“Nggak usah nyeramahin aku,” ujar Cinta melempar ponsel Bias di tempat tidur. “karena kamu nggak tau apa yang sudah aku alami selama ini.” “Oke.” Bias berbalik dan langsung mengalungkan kedua tangan di pinggang Cinta, “aku nggak sabar pengen buru-buru hari jumat.” “Jangan kayak anak kecil.” Cinta menggeliat, tetapi Bias tidak juga melepaskan pelukannya. “Bias, lepas.” “Bias, Bias!” Bias berdecak, “kalau di depan orang aja, langsung berubah panggil mas. Kalau sudah begini, seenaknya manggil Bias, Bias, Bias, Bias.” “Daripada aku panggil Nyet!” “Astaga mulutmu itu!” Bias terbelalak melihat Cinta berujar dengan santainya. “Perlu dikasih pelajaran!” Detik berikutnya, kedua tangan Bias berpindah cepat, menangkup lembut leher Cinta. Tanpa membuang waktu, Bias langsung memagut bibir manis i

