“Benar,” komentar Danuar sambil mengangguk-angguk di kursi kerjanya, “kapan rencana balik ke Bali, Yu?” “Mauku secepatnya, Om,” jawab Wahyu berpaling dari ponselnya untuk menatap Danuar, “anakku ngirim voice note terus, nanyain kapan pulang.” “Mamanya itu yang nyuruh.” Danuar terkekeh. “Eh, anak almarhum Sabda, kan?” “Anakku juga,” jawab Wahyu tersenyum kecil, “nggak ada bedanya. Dari lahir sudah lengket sama aku.” “Kamunya yang melengketkan diri, karena mau dekatin mamanya,” ledek Danuar tersenyum miring, “Tapi dia ngerti, kalau kamu itu cuma papa sambung? “Ngerti nggak ngerti, Om. Soalnya dia masih kecil juga,” jelas Wahyu memasukkan ponselnya ke saku kemeja, “tapi, kami sering jelasin semua itu sama dia. Dan kalau ke Jakarta, kami pasti mampir ke makam Sabda.” Danuar bersandar di

