Senyuman Malaikat yang Menipu

1429 Words
Setiap langkah kaki Clara terasa seperti menginjak duri tak kasatmata. Paru-parunya membakar, menuntut oksigen yang mendadak terasa menipis di koridor bawah tanah yang pengap ini. Suara detak jantungnya sendiri berdentum begitu keras di telinga, berkejaran dengan gema langkah kakinya yang panik. Baru lima langkah dia mencoba menjauh dari tempat terkutuk itu, sebuah suara debuman pintu yang dibuka lebar menghentikan seluruh pergerakannya. Brak! "Clara?" Panggilan itu lembut, bariton yang akrab, dan dipenuhi oleh nada keterkejutan yang begitu natural. Sangat kontras dengan suara dingin sedingin es yang baru saja mendiktekan hukuman mati beberapa detik lalu di dalam ruangan. Clara membeku. Tubuhnya menegang layaknya karang di tengah lautan. Dia ingin terus berlari, namun kedua tunggalkannya terasa lumpuh, terpaku pada lantai marmer yang dingin. Perlahan, dengan leher yang terasa kaku dan gemetar, Clara membalikkan badannya. Adrian berdiri di sana, tepat di ambang pintu Ruang Forensik B. Dalam hitungan detik, pemandangan di depan mata Clara berubah secara drastis. Tatapan iblis yang beberapa saat lalu menembus celah pintu kini telah menguap tanpa bekas. Pria yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Adrian suaminya pria yang tampak luar biasa lelah, dengan bahu yang sedikit turun dan gurat-gurat keletihan di sekitar matanya yang redup. Kemeja birunya berantakan, dan jas putih dokternya tampak sedikit kusut di bagian lengan, menyembunyikan dengan sempurna fakta bahwa lengan itu baru saja digunakan untuk menghancurkan tulang jemari manusia. "Sayang? Kenapa kamu ada di sini?" Adrian melangkah mendekat. Langkahnya tidak lagi terdengar seperti ketukan lonceng kematian, melainkan langkah tergesa-gesa seorang suami yang khawatir melihat istrinya ketakutan. Clara mundur satu langkah secara instingtif. Matanya melirik ke bawah, ke arah sepatu pantofel mahal milik Adrian. Bersih. Tidak ada noda darah yang tertinggal di sana, seolah-olah adegan penyiksaan tadi hanyalah fragmen dari mimpi buruk yang diciptakan oleh otaknya yang kelelahan. "A-Adrian..." Suara Clara keluar berupa bisikan yang bergetar. Dia meremas kedua tangannya di depan d**a, berusaha menyembunyikan tremor hebat yang menyerang jemarinya. "Aku... aku ingin mengantarkan makanan untukmu. Tapi tadi... di dalam..." Adrian mengikuti arah pandang Clara, menatap rantang tiga tingkat yang kini terguling mengenaskan di lantai koridor. Kuah sup ayam yang hangat menggenang, mengotori lantai marmer putih bersama dengan potongan daging yang berserakan. Tatapan Adrian melembut, memancarkan rasa bersalah yang amat dalam. "Ya ampun, Clara. Maafkan aku," Adrian mendekat dengan cepat, mengabaikan jarak satu langkah yang sempat dibuat Clara. Dia langsung meraih kedua belah tangan Clara, menggenggamnya erat dalam kehangatan telapak tangannya yang besar. "Aku membuatmu takut, ya? Maafkan aku. Maafkan suamimu ini." Sentuhan tangan Adrian terasa begitu hangat, jenis kehangatan yang biasanya selalu berhasil menenangkan badai kecemasan di dalam d**a Clara. Namun malam ini, sentuhan itu mengirimkan sinyal bahaya yang menyengat langsung ke otaknya. Clara bisa merasakan permukaan kulit tangan Adrian yang halus, tangan seorang dokter yang biasa menjahit luka dan menyelamatkan nyawa... atau tangan seorang monster yang bisa mencabut nyawa tanpa berkedip. "Tadi... siapa pria di dalam?" Clara memberanikan diri bertanya, suaranya naik satu oktav, dipenuhi ketakutan yang tidak bisa lagi dia sembunyikan. "Aku mendengar suara hantaman... dan darah... Adrian, aku melihatmu menginjak..." "Hei, hei... tenanglah, Sayang. Tarik napas dalam-dalam," Adrian memotong kalimat Clara dengan lembut. Dia mengangkat satu tangannya, dengan kelembutan yang luar biasa menyelipkan beberapa helai rambut Clara yang berantakan ke belakang telinga. Ibu jarinya mengusap pipi Clara yang dingin dengan gerakan membelai yang menenangkan. "Pria di dalam itu adalah salah satu pasien dari bangsal jiwa yang mengamuk. Dia melarikan diri dari ruang isolasi lantai atas dan menyelinap ke basement. Dia membawa pecahan kaca dan mencoba melukai dirinya sendiri, juga menyerangku." Adrian mengembuskan napas panjang, memasang ekspresi wajah yang tampak begitu frustrasi dan tertekan. "Kami terpaksa mengisolasinya di sini sementara menunggu tim psikiatri dan keamanan datang membawa obat penenang dosis tinggi. Kasus ODGJ yang mengamuk di sepertiga malam selalu sulit dikendalikan, Clara. Tadi dia menjerit-jerit histeris karena delusinya, dan aku harus menahannya di lantai agar dia tidak menusuk lehernya sendiri dengan pecahan kaca. Apa yang kamu lihat dari celah pintu tadi pasti terlihat mengerikan, tapi aku bersumpah, aku hanya sedang berusaha menyelamatkan nyawanya dari dirinya sendiri." Adrian menatap langsung ke dalam manik mata Clara. Tatapannya begitu jernih, penuh dengan kejujuran yang meyakinkan, dan dibalut oleh binar kasih sayang yang amat dalam. Tidak ada satu pun tanda-tanda kebohongan di wajah aristokrat itu. Aktingnya begitu sempurna, sebuah mahakarya dari seorang manipulator ulung. Clara tertegun. Isi kepalanya mendadak menjadi benang kusut yang saling mengikat. Pasien ODGJ? Menyelamatkan nyawanya? Logika Clara mulai berperang hebat. Kalimat Adrian terdengar sangat masuk akal bagi seorang dokter yang bekerja di rumah sakit pusat dengan fasilitas darurat. Tetapi... bagaimana dengan nama yang diteriakkan pria itu tadi? Tuan Marcello. Pria itu tidak memanggilnya dokter. Dan suara tulang yang patah... suara hantaman yang begitu dingin... apakah itu semua hanya distorsi dari rasa takutnya sendiri yang diperparah oleh suasana basement yang mencekam? "Tapi... dia memanggilmu Tuan Marcello," cicit Clara, mencoba mencari pegangan di tengah badai keraguan yang menghantam hatinya. Adrian tersenyum kecil, sebuah senyuman maklum yang tampak begitu tulus, seolah-olah dia sedang menghadapi seorang anak kecil yang sedang berimajinasi. "Pasien dengan delusi akut sering kali mengidentifikasi dokter mereka dengan sebutan-sebutan yang aneh, Clara. Minggu lalu, ada pasien yang mengira aku adalah komandan tentara dan memanggilku Jenderal. Mereka menciptakan realitas mereka sendiri di dalam kepala mereka yang sakit." Adrian perlahan menarik Clara ke dalam pelukannya. Dia melingkarkan lengan kokohnya di sekeliling tubuh mungil Clara, menenggelamkan wajah istrinya di d**a bidangnya yang hangat. Aroma maskulin campuran antara sandalwood dan mint yang mahal menyeruak masuk ke indra penciuman Clara, aroma yang selalu menjadi tempat aman bagi Clara selama tiga bulan terakhir ini. Di bawah telinga Clara, dia bisa mendengar detak jantung Adrian. Dug. Dug. Dug. Ritmenya begitu teratur, tenang, dan konstan. Tidak ada lonjakan adrenalin, tidak ada tanda-tanda kegugupan dari seorang pria yang baru saja tertangkap basah melakukan aksi kriminal. Ketenangan detak jantung itu justru membuat Clara merinding di dalam hati. Bagaimana bisa seorang manusia mempertahankan ritme jantung yang senormal ini setelah melakukan kebohongan besar? "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kamu pasti kelelahan dan stres karena terlalu banyak bekerja di toko bunga belakangan ini," bisik Adrian lembut di pucuk kepala Clara, seraya memberikan kecupan-kecupan kecil yang menenangkan. "Seharusnya kamu tidak perlu datang malam-malam begini, Sayang. Kalau kamu merindukanku, cukup telepon aku, maka aku yang akan pulang berlari kepadamu." "Aku... aku hanya ingin membawakanmu makan malam," kata Clara, suaranya teredam di d**a Adrian. Setengah dari hatinya ingin mempercayai suaminya. Dia ingin mempercayai bahwa pria yang menyelamatkannya dari keterpurukan setelah kematian Reno adalah pria baik-baik yang berhati malaikat. Dia tidak ingin hidupnya hancur untuk kedua kalinya. "Aku tahu, dan aku sangat menghargainya. Tapi lihat sekarang," Adrian melepas pelukannya perlahan, lalu menunjuk ke arah lantai yang kotor akibat tumpahan sup. "Makanan yang kamu masak dengan cinta malah terbuang sia-sia. Biar petugas kebersihan yang membereskan ini nanti. Sekarang, aku akan mengantarmu kembali ke mobil, dan kita pulang bersama. Shift-ku sudah selesai." "Bagaimana dengan pasien di dalam?" tanya Clara, matanya melirik sekilas ke arah pintu kayu yang kini telah tertutup rapat kembali. "Asistenku dan tim keamanan sudah berada di dalam lewat pintu akses belakang, mereka sedang menanganinya. Semuanya sudah terkendali, Clara. Percayalah pada suamimu," ucap Adrian dengan nada yang begitu meyakinkan, sembari menangkup wajah Clara dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir istrinya. Kecupan yang lembut, namun terasa seperti segel yang mengunci semua pertanyaan Clara. Adrian kemudian merangkul pundak Clara dengan protektif, membimbingnya berjalan menjauhi koridor bawah tanah tersebut. Selama berjalan menyusuri lorong menuju tempat parkir, Adrian terus mengajak Clara mengobrol tentang hal-hal ringan tentang mawar jenis baru yang ingin Clara tanam di toko bunganya, tentang rencana liburan akhir pekan mereka, seolah-olah pertumpahan darah di Ruang Forensik B tidak pernah terjadi. Clara mengangguk dan tersenyum tipis merespons setiap ucapan Adrian. Dia membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam mobil, membiarkan Adrian memasangkan sabuk pengaman untuknya dengan penuh perhatian. Namun, di balik senyuman patuh yang Clara tunjukkan, ada sesuatu yang telah bergeser di dalam dirinya. Benih kecurigaan pertama telah tertanam jauh di lubuk hatinya, akarnya mulai merayap pelan, merusak fondasi kepercayaan yang selama ini dia agungkan. Clara teringat dengan jelas bagaimana tatapan mata Adrian saat menoleh ke arah pintu tadi sebelum topeng malaikatnya kembali terpasang. Itu bukanlah tatapan seorang dokter yang sedang panik menghadapi pasien yang mengamuk. Itu adalah tatapan seekor predator mutlak yang terganggu saat sedang menguliti mangsanya. Saat mobil mewah Adrian mulai membelah jalanan kota yang sepi di bawah guyuran sisa hujan malam, Clara menatap keluar jendela kaca yang berembun. Dia menyentuh bibirnya yang masih menyisakan kehangatan ciuman Adrian. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Clara merasa bahwa sangkar mewah yang ditempatinya bersama Adrian tidak lagi terasa seperti rumah yang aman... melainkan sebuah perangkap sutra yang perlahan-lahan mulai mengetat di lehernya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD