Dosen itu terdiam. Ia merasa bersalah dan iba kepadanya. “Kamu tidak perlu takut. Kalau seperti ini kami semua jadi tidak tahu keadaa kamu yang sebenarnya seperti apa. Orang lain bisa membuat kesalahan terhadap kamu. Dan kamu akan terus disalahkan karena ketidak tahuan kami.” “Iya saya minta maaf, Bu.” “Tapi dengan obat-obatan ini apa bisa membuat kamu menjadi lebih baik? Atau semuanya sama saja?” “Saya merasa iya, Bu. Saya tidak mendapatkan mimpi aneh lagi setelah meminum obat tersebut. Dan perasaan saya menjadi lebih nyaman, Bu.” Dosen itu kembali terdiam. Hatinya dipenuhi kebingungan. Ia ingin membantu, tapi takut melangkah terlalu jauh. Ia tahu batas antara empati dan profesionalitas begitu tipis. Di satu sisi, naluri manusianya mendorongnya untuk melindungi, mendengarkan, dan mem

