“Cia, kamu itu anak sah,” sanggah Kiano bertahan di tempatnya, “nggak usah pikirkan omongan Cinta. Nanti, biar Papa yang bicara ke dia supaya nggak lagi ngata-ngatain kamu.” Ciara mencebik, matanya mulai berkaca. “Kenapa dia selalu punya segalanya? Dia juga bisa dapat semua yang dia mau! Dia rebut mas Bias dari aku dan sekarang, dia juga ada di perusahaan. Jadi pemilik saham!” “Cia …” Kiano beranjak. Menarik meja kecil lalu mendudukinya di depan putrinya. Ia menggenggam kedua tangan yang bergetar itu, “Papa yakin, kamu pasti dapat laki-laki yang lebih baik dari Bias. Dan untuk masalah perusahaan, Papa juga nggak bisa apa-apa karena saham itu memang milik Cinta.” Ciara menggeleng cepat, air matanya jatuh satu per satu. “Dunia ini bener-bener nggak adil.” Kiano menatap wajah putrinya lal

