Bab 5

1065 Words
Ekspresi wajah Ethan terekam jelas di memori Agatha. "Dia adiknya Emma? Tapi kenapa aku tak pernah tahu?" gumam Agatha pelan. Agatha saat ini sudah kembali ke apartemennya sendiri. Dia tak mungkin tetap tinggal di rumah Emma, jadi lebih baik Agatha kembali ke apartemennya yang lama. "Bosan sekali, enaknya aku keluar sebentar. Beberapa barang juga perlu di isi lagi." Agatha bersiap untuk berbelanja, dia berpenampilan santai agar tak ada yang mengenalinya. "Rasanya sudah lama sekali tak bebas seperti ini." Agatha memilah milah beberapa bahan makanan dan juga camilan. Saat dia ingin meraih barang yang ada di rak atas, Agatha kesusahan tapi dari arah belakang ada tangan yang terulur untuk membantunya. "Terima kas-ih...." Saat Agatha berbalik, di depannya ada Ethan yang tengah tersenyum kepadanya. Beberapa detik, Agatha terpesona pada senyum Ethan. Ethan yang melihat Agatha bengong dia mengibaskan tangannya di depan wajah Agatha. "Kenapa malah melamun? Aku tahu kalau aku tampan kakak, tapi tak sampai ileran juga kan?" Mata Agatha membelalak, dia reflek mengusap mulutnya. Ethan yang ada di depannya terkekeh. Dia meraih tangan Agatha dan membawa Agatha meneruskan belanjanya. "Eh...." Agatha tak bisa menolak terlebih Ethan terus mendorong troli belanja milik Agatha lalu memasukkan semua belanjaan yang di butuhkan. "Kok kau ada disini jam segini?" tanya Agatha penasaran. "Bengkelku di dekat sini, aku tidur disana." Ethan menjawab tanpa melihat ke arah Agatha. Ethan fokus dengan semua belanjaannya. "Ethan, aku rasa ini terlalu banyak." Ethan melihat ke arah troli lalu berpikir sejenak. Dia kembali menarik tangan Agatha dan mengarahkan troli mereka ke bagian khusus perempuan. Memasukkan beberapa pembalut dan yang lainnya. "Ethan kenapa kau?" Kata kata Agatha tak di lanjutkan karena ada suara yang mengganggu mereka. "Wah, siapa ini?" Agatha menoleh, lah berdecih sinis saat di depannya ada Kamila yang juga membawa kantong belanjaan. Ethan juga ikut melihat siapa yang baru saja bicara pada mereka. "Kau mengenalnya? Teman?" Agatha menggeleng, "Aku tak kenal, teman ku hanya Emma. Lagian buat apa kenal orang seperti dia!" Ethan mengangguk, tapi feeling-nya mengatakan jika ada sesuatu yang menarik di antara mereka berdua. Kamila melihat ke arah Ethan yang mempunyai wajah baby face dan terlihat tampan. Kamila menggeram tertahan, kenapa malah Agatha bisa bersama dengan laki laki setampan itu. Padahal Frangky sudah dia rebut dengan susah payah. "Agatha, kau mempunyai laki laki simpanan? Dan lebih muda darimu? Wah, bahkan kau belum resmi bercerai. Tapi kau sudah menggandeng laki laki baru." Mata Ethan sempat membola tapi tak lama, terlebih saat melihat reaksi Agatha yang menahan marah. Ethan meraih tangan Agatha yang terkepal kuat. "Jangan terpancing emosi, kau tak perlu keluar tenaga banyak untuk hadapi tikus seperti dia. Cukup tunjukkan wajah angkuhmu di depan tikus seperti ini." bisik Ethan. Tangan Agatha yang di genggam Ethan tertutup di belakang tubuh mereka. Agatha yang mendengar Ethan mengatakan itu menoleh ke arahnya. Senyum hangat muncul di wajah Ethan. Kamila yang melihat interaksi itu pun tak terima dan semakin marah. Apalagi saat melihat Agatha masih bisa berbelanja segitu banyaknya. Kamila sejak tadi memang sudah mengamati Agatha sendirian, tapi tak menyangka jika ada laki laki yang menemaninya. "Agatha setelah kau di buang Frangky, kau begitu putus asa sampai belanja saja harus menggandeng laki laki baru. Dan kau, terlalu bodoh jika mau bersama wanita ini. Kau akan menyesal, dia bakal bikin kau bangkrut nanti." Ethan tersenyum miring, selama