“Ada yang kamu curigai selain aku?” tanya Bias. “Briana.” “Kenapa bisa dia?” “Masuk akal, kan?” Cinta kemudian merebahkan diri di tempat tidur, “kalau aku kecelakaan, kita nggak akan menikah. Tapi, untungnya kondisiku waktu itu nggak terlalu parah. Makanya aku telpon Dinda dan cepat-cepat kabur dari rumah sakit. Aku takut kenapa-napa karena nggak mungkin ada yang jagain aku kalau dirawat di sana.” Bias mendesah panjang. Mengusap pelan wajahnya dan tidak bisa membayangkan berada di posisi Cinta waktu itu. Dan saat mengingat bagaimana ia memperlakukan Cinta kala itu, Bias pun benar-benar merasa menyesal. “Tapi …” Bias akhirnya ikut berbaring di samping Cinta, “aku bangga sama kamu karena sudah bisa bertahan sampai di titik ini.” “Ah!” Cinta mendorong d**a Bias menjauh, “nggak inget apa

