mereka bukan siapa-siapanya mas Abim." Antika mengangkat bahunya. "Paling-paling kecewa dan sakit hati karena mas Abim sudah punya istri yang cantik seperti Mbak Winona." Tak lupa gadis 12 tahun itu mengedipkan matanya pada Winona, membuat perempuan cantik itu terkekeh dengan pipi bersama akan pujian dari gadis polos di sampingnya ini. Sering mendapatkan pujian sebagai perempuan cantik, tidak membuat Winona besar kepala atau berbangga diri. Namun, berbeda dengan Antika yang bisa membuatnya bersemu merah hanya karena pujiannya. "Kamu ini bisa saja. Padahal mbak tidak secantik itu, sampai-sampai harus membuat orang iri." Antika tersenyum lebar. "Memang begitu, Mbak. Bidadari tidak akan sadar kalau dirinya cantik, hanya orang-orang di sekelilingnya saja yang sadar." Winona spontan tertawa mendengar ucapan Antika yang sekali lagi membuatnya merasa seperti bertemu dengan teman lama ketika mengobrol dengan Antika. Beberapa jam kemudian, matahari mulai condong ke barat. Abimanyu mendekat sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil. "Sudah sore, ayo pulang. Nanti keburu gelap di jalan." Winona berdiri, mengemasi rantang yang sudah kosong. Gadis itu menatap Abimanyu yang tersenyum padanya, dan entah mengapa, membuat sesuatu menggelitik hatinya. Abimanyu mengulurkan tangannya, disambut Winona, hingga tangan mereka saling menggenggam. Sementara Antika sudah pulang duluan meninggalkan Winona yang lebih memilih untuk pulang bersama Abimanyu, menemani suaminya bekerja di ladang. Saat mereka berjalan pulang melewati jalan setapak, Winona menoleh sebentar ke arah sawah yang mulai berwarna keemasan diterpa senja. Senyum terbit di bibirnya menikmati pemandangan yang jarang terlihat kecuali saat ia sedang berlibur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD