Pembicaraan Serius

1265 Words
Selama ini Dista memang sangat menyayangi keponakannya itu. Bahkan, dia sudah menganggap Serra seperti putrinya sendiri karena baginya keponakannya juga putrinya. “Serra sayang, ayo kita pulang!” ajak Dista dengan suara lembutnya. Gadis kecil itu pun langsung menatap ke arah sang tante dengan tatapan sendu. Detik kemudian ia pun langsung menghampiri Dista dan langsung memeluknya erat. Dista pun membalas perlukan tersebut sambil mengelus punggung kecil itu dengan perlahan. Setiap usapan yang dia berikan kepada keponakannya penuh dengan kasih sayang dan ketulusan. “Madis tahu kalau Serra sangat sedih karena kehilangan Mama. Madis pun sama sedihnya kayak Serra. Kita boleh sedih, tapi jangan terlalu larut karena kasihan Mama nanti juga akan ikut sedih,” tutur Dista mencoba memberi pengertian kepada sang keponakan. Siapa pun pasti akan sedih ketika ditinggal oleh orang terkasih untuk selama-lamanya. Namun, untuk terus larut ke dalam kesedihan tentu juga sangat tidak baik, menurutnya. Hidup masih terus berjalan dan tentu saja semua harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Semua manusia pasti akan pergi sama seperti Mama, hanya tinggal menunggu waktu kapan tiba. Serra nggak sendirian karena masih ada Papa, Madis, Akung, Uti, Opa, dan juga Oma yang sayang sama Serra,” sambung Dista. Dia hanya ingin mengingatkan kepada keponakannya agar tidak lupa jika masih banyak orang-orang yang sayang padanya. Dia hanya ingin menunjukkan kepada gadis kecil itu jika kehilangan merupakan sesuatu yang pasti, tapi entah kapan waktunya tiba. “Kalau Serra nanti kangen sama Mama, Serra bisa datang ke sini dan berdoa buat Mama. Jadi sekarang Serra harus mulai belajar menerima kebiasaan baru tanpa Mama, tapi tetap ada yang lainnya yang akan tetap mendampingi. Serra mau, kan?” tambah Dista. Akhirnya Dista pun terpaksa mengatakan itu karena tidak ingin membuat keponakannya tetap bersedih. Dia juga mengkhawatirkan kesehatan gadis kecil itu ke depannya. “Serra mau, Madis! Serra akan belajar untuk mengkhilaskan kepergian Mama,” lirih Serra. Seketika Dista pun mengangkat sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman. Dia sangat bangga dengan keponakannya yang bisa mencerna ucapannya dengan baik. “Sekarang kita pulang ke rumah dan nanti kita berkunjung ke sini lagi, ya?” ujar Dista. Serra pun langsung menganggukkan kepalanya. Dia memang anak yang penurut, terutama kepada orang-orang yang dia sayangi. Detik kemudian mata polosnya menatap ke arah sang papa. “Pa, ayo kita pulang!” ajaknya. Suaranya sudah terdengar seperti biasa dan tentu saja itu membuat hati Dista dan Aswin merasa lega. Mereka harus bisa menjaga ke stabilan emosi gadis kecil itu agar tidak sampai mengalami masalah kesehatan. “Serra sama Madis dulu, ya. Tunggu Papa di parkiran karena Papa mau ngomong sebentar sama Mama,” sahut Aswin. Dista yang mengerti pun langsung mengajak Serra dan meninggalkan pria itu sendirian di sana. Mungkin ada sesuatu yang harus Aswin sampaikan secara pribadi kepada Kalista. Setelah kepergian Adista dan Serra, tangan Aswin langsung menyentuh dan mengelus nisan yang bertuliskan nama sang istri. Sejak tadi dia berusaha terlihat tegar dan menahan sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada perempuan yang sudah mendampinginya beberapa tahun ini. “Sayang, meskipun kamu sudah nggak bersama lagi dengan Mas, kamu akan tetap selalu ada di dalam hati Mas yang paling dalam. Terima kasih sudah menghadirkan kamu dalam versi kecil ke dalam rumah tangga kita. Sekarang Mas pamit dan nanti akan mengujungi rumah barumu ini lagi,” ungkap Aswin dengan panjang lebar. Setelah mengatakan itu, Aswin pun bangkit dari jongkoknya. Kemudian kakinya melangkah pergi setelah menghembuskan napas panjangnya seakan ingin mengeluarkan sesak yang sejak dua hari ini menghimpitnya. Pria itu meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Kalista dan berjalan menuju ke parkiran. Setibanya di sana dia melihat adik ipar dan juga putrinya sedang menunggunya di samping mobil. “Ayo, pulang!” ajak Aswin setelah berada di dekat mereka berdua. Mobil berjenis SUV berwarna hitam itu pun melaju dengan kecepatan sedang dan meninggalkan area pemakaman. *** Kini di rumah dua lantai, tepatnya di ruang tamu, tengah berkumpul beberapa orang dengan raut wajah yang terlihat serius. Mereka adalah orang tua Kalista, kedua orang tua Aswin, Dista, serta Aswin. Ya … sepertinya pembicaraan yang serius akan berlangsung tak lama lagi. “Aswin …,” panggil Hendrawan. Seketika tatapan Aswin pun langsung tertuju ke arah ayah mertua yang baru saja memanggil namanya. Dia sudah bisa menebak setelah ini akan ada pembicaraan apa, tapi dia harus tetap menunggu sampai pria paruh baya itu menyelesaikan ucapannya. “Kita semua di sini tahu mengenai wasiat terakhir Kalista yang menginginkan kamu menikah dengan Dista. Sekarang Ayah bertanya sama kamu untuk terakhir kalinya, apakah kamu memang benar-benar setuju untuk menikahi Dista?” tanya Hendrawan. Mata tuanya tampak menatap lekat tepat ke dalam manik sang menantu. Dia harus bisa memastikan sesuatu kepada Aswin terlebih dahulu mengenai kesediaannya. Dia tidak ingin antara Aswin dan Dista terpaksa menikah dan nantinya akan membuat keduanya malah tidak nyaman. Apalagi jika mengingat hubungan mereka sebelumnya yang hanya antara kakak dan adik ipar saja. Aswin tampak menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Meskipun terasa berat, dia harus tetap menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya tersebut. “Aswin setuju untuk menikahi Dista, Yah,” jawab Aswin tanpa ragu. Meskipun pria itu menjawab tanpa ragu, tapi Hendrawan tetap harus memastikan sesuatu agar putrinya tidak tersakiti nantinya. Pernikahan tanpa cinta memang sulit untuk dilakukan, tapi apa Aswin dan Dista bisa saling mencintai nantinya? “Papa sama Mama setuju kalau kamu menikah dengan Dista. Tapi, Papa dan Mama harap kamu bisa menerima Dista sama seperti kamu ketika menerima Kalista dulu di dalam hidup kamu,” sahut Gunawan, papa Aswin. Sebagai orang tua dia tidak ingin nantinya Aswin tanpa sengaja akan bersikap menyakiti Dista. Pernikahan tanpa cinta pasti akan membuat hati dua orang sulit untuk menyatu jika tidak ada keinginan dari keduanya. “Dista …!” panggil Hendrawan kepada putri bungsunya yang sejak tadi diam membisu. Bukan hanya pada Aswin saja dia bertanya. Dia juga harus menanyakan kesediaan ini terhadap putrinya. Sebagai orang tua, tentunya dia tidak ingin membuat keduanya merasa terpaksa untuk menjalani pernikahan itu. “Apa kamu juga setuju dan menerima Aswin untuk menjadi suami kamu?” tanya Hendrawan. Dista pun langsung fokus kepada laki-laki yang selama ini dia panggil ayah. Dia harus membicarakan masalah serius ini karena pernikahan bukanlah hal yang bisa dibuat untuk main-main. “Dista rasa, Dista nggak bisa menikahi kakak ipar Dista sendiri, Yah,” ungkap gadis itu. Dista tidak berbohong. Rasanya memang sulit untuk menikah dengan suami kakaknya sendiri. Selama ini dia menghormati Aswin sebagai kakak laki-lakinya, jadi mana mungkin dia bisa menikah dengan laki-laki itu. “Dista tahu kalau hal seperti ini bisa saja dilakukan. Tapi, Dista nggak mau mengkhianati Kak Kalista. Dengan menikahi Kak Aswin, sama saja Dista sudah mengkhianati kakak Dista sendiri karena Dista sudah menikahi suaminya,” sambung Dista menjelaskan. Bagaimana bisa dia menikahi suami kakaknya sendiri? Apa yang akan terjadi ke depannya nanti di dalam rumah tangganya jika itu sampai terjadi? Tentu saja dia tidak bisa membayangkan sama sekali. “Kamu nggak mengkhianati kakak kamu, Dis. Kamu tahu sendiri kalau kakakmu yang menginginkan pernikahan antara kamu dan Aswin,” sahut Gunawan menjelaskan. “Bukannya kamu mendengar sendiri kalau itu adalah permintaan kakak kamu sendiri, Dis? Bahkan, kamu telah menyetujuinya kan pada saat itu?” timpal Hendrawan. Tentu saja pria paruh baya itu kembali mengingatkan kepada putri bungsunya akan hal itu. Dia hanya menegaskan jika pada saat itu Dista telah mengiyakan permintaan Kalista. “Dista memang mengiyakan permintaan Kak Kalista pada waktu itu karena Dista nggak tega melihat Kakak yang terus menerus memohon. Apalagi melihat wajah Kakak pucat seperti itu, sekarang siapa yang tega, Yah? Bukankah menikahi kakak ipar sendiri itu tabu?” ungkap Dista dengan panjang lebar. “Jadi kamu menolak permintaan terakhir kakak kamu?” tanya Hendrawan sambil menghela napas berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD