Pagi itu kantor firma hukum Arvin berjalan seperti biasa. Bunyi dering telepon, printer bekerja tanpa henti, beberapa junior berlalu-lalang membawa berkas. Semuanya tampak normal. Arvin duduk di ruang kerjanya dengan ekspresi tenang, membaca laporan klien baru seolah tidak ada badai yang sedang ia siapkan di balik layar. Ketukan pelan terdengar. “Masuk,” ujarnya singkat. Dimas, asistennya, yang sudah bekerja bersamanya hampir empat tahun, melangkah masuk dengan tablet di tangan. Wajahnya serius, terbiasa dengan instruksi-instruksi yang tak biasa dari atasannya. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Arvin tidak langsung menjawab. Ia memberi tanda pada lembar dokumen yang sedang ia periksa. “Kita akan pasang umpan.” Dimas mengangkat alis tipis, tapi tidak bertanya dulu. Ia memilih menung

