Bab 7

1150 Words

Pagi itu rumah Aruna terasa lebih sunyi dari biasanya. Andre sudah berangkat lebih awal karena ada rapat penting, sementara Aruna duduk di meja makan tanpa selera makan sedikit pun. Kopi di hadapannya sudah dingin sejak lima belas menit lalu, tapi ia tetap tidak menyentuhnya. Kepalanya terasa berat sejak semalam. Perutnya sering mual belakangan ini, tapi ia pikir itu hanya karena stres. Belum lagi jadwal menstruasinya yang tiba-tiba tidak teratur, dua bulan ini ia tidak datang bulan. Awalnya ia tidak ingin berpikir macam-macam, tapi rasa penasaran dan kecemasan itu makin kuat. Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, dan menatap bayangannya di cermin. Wajahnya tampak pucat, sedikit kusam, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berbeda, campuran rasa takut dan harapan yang sulit dijelaskan. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD