Laura tengah duduk di bangku teras rumah, matanya tertuju pada jalanan di luar pagar. Sejak pagi, suasana rumah terasa mencekam. Pikirannya yang masih dipenuhi dengan kata-kata pedas dari Laisa dan Regan membuatnya merasa terkurung, seakan setiap ruang di dalam rumah ini semakin sempit. Laura menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak ingin menangis lagi hari ini. Saat ia melamun, pandangannya jatuh pada seorang pria yang sedang berjalan menyusuri jalan kompleks perumahan, membawa keranjang rujak. Tubuh pria itu tegap, mengenakan topi, dan membawa bakul yang terbuat dari bambu. Setiap langkahnya diiringi suara riang dari alat yang ia bawa, yang biasanya digunakan untuk menumbuk bumbu rujak. Tak jarang, beberapa warga yang sedang berkeliaran di kompleks itu ikut berhen