Bab 12. Dua Sisi

1190 Words
"Dani, kamu mau ke mana?" tanya Nadine saat melihat Dani beranjak dari tempat duduknya. "Diam kamu!" Hanya itu kata yng keluar dari mulut Dani Anggara sebelum ia berbalik dan meninggalkan ruang makan dengan langkah berat. Sarapan paginya yang hampir tidak tersentuh tergeletak begitu saja di atas piring. Nadine masih terdiam di tempatnya, menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Ada kilatan khawatir di matanya, tapi dia memilih untuk tidak mengejarnya. "Gawat ...," batinnya. Langkah kaki Dani menggema di lorong marmer menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Ruangan yang memang menjadi ruangan pribadinya, tempat di mana tidak ada seorang pun yang berani masuk tanpa seizinnya, bahkan Nadine sekalipun. Hanya asisten pribadinya dan cleaning service yang diizinkan masuk, itupun hanya saat dia tidak ada. Pintu kayu jati solid dengan ukiran klasik terbuka dengan suara yang berat. Dani masuk dan langsung menutup pintu di belakangnya dengan keras hingga berbunyi 'KLAK' yang nyaring. Ruang kerja itu luas dan mewah, dengan d******i warna coklat gelap dari furniture kayu mahoni yang mengelilingi ruangan. Rak buku tinggi menjulang hingga langit-langit, dipenuhi dengan buku-buku bisnis, ekonomi, dan koleksi literatur klasik. Meja kerjanya yang masif berada di tengah ruangan, menghadap ke jendela besar yang memberikan pemandangan ke taman belakang rumah. Tapi yang paling menarik perhatian adalah dinding di sebelah kiri meja kerjanya. Di sana tergantung puluhan foto-foto keluarga, foto pencapaian bisnis, penghargaan, dan berbagai momen penting dalam hidupnya. Namun, salah satu foto berukuran cukup besar mendominasi dinding itu. Foto seorang pemuda tampan dengan senyum hangat dan mata yang tajam. Di bawah foto tersebut terpasang plakat kecil bertuliskan: "Rafael Pratama Anggara-Putra Terbaik" Dani menggebrak meja kerjanya dengan kedua tangan hingga beberapa dokumen berserakan dan pen holder terjatuh dengan bunyi gemerincing. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan irama yang tidak beraturan. Mata tajamnya memerah, antara marah dan sedih yang bercampur menjadi satu. "Kamu di mana, Rafael?" gumamnya dengan suara parau, masih menatap tumpukan dokumen yang berantakan di atas mejanya. "Apakah semarah itu kamu sama Papa?" Dia meraih kursi direktur kulit hitam yang mahal dan duduk dengan berat, seolah seluruh beban dunia menimpa bahunya. Tangannya yang masih sedikit bergetar dia gunakan untuk merapikan rambut yang sudah sedikit beruban. Perlahan, pandangannya teralih ke dinding foto. Mata tajamnya terpaku pada foto Rafael yang masih tersenyum hangat dari dalam bingkai kayu ukir yang mewah. Foto itu diambil tiga hari setelah Rafael baru saja berhasil menutup deal bisnis senilai lima milyar rupiah dengan klien dari Singapura. "Rafael Pratama Anggara," bisiknya pelan, seolah nama itu adalah mantra sakti yang bisa memanggilnya kembali. "Pulanglah." Air matanya yang selama ini dia tahan akhirnya meleleh juga. Dani Anggara yang dikenal sebagai pengusaha keras dan tegas, sekarang menangis dalam kesendirian ruang kerjanya. Tangisan seorang ayah yang kehilangan putra kebanggaannya. Serta raut yang menyesal karena satu keputusan yang mengubah segalanya. "Papa salah, Raf," bisiknya ke arah foto. "Papa tidak seharusnya mengusirmu. Papa tidak seharusnya mengatakan hal-hal kasar itu. Maafkan Papa, Rafael." Dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati foto Rafael yang tergantung di dinding. Tangannya yang besar dan kasar terulur, menyentuh kaca bingkai dengan lembut, seolah menyentuh wajah Rafael yang sesungguhnya. "Tujuh tahun sudah. Tujuh tahun Papa menunggumu pulang. Tapi kamu tidak pernah datang. Tidak pernah menelepon. Tidak pernah memberi kabar. Apakah kamu benar-benar membenci Papa sebesar itu?" -- Sementara itu, di rumah mewahnya, Max berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota Jakarta. Tubuhnya tinggi dan atletis, dengan bahu yang lebih lebar dari yang dulu dia miliki. Rahangnya tegas dan maskulin, jauh berbeda dari sosok pemuda yang lembut dan polos tujuh tahun lalu. Maxime Leonard. Nama yang diberikan oleh Fernandez untuk menyembunyikan identitas aslinya. Identitas baru untuk wajah baru Rafael yang lebih sempurna. Max menatap keluar jendela dengan ekspresi datar. Tidak ada emosi yang terbaca dari wajahnya yang kini terlihat maskulin dan dingin. Dia mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang terbuka dua kancing teratas, menampakkan sedikit d**a bidangnya yang terlatih. Celana chino berwarna abu-abu gelap membungkus kaki panjangnya dengan sempurna. Penampilannya lebih mature, lebih maskulin, dan jauh lebih mengintimidasi dibanding Rafael yang dulu. Tangannya yang kini lebih besar dan berotot menempel di kaca jendela. Jari-jarinya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, gigi-giginya saling bertautan dengan kuat seolah menahan amarah yang sudah lama mengendap. "Aku akan datang," bisiknya dengan suara rendah dan dingin, sangat kontras dengan suara Rafael yang dulu selalu hangat dan lembut. "Tapi tidak untuk kembali." Matanya menyipit, menatap ke arah selatan Jakarta di mana rumah keluarga Anggara berada. Meski dari tempatnya berdiri sekarang, Max juga tidak bisa melihat rumah itu, tapi dia tahu persis arahnya. Dia hapal setiap sudut rumah itu, setiap ruangan, setiap kenangan pahit yang tertanam di dalamnya. "Tidak untuk memaafkan," lanjutnya sambil menggeretakkan gigi. "Dan tidak untuk pulang ke keluarga yang membuangku seperti sampah." Dia berbalik dari jendela dan berjalan ke meja kerjanya yang rapi. Di atas meja terdapat beberapa dokumen bisnis, laptop yang terbuka menampilkan grafik keuangan, dan sebuah foto. Tapi foto ini bukan foto keluarga atau kenangan manis. Ini adalah foto yang dia dapatkan dari Fernandez. Maxi mengambil foto itu dan menatapnya dengan pandangan dingin. "Tujuh tahun Dady Fernandez melatihku menjadi keras. Tujuh tahun dia mengajariku bahwa cinta itu conditional. Bahwa keluarga bisa membuang anaknya sendiri ketika dia tidak bisa memenuhi ekspektasi." Dia meletakkan foto itu kembali, kemudian membuka laptop dan mengetik sesuatu dengan cepat. Di layar muncul data finansial perusahaan Anggara Group, data yang sudah ia simpan. "Sekarang aku akan menggunakan pelajaran yang kau berikan," gumamnya sambil scrolling data-data itu. "Aku akan menunjukkan betapa mudahnya menghancurkan sesuatu yang Papa bangun dengan susah payah." Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari asistennya: [Mr. Maxi, meeting dengan investor Jepang sudah dikonfirmasi untuk besok pagi. Mereka sangat tertarik dengan proposal akuisisi yang Anda ajukan.] Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Bukan senyum hangat seperti Rafael dulu, melainkan senyum dingin penuh perhitungan. "Perfect timing," bisiknya. Dia mengetik balasan: "Good. Pastikan semua dokumen siap." Max berjalan kembali ke jendela, kali ini dengan postur tubuh yang lebih tegap dan penuh percaya diri. Tangannya tidak lagi mengepal, melainkan berada di saku celana dengan santai. Tapi mata tajamnya masih memancarkan keteguhan yang menakutkan. "Dani Anggara," ucapnya dengan nada rendah tapi penuh ancaman. "Papa pernah bilang kalau aku tidak akan pernah bisa menjadi apa-apa tanpa nama Anggara. Papa salah. Aku tidak hanya bisa menjadi seseorang tanpa nama itu, tapi aku juga bisa menghancurkan nama itu." Dia mengambil ponselnya lagi dan scrolling ke kontak tertentu. Nama "David Chen - Legal Advisor" muncul di layar. Dia menekan tombol call. "David, it's me," katanya ketika telepon tersambung. "Aku sudah siap untuk melanjutkan rencana kita. Ya, rencana yang sudah kita diskusikan tahun lalu. It's time to take down Anggara Buildings." Percakapan berlanjut beberapa menit dengan nada bisnis yang profesional namun penuh ambisi. Setelah menutup telepon, Maxi kembali menatap ke arah Jakarta Selatan dengan pandangan yang semakin tajam. "Rafael Pratama Anggara sudah mati tujuh tahun lalu," bisiknya final. "Yang tersisa hanya Maxime Leonard. Dan Max akan menghancurkan semua yang pernah menghancurkannya." Angin malam berhembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka, menggerakkan gorden tipis dan memberikan efek dramatis pada sosok Max yang berdiri tegak penuh determinasi. Jakarta malam tampak berkilauan di bawahnya, seolah menjadi saksi dari tekad balas dendam yang sudah mengkristal dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD