Samantha mengangguk, lekas beranjak mendekati tubuh terbujur Alexander di sisi kasur. Dengan peralatan medis yang menyanggahnya, monitor jantung yang masih berderik sebagai harapan bagi keluarganya. “Satu jam lagi aku ke sini, Pa.” Samantha tersenyum, mengusap lembut sisi kepala Alexander yang berbalut perban. “Semoga lo cepat sembuh, Alex.” Si bungsu Atmadja itu pun memberikan beberapa perlengkapan dan bekal yang dibawa Han tadi untuk sang ayah. Diletakkannya di atas meja di sisi sofa tunggu yang diduduki ayahnya ini. “Itu ada kasur di sebelah. Papa baring aja,” kata Samantha, mengingatkan kembali bahwa tersedia beberapa fasilitas mewah di ruangan bertaraf VIP ini. “Ya. Telepon juga istrimu, Sam, dari kemarin nggak pulang, kan?” “Baik, Pa.” Samantha membuka knop pintu kaca, langkah

