Bab 3. Melihatnya Kembali

1437 Words
SEAN- Kuharap suaraku tidak bergetar, kala sapuan netraku--menangkap sosok yang berdiri mematung, menatapku. Dia masih sama tampan. Terlihat jauh lebih dewasa. Rambut yang biasa dibiarkan berantakan, kini tersisir rapi. Aku yakin, di balik tampilan kasual pria itu, ada tubuh padat berotot, yang akan bisa membuat setiap wanita meleleh. Kaos pas badan hitam, yang ia kenakan di dalam jas dongker, memperlihatkan seberapa datar abdomen pria itu. Mungkin, bukan sixspec seperti para artis yang menjaga tubuh mereka dengan rutin fitnes, tapi yang jelas, bukan perut bergelambir, atau buncit--seperti pria-pria beristri pada umumnya. Tatapan mata itu masih sama, seperti yang terakhir terekam dalam otakku. Tatapan penuh kepedihan. Lalu, ekor mataku menangkap kehadiran seseorang yang berdiri di sampingnya. Seorang wanita, yang masih sama cantiknya--seperti 9 tahun lalu. Bahkan, kini terlihat lebih cantik dengan sisi kedewasaan yang jelas. Rasanya, jantungku mau copot. Bahkan, aku bisa mendengar suara dentuman kerasnya dengan telingaku sendiri. Segera kualihkan pandanganku, ke tempat lain. Tempat mana saja, asal bukan ke tempat dua orang itu berada. Suara tepuk tangan, terdengar riuh di telingaku. Aku bernafas lega, setelah akhirnya bisa menyelesaikan hukumanku. Hukuman, karena datang terlambat ke acara reuni. Hufffttt!! Hukuman yang menurutku tidak masuk akal. Mas pembawa acara, segera menghampiriku. Aku sudah berniat mengulurkan kembali mikrofon yang aku pegang, sebelum suara pembawa acara kembali terdengar. “Wah … boleh nggak tambah satu lagu lagi? Ternyata enak lho suaranya.” Segera kukibaskan tanganku, sembari meringis. “Nggak Mas, terima kasih. Biar gantian sama yang lainnya.” Kusodorkan mikrofon ke arahnya. Namun, si Mas kembali mendorong ke arahku. Kunaikkan kedua alisku. “Sebentar, Mbak. Tadi, ada yang nitip pertanyaan waktu saya di belakang.” Orang itu menunjuk tempatnya berada, sewaktu menungguku selesai menyanyi. Aku mengernyit, bertambah bingung. Kurasa, malam ini, aku kehilangan kecerdasanku. Entah kabur ke mana. “Mbak nya masih single, atau sudah double?” Si Mas terkekeh, sementara aku hanya bisa melongo--tidak percaya mendengar pertanyaannya. Suara riuh para peserta reuni--terdengar. Aku jadi heran sendiri, kenapa aku justru tertahan di atas panggung, layaknya sang bintang?? “Aduh Mas … itu urusan pribadi saya,” jawabku diplomatis. Sebenarnya, aku ingin sekali menjawab ‘no comment’ layaknya para artis, ketika tersandung skandal, dan diburu para pencari berita. Namun, tentu saja aku sadar diri--siapa aku. Bukan artis! “Jangan gitu, dong, Mbak. Siapa tahu kan, bisa ketemu jodoh di sini. Lihat saja para kaum adam di sana.” Si Mas menunjuk ke arah para peserta reuni. Kembali suara riuh terdengar. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Ingin secepatnya menghilang dari tempatku sekarang berada. Sungguh … ini memalukan. “Waduh Mas … saya datang ke sini, bukan untuk mencari jodoh. Maaf, ini … saya sudah kebelet.” Segera kutarik tangan sang pembawa acara, dan kuletakkan mikrofon ke tangannya. Dengan langkah cepat, kutinggalkan sang pembawa acara--yang tertawa sembari berucap. “Maaf ya, Mas kemeja batik--yang tadi minta saya nanyain status Mbak Asean. Mbak nya main rahasia-rahasiaan.” Lalu, suara tawa riuh terdengar. Aku menghela nafas panjang. Kulanjutkan langkahku, menuju di mana para sahabatku berada. Aku sudah bisa melihat keberadaan mereka, ketika berada di atas panggung. Senyum Dian, dan Ruri segera menyambutku. Keduanya merentangkan tangan mereka. Kubalas senyum mereka, tak kalah lebar. Aku kangen mereka. Kupeluk mereka satu persatu. “Suara lo tambah keren, lho, Sean,” ucap Dian, ketika kami selesai berpelukan. Lalu, kurasakan tarikan di lengan kiriku. Kulihat cengiran Hermit a.k.a Demit. Pak guru Matematika, yang dulu benci Matematika. Hidup memang selucu itu. Oleh karena itu, jangan terlalu membenci sesuatu, karena bisa saja, suatu saat rasa benci itu--akan berbalik menjadi cinta. “Lo tuh ya ….“ Kupukul gemas lengan yang sudah sedikit lebih berisi itu. “Ngapain lo bawa gue ke panggung?” Kupelototi sahabatku, yang hanya memperlihatkan cengirannya tersebut. “Yaelah Sean, lo udah dipanggil berkali-kali sama pembawa acaranya.” Keningku mengernyit. Kapan pembawa acara itu memanggilku? kenal juga enggak. “Nggak usah cari alasan. Gara-gara lo, gue keringetan di atas sana.” Kurasakan rangkulan di bahuku. Ketika aku menoleh, kulihat barisan gigi-gigi si Robot. Tubuh yang bertambah kekar, dengan otot-otot lengan yang menonjol itu, terasa seperti akan meremukkan tubuhku yang tidak seberapa besar--ketika pria itu tiba-tiba memelukku. Sebelah tangannya menepuk-nepuk punggungku. “Gue seneng, lo udah balik sekarang,” ucap Hendra, alias Robot--setelah melepas pelukannya. Aku meringis. “Lo, kalau meluk lihat-lihat dulu kenapa, sih?” omelku kesal, karena aku benar-benar merasakan tubuhku nyaris remuk. Robot terkekeh.“Makanya, makan yang banyak, biar ada isinya. Kalau dipeluk biar kerasa empuk.” Dasar sinting … batinku. Kepukul lengannya, sekeras yang aku bisa. Bukan dia yang meringis kesakitan, tapi justru tanganku sendiri yang sakit. Segera kukibas-kibaskan tanganku sembari meringis, berharap bisa menghilangkan rasa sakitnya. “Gue juga kangen elo, Sean.” Aku masih mengenal suara itu. Sekali pun sudah 9 tahun berlalu. Segera kuputar tubuhku, untuk melihat pria jangkung berambut keriting. Senyum lebar Ding, menular padaku. Masih sama, hanya sekarang, Ding menumbuhkan kumis, dan sedikit jenggotnya. Dulu saja, dia paling gemar mencabuti jenggot yang tidak seberapa itu, dengan menggunakan dua uang koin sebagai penjepit. Terkadang, Dian suka iseng, ikut mencabut dengan tanpa perasaan tentu saja. Hingga akhirnya, Ding mengejar Dian--yang langsung lari, setelah mendapatkan 2, atau 3 helai rambut, dalam sekali sentakan. “Ding … gue juga kangen. Selamat ya, sudah jadi suami. Kapan jadi Bapak, nih?” Ding tersenyum lebar. “Doakan saja,” jawab pria berambut keriting itu. Dia memelukku sembari berbisik. “Selamat datang kembali.” Kuanggukkan kepala di d**a pria tinggi ini. “Gantian Ding. Gue tadi belum meluk Sean.” Aku mendengar gerutuan si Demit. Kulepas pelukan Rahmat, lalu bergeser. Kulihat wajah cemberut Demit. Dua tangannya menenteng tas slempang, serta goody bag ku. Aku terkekeh. Segera kuambil tas slempang di tangan kanannya untuk kupakai, sebelum kupeluk tubuhnya. Rasanya, seperti mendapatkan kembali kakak-kakak ku. Sekalipun kami seumuran, tapi, mungkin karena mereka laki-laki, jadi jiwa melindungi mereka bisa aku rasakan. “Pak Guru jangan sampai ketiduran di kelas, lho, ya,” ejekku, setelah menarik kembali tubuhku menjauh. Hermit tertawa. Sebelah tangannya terangkat, untuk mengusap dahi yang semakin melebar. Karena botaknya bertambah. “Gue juga nggak nyangka, terjebak dengan angka-angka yang bikin gue pusing. Gue cuma iseng-iseng aja, ambil Matematika untuk pilihan ke dua. Eh … nggak tahunya, ketrima,” cerita si Demit, yang ia akhiri dengan kekehan. “Eh … si Pipin, sama si Cungkring, kok nggak kelihatan?” tanyaku, setelah mencari, dan tidak menemukan dua sahabatku yang lain. Ruri langsung berdecak. “Si playboy lagi ngajarin cungkring cari cewek,” ketus wanita itu, sementara yang lainnya mengangguk dengan gelegar tawa. “Belum tobat, dia?” tanyaku lagi. Semuanya serempak menggeleng. “Apalagi sekarang dia sudah sukses jadi juragan tambak, dan pemancingan,” lanjut Dian. “Nah, tuh mereka, baru muncul.” Dian mengedik ke arah kedua sahabatku itu datang. Melihat dari cara berjalan Pipin, aku hanya bisa menggeleng. Kelihatan sekali kharisma playboy pria yang satu itu. “Ckckck … lo lihat tuh, gaya playboy cap kampak kita,” ucap Ruri, sembari mengamati keduanya. “SEANNN … DARLING LING LING LING …” tuh kah, udah kumat aja si cungkring--yang bahkan kini berlari, lalu memelukku begitu saja. “Kemana aja lo … ngilang.” Kutoyor bahunya yang masih setipis dulu. Heran, cuma dia yang tubuhnya tidak berubah. Masih secungkring dulu. “Lo nggak makan ya, selama 9 tahun ini? Lihat nih … kok ya nggak ada tambah-tambah barang sekilo, dagingnya,” ocehku, sembari menoyor-noyor lengannya. Si Cungkring yang nama aslinya Reza itu--berdecak. “Gimana gue bisa makan, kalau darling pergi, dan tak kunjung kembali,” jawaban si Cungkring, yang langsung mendapat toyoran di kepalanya. Siapa lagi pelakunya, kalau bukan Demit. “Jujur aja bilang, kalau lo cacingan. Nggak usah jadiin Sean alasan!” Kami semua tertawa melihat Cungkring yang langsung memelot ke arah Demit. “Sudah … sudah … minggir. Biar Mas Pipin reuni dulu sama Dek Sean.” Pipin mendorong tubuh cungkring menjauh. Pria itu berdiri di depanku, tersenyum lebar, lalu membuka kedua tangannya. Lihat saja cara dia tersenyum. Mungkin, kalau cewek lain yang belum tahu seperti apa pria ini, akan langsung klepek-klepek, diberi senyum seperti itu. “Gue ogah di peluk elo, Pin,” tolakku. Si Pipin mengernyit bingung. “Entar lo jinjay ngerasain yang empuk-empuk,” godaku, yang membuat sahabatku itu berdecak, lalu tanpa ba bi bu menarikku masuk ke dalam pelukannya. Sementara teman-teman yang lain sudah tertawa keras. “Gue, sekarang udah pengalaman sama yang empuk-empuk,” kata Pipin. Aku tertawa. “Betewe, aku tadi ketemu Elang … sama istrinya.” Mood ku langsung terjun bebas, saat mendengar bisikan Pipin. Aku tahu, keduanya datang. Aku juga sudah melihatnya. Aku sudah berusaha keras untuk mensugesti diriku sendiri--bahwa mereka sudah tidak punya pengaruh apa-apa untuk hidup seorang Asean Sofi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD