45. Kau Tidak Punya Hak

1778 Words

Joshua duduk di dalam mobil, matanya sama sekali tidak hangat. Dokumen di tangannya kusut hingga tak bisa dikenali lagi, menandakan kekacauan di hati dan martabatnya. Ia menganggap situasinya tidak masuk akal dan sangat menggelikan, karena Alexandra bisa memanipulasinya dengan mudah. Setelah hiburan sesaat, Joshua merasa tersesat, seolah-olah ia tiba-tiba terjatuh ke dalam jurang dan berjuang untuk menemukan tanah yang kokoh. Tekad Alexandra untuk menjauhkan diri darinya, meski harus dicap sebagai pezina, sangat jelas terlihat. Kesadaran itu seharusnya membuat dirinya lega, namun itu justru membuatnya merasa hampa seolah-olah seluruh udara telah tersedot keluar dari paru-parunya. Apakah Alexandra benar-benar ingin pergi bersama penerus Serene Corporation? “Kita sudah sampai, Tuan Carter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD