102~BC-2

847 Words

“Habis dapat suap dari mana?” “Tenang aja, yang ini uang halal,” ucap Dinda sambil menaik turunkan kedua alisnya, “nggak mungkin aku nraktir keponakanku pake uang suuu … itu Altaf, kan?” Cinta menatap ke arah pandangan Dinda. Altaf baru menutup pintu mobilnya dan tidak beranjak ke mana pun. Hanya bersandar dan sibuk bicara di telepon. “Emang siapa lagi?” “Tumben kusut amat?” “Tajam banget tuh mata.” Cinta kembali melangkah. Menarik Dinda agar mereka segera sampai di kafe. “Eh beneran, Cin,” kata Dinda masih melihat Altaf, kendati langkahnya semakin jauh dari posisi pria itu, “auranya nggak kayak biasanya.” “Ah! Biasanya juga begitu, auranya aur-auran,” ucap Cinta cuek, “kamunya aja yang terlanjur bucin.” “Bukan bucin,” ralat Dinda terkekeh pelan, “aku cuma nge-fans.” “Apa bagusnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD