“Mbak Cinta nggak papa?” tanya Esi khawatir dan segera bangkit menghampiri Cinta yang tiba-tiba terlihat pucat. “Bu, tolong ambilkan minum, Bu,” pinta Bias ikut khawatir. Ia juga bangkit, agar bisa membaringkan tubuh Cinta di kursi kayu tersebut. Sementara Esi bergegas mengambil minum di belakang, Bias berjongkok di lantai. Di samping kepala Cinta. “Habis ini ke rumah sakit, ya?” “Habis ini, serahkan semuanya sama aku,” ucap Altaf sambil mengusap puncak kepala adiknya, “kamu istirahat aja. Jaga baik-baik kandunganmu.” Cinta menatap kosong. Kenapa ia harus mendengar semua ini di saat ia sedang mengandung? “Ini, diminum dulu air putihnya,” ucap Esi hanya membawa sebuah gelas karena harus buru-buru. “Pelan-pelan minumnya, ya, Mbak.” Bias membantu Cinta bangkit, lalu mengambil gelas dari

