Aurora melangkah pelan melewati pagar rumah yang remang. Jam dinding menunjukkan hampir pukul 8 malam. Suara napas Neneknya yang tertidur terdengar lembut dari kamar sebelah. Ritme yang menenangkan sekaligus membuatnya merasa bersalah. Ia menahan napas saat memutar gagang pintu. Takut bunyinya membangunkan Neneknya. Begitu berada di luar, udara malam menyambutnya dengan dingin yang tajam. Ia mengenakan jaket tipis dan menutup kepalanya dengan tudung. Neneknya tak pernah mengizinkan ia keluar malam. Takut hal buruk terjadi. Takut dunia di luar terlalu keras. Tapi Aurora merasa ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Dorongan untuk bisa kembali melihat dunia tanpa bayang-bayang dari mimpinya. Untuk mendapatkan pengakuan dari semua orang sebagai seseorang yang normal. Aurora melangkah pelan m

