Bab 1. Sudah Tidak Sanggup
Hanum lega karena ibunya yang sudah rebah di atas tempat tidur dan lebih tenang setelah pulang dari rumah sakit. Sebelumnya, darah tinggi yang diderita ibunya kumat disertai d**a yang sesak dan perut yang terasa sangat mual. Untungnya, dia dengan cepat membawa ibunya ke rumah sakit, sehingga mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Juga, Raka, tunangannya yang ikut membantu, meskipun dia yang juga sedang sibuk di kantornya.
“Aku temui Raka dulu ya, Bu,” ujar Hanum, saat ibunya yang sudah tenang, dan napas yang teratur.
Diana mengangguk. “Ya, sudah. Temui dia, bilang sama dia Ibu minta maaf sudah merepotkan.”
“Iya, Bu.”
Hanum mencium kening ibunya penuh rasa sayang dan pergi ke luar kamar.
Hanum kaget, melihat Raka yang berdiri di depan pintu kamar, padahal dia yang baru saja ke luar dari kamar ibunya dan menutupnya.
“Kamu mau langsung pulang?” tanya Hanum, juga kaget melihat raut wajah tunangannya.
“Num, kita harus bicara.”
“Ha?”
Raka menggamit lengan Hanum dan mengajaknya bergegas ke ruang tamu.
Keduanya duduk berdampingan, dan Raka yang tampak murung.
“Hanum, aku … baru dapat SP dari kantor, karena bolos lagi.”
“Raka, maaf.” Wajah Hanum memucat. Dia memang meminta bantuan Raka untuk mengantar ibunya dengan mobil ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Hari ini adalah kali kedua, dan Raka yang sedang sibuk bekerja. Bagaimana lagi, Hanum yang segan meminta bantuan saudara ibu atau almarhum ayahnya, karena mereka yang selalu menolak setiap kali Hanum meminta bantuan.
“Ya, hm … sepertinya kita putuskan saja pertunangan kita, Hanum.” Raka memandang wajah Hanum dengan berat hati.
Hanum terkesiap. “Maksud kamu?”
Raka menoleh ke cincin yang melingkar di jari manis kanan Hanum. “Aku minta kamu mengembalikannya.”
“Raka!”
Gemetar tangan Hanum saat Raka menagih cincin tunangan yang dia pakai.
“Num, aku nggak bisa begini terus-terusan. Kamu tau aku baru saja mendapat pekerjaan tiga bulan ini dan aku yang berjuang. Tapi, aku … aku akui aku nggak sanggup kamu terus-terusan meminta bantuanku, karena aku yang harus mengorbankan … karirku.”
“Raka,” lirih Hanum tidak percaya. Sudah dua tahun berpacaran dan dua bulan bertunangan, Raka tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dan dia yang tetap menunjukkan kasih sayang. Ini kali kedua dia yang meminta bantuan mengantar ibunya ke rumah sakit, tapi Raka malah memutuskan hubungan pertunangan.
“Kan baru SP, Ka.”
“Baru SP kamu bilang? Kebayang kalo kamu minta bantu antar ibu kamu lagi ke mana … bisa-bisa aku dipecat. Ibu kamu pasti kumat lagi dan aku nggak sanggup melepas karirku.”
Hanum menelan ludahnya kelu, berusaha sekuat tenaga menahan tangis.
“Aku … mohon kembalikan,” ucap Raka pelan, meski sebenarnya dia merasa dirinya yang agak keterlaluan, menagih cincin tunangan yang sudah dia berikan ke Hanum.
Tangan kiri Hanum gemetar saat menarik cincin dari jari manis tangan kanannya, lalu menyerahkannya ke Raka. “Ini, kamu mau aku kembalikan apa lagi?” tanya Hanum geram.
Raka memandang wajah sedih Hanum. “Ini sudah cukup.”
“Apa perlu aku ganti uang bensin mobilmu?” tanya Hanum, di tengah rasa sedihnya yang sangat dalam.
“Nggak perlu, Hanum. Kamu harusnya bersyukur karena aku sudah sering membantu.”
“Apa katamu? Kamu sering membantuku? Nggak salah? Aku yang sering bantu kamu! Aku bantu menyelesaikan skripsimu dulu! Aku yang antar kamu ke mana-mana, Raka. Aku yang buatkan laporan KKN kamu!”
“Oh, ungkit?”
“Kamu yang duluan.”
Hanum tersadar, dia yang terlampau emosi, berharap ibunya tidak mendengar pertengkarannya dengan Raka di ruang tamu.
Terdengar derap sepatu menuju ke luar rumah, Raka yang telah pergi tanpa kata-kata. Hanum terkesiap karena Raka yang tidak sopan, tetap memakai sepatu saat masuk ke rumahnya. Sepertinya Raka memang sudah merencanakan untuk memutuskan pertunangan mereka. Padahal pernikahan sudah direncanakan dan mereka yang sudah mendaftar ke KUA, dan pernikahan akan dilaksanakan bulan depan.
Pupus sudah harapan Hanum untuk menikah tahun ini, pupus pula harapan untuk mengarungi rumah tangga bahagia bersama pria yang dia cinta. Pasrah, mungkin Raka memang bukan jodohnya, dan dia yang harus merelakan semua. Satu hal yang dia cukup sesalkan, Raka yang mengungkit-ungkit kebaikannya selama bertunangan, juga meminta Hanum untuk mengembalikan semua yang pernah dia berikan selama berpacara, dari pakaian, dompet, tas dan lain-lain, yang harganya tidaklah seberapa. Hanya cincin yang paling mahal, mencapai dua juta rupiah, dan Hanum merasa memang lebih baik mengembalikan semuanya, agar dia bisa melupakan semua tentang Raka.
***
Hanum pergi menemui sahabatnya, Irna, di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari rumahnya, tempat Irna bekerja.
“Habis ngajar siapa?” tanya Irna yang baru saja menyelesaikan shiftnya. Dia sudah rapi dan siap pulang.
“Matthew, yang sekolah di JIS.”
“Oh.”
Tak lama kemudian, kopi dan makanan ringan yang sudah dipesan Hanum datang ke meja, sedangkan Irna tidak memesan apapun, dan dia yang hanya minum air mineral dari tumbler yang dia bawa. Dia tampak sudah selesai bekerja sore itu, tampak ransel sudah mantap di dekatnya.
“Hm, gimana kabar ibumu?” tanya Irna, membuka obrolan.
“Sehat.”
“Syukurlah. Hm, ibumu sudah tahu kamu dan Raka sudah nggak bertunangan lagi?”
Hanum menggeleng. “Ibu nggak perlu tau.”
“Nggak curiga kamu yang nggak pake cincin tunangan lagi?”
“Ibu nggak pernah liat detail-detail seperti itu, Na.”
Irna mengangguk. “Syukurlah kamu nggak jadi nikah sama Raka.”
Hanum menghela napas berat.
“Jadi tahu sifat aslinya lebih awal, itu lebih baik. Sudah, lupakan saja. Menurutku dia sudah nggak cinta lagi sama kamu. Kalo beneran cinta, dia pasti nggak sampai sejauh itu, memutuskan hubungan pertunangan. Itu keterlaluan sekali.”
“Ya.” Hanum menyesap kopi tanpa gulanya.
“Hm, bagaimana dengan lamaran-lamaranmu, apa sudah ada kemajuan?” tanya Irna lagi. Dia adalah sahabat yang peduli Hanum, mengerti kehidupan Hanum yang tidak mudah setidaknya sejak setahun terakhir, Hanum yang sangat terpukul dengan kematian ayahnya.
“Belum ada, Na. Ada yang menerima berkasku di sekolah di daerah Bekasi. Jauh sekali, dan … aku yang hanya menjadi cadangan.”
Irna mengangguk kecil.
“Selainnya belum ada kabar. Hm, aku mengharapkan sekolah internasional yang di dekat rumah. Aku juga mengajukan lamaran di sana meskipun tidak membuka lowongan.”
Irna mendengus tertawa. “Nekat.”
Hanum tertawa kecil. “Ya, namanya juga peruntungan.”
Tak lama kemudian, tampak mobil hatchback kecil hitam datang dan langsung parkir tepat di depan warung kopi. Irna dan Hanum kompak menoleh, dan Irna yang langsung bersiap-siap berdiri.
“Hati-hati, Na,” ucap Hanum, kopinya yang belum habis.
“Ya, kamu juga. Kabar-kabari ya," balas Irna dengan senyuman manis.
Hanum mengangguk. Tampak seorang laki-laki beridiri di sisi pintu mobil yang terbuka, dia melambaikan tangannya ke arah Hanum, dan Hanum membalasnya dengan lambaian dan senyum manisnya. Dia Indra, kekasih Irna, pemilik warung kopi tempat Irna bekerja, dan mereka yang saling bekerja sama, dan Hanum yang juga cukup mengenal dekat Indra.
Irna sudah pergi dengan mobil yang disetir Indra, dan Hanum memilih membuka laman surel.
“Ha? Ya Tuhaaan,” desah Hanum dan mulutnya menganga lebar. Berkas lamarannya diterima di sekolah internasional yang dekat dari rumahnya. Dia seketika mengatur emosinya yang meletup-letup bahagia. Besok adalah hari wawancara dengan kepala sekolah.
Bersambung