“Saya terima nikahnya, Marinka Johnson binti Jared Ludwig Johnson dengan seperangkat mas kawinnya dibayar tunai.” Suara itu menggema memenuhi seluruh aula ballroom. Lantang. Tegas. Tanpa cela. Niko mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap, nyaris tanpa jeda. Tangannya menggenggam erat tangan ayah Marinka, tatapannya lurus ke depan, wajahnya dingin dan kaku seperti pahatan batu. Tidak ada getar. Tidak ada ragu. Tidak ada yang bisa menangkap badai yang sesungguhnya sedang mengamuk di dalam dirinya. Para tamu bertepuk tangan. Ucapan sah bergema. Doa-doa dilantunkan. Tidak seorang pun tahu bahwa tepat sebelum ia melangkah keluar dari kamar pengantin, ancaman terakhir dari Richard telah tiba—lebih jauh, lebih dalam, dan lebih kejam dari yang ia bayangkan. Sebuah langkah

