“Artinya seseorang menempatkan dia di TKP secara sengaja. Atau minimal, mengabaikan bukti yang membebaskannya.” Tatapan Arvin berubah tajam. Bukan sekadar berusaha memenangkan perkara. Ini tentang seseorang yang hampir dikubur oleh sistem. “Kenapa bukti ini tidak muncul di penyidikan awal?” tanyanya. Detektif itu terdiam sejenak. “Entah karena kelalaian. Entah kesengajaan.” Arvin berdiri dan berjalan menuju jendela besar kantornya. Kota tampak sibuk di bawah sana—mobil-mobil bergerak seperti arus tak pernah berhenti. “Kalau ini benar,” katanya pelan, “berarti ada yang ingin dia dihukum.” “Dan orang itu punya akses,” tambah detektif tersebut. Arvin berbalik. “Kita butuh nama.” “Saya sedang menelusuri,” jawab sang detektif. “Tapi satu hal lagi, Pak.” Arvin menunggu. “Terpidana i