ini dia sudah banyak sekali bertemu orang seperti Kamila yang hanya pandai bicara otaknya kosong. Ethan lalu mengambil dompet miliknya, mengambil sebuah kartu disana. Kartu itu di sodorkan pada Agatha. Mata Agatha mengerjap melihat kartu hitam yang di sodorkan oleh Ethan kepadanya. "Kakak, kau bisa belanja sepuasnya pakai kartu ini. Kartu tanpa limited, jadi jangan takut kehabisan oke?" Agatha menerimanya dengan ragu lalu melihat kartu itu benar milik Ethan. Tapi melihat penampilan Ethan yang seperti preman membuatnya ragu. "Don't judge by cover, ya kakak.... meskipun aku kerja di bengkel tapi uang ku banyak." bisik Ethan sambil cekikikan. Entah kenapa Agatha ikut tersenyum mendengar itu. Mereka berdua mengabaikan Kamila yang ada disana. "Jangan jangan kau CEO yang menyamar jadi tukang bengkel ya?" Ethan tertawa dan spontan mencubit pipi Agatha gemas. Agatha tak risih atau menolaknya dia bahkan menikmatinya tanpa sadar. Kamila yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya marah. Dia meraih tangan Agatha lalu mencekalnya kuat. Ethan yang melihat itu menepis tangan Kamila yang membuat Kamila terhuyung ke belakang. "Udah ya Tante, tak usah ganggu kami lagi. Kau benar benar menggangguku bersenang senang. Jangan sampai ya aku berteriak memanggil semua orang dan bilang sama mereka kalau aku di ganggu Tante Tante modelan kau!" Agatha menahan tawanya mendengar semua perkataan Ethan. Kamila sudah kepalang tanggung marah. Dia celingukan melihat sekitar takut jika apa yang Ethan katakan benar kejadian. Setelah itu dia pergi dari sana dengan perasaan kesal. Ethan menghela napas panjang lalu meraih tangan Agatha mengajaknya pergi dari sana. "Kita bayar dulu." Agatha sempat tertegun melihat perubahan raut wajah Ethan. Bukan lagi Ethan yang tengil tapi Ethan yang terlihat lebih dewasa. "Wajahnya sekarang sama yang tadi beda? Yang tadi terlihat seperti anak remaja dan sekarang terlihat dewasa sekali." batin Agatha. Agatha masih memikirkan wajah Ethan yang berubah ubah sampai tak sadar jika semua belanjaannya sudah di bayar oleh Ethan. Saat mereka sudah sampai di luar swayalan itu, Ethan berhenti mendadak dan Agatha yang masih terus melamun menabrak punggung bidang Ethan. Duk.... Ethan berbalik dan melihat Agatha mengusap keningnya. "Kenapa tiba tiba berhenti?" "Kenapa kakak terus melamun sejak tadi?" Bukannya menjawab pertanyaan Agatha, Ethan malah berbalik bertanya. Tak hanya itu, Ethan sudah menunduk agar wajahnya sejajar dengan wajah Agatha. Ethan memindai wajah Agatha sampai membuat Agatha salah tingkah. "Kakak lucu sekali kalau lagi malu." Agatha menyentuh wajahnya dan kembali terdengar kekehan dari bibir Ethan. Ethan berdiri kembali dengan benar lalu dia berjalan lebih dahulu meninggalkan Agatha. Agatha yang melihat Ethan meninggalkannya langsung menyusul Ethan dengan cepat. "Wanita tadi kenalan kakak? Sepertinya dia benci sekali sama kakak. Ada masalah dengan nya? Atau dia yang lagi cari masalah sama kakak?" Pertanyaan Ethan yang beruntun membuat Agatha terdiam. Ethan berbalik ke arah Agatha, lalu dia tersenyum. "Apapun masalah kakak, hadapi semuanya dengan tenang. Kakak cantik, kalau sedih nanti cari aku." Agatha tertegun melihat senyum Ethan. Mereka baru bertemu dua kali dan hari ini baru mengobrol tapi Agatha merasa nyaman dengan Ethan. Lalu sekelebat bayangan soal Frangky juga muncul. Dulu Frangky juga bersikap manis kepadanya tapi pada akhirnya dia disakiti tanpa tersisa. Agatha meraih belanjaannya dari tangan Ethan. "Terima kasih sudah membantuku, aku bisa mengatasi semuanya sendiri." to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD