Bab 1. Undangan Reuni

1526 Words
“Sean, lo udah terima undangan reuni alumni kita belum?” Aku mendengar suara seseorang di ujung telepon, sekalipun tanganku masih sibuk menulis hasil visit yang baru saja selesai kulakukan. “Mmm …,“ gumanku, menanggapi Ruri--salah satu sahabatku semasa SMA. Telingaku bisa mendengar decakan gadis itu. “Gitu doang tanggapannya?” tanya Ruri setengah kesal, karena sepertinya ia tahu aku tidak terlalu menanggapi pertanyaanya. Aku memang tidak terlalu suka dengan acara reuni yang biasa digunakan untuk ajang pamer. Pamer karena sudah punya pacar, pamer karena sudah menikah, pamer karena punya mobil mewah, pamer pakaian bermerk, atau perhiasan yang bergelantungan--hingga terlihat seperti toko mas berjalan. Kuhela nafas panjang. Aku paling enek melihat orang-orang yang menyombongkan diri mereka, tanpa memikirkan perasaan orang lain--yang mungkin, masih harus berjuang untuk bisa sedikit saja menyusul keberhasilan mereka. Kuhela nafas panjang. “Emangnya gue mesti gimana? jingkrak-jingkrak gitu? Atau, gue mesti teriak-teriak heboh gitu?” celotehku, yang lagi-lagi membuat Ruri berdecak. Aku bisa membayangkan wajah kesal sahabatku itu saat ini. “Lo tuh … yang asik, dong. Kan lumayan, kita bisa ketemu sama teman-teman lama. Geng kita dong, Sean. Si robot yang udah jadi tentara, dan dinas di Maluku. Si cungkring yang sudah jadi pengacara, Si demit … lo pasti nggak nyangka… dia jadi guru matematika.” “Really??? how come??!” Tak sadar, aku memekik. Serius, aku kaget mendengar Demit a.k.a Hermit yang jadi guru Matematika. Bagaimana enggak? cowok itu … dulunya paling males-malesan, tiap kali pelajaran Matematika, kerjaannya, pindah tempat duduk yang tidak terlihat dari meja guru--hanya supaya bisa tidur. “Ckck … nggak usah sok-sok pake bahasa londo, dong. Lo kan tau, gue paling gagap ngomong bahasa itu. Tahu kan kalau lidah gue panjang, makanya susah mau ngomong engeles-engeles.” Kami biasa menyebut londo, untuk semua orang luar negeri. Aku tertawa. Salah satu sahabatku ini memang paling benci bahasa ingris, karena tidak pernah bisa mendapatkan nilai bagus. Dia bilang, terlalu susah mengingat tulisan, dan cara baca yang berbeda. Belum lagi, kalau ngomong lidahnya yang dia bilang panjang itu--sering kegigit. Entah itu hanya alasannya saja, atau memang karena lidah yang panjang, hingga membuat ia kesulitan berbahasa inggris. Tapi kenyataannya, dia memang tidak bisa berbahasa Ingris--bahkan setelah orang tuanya membayar mahal guru les yang asli dari Inggris. Aku kembali tertawa. File pasien sudah tergeletak begitu saja di mejaku. Aku tidak akan bisa berkonsentrasi, ketika masih berbicara dengan Ruri. “Serius, gue kaget Rur … gimana caranya? Demit yang dulu benci Matematika itu, malah sekarang jadi guru Matematika. Apa murid-murid nya entar nggak pada main kartu di kelas, karena ditinggal tidur gurunya?” Ruri tertawa keras mendengar ocehanku. “Iya sih … gue juga mikir gitu. Bayangin wajah ngantuk Demit, tiap kali Pak Ari masuk kelas. Tapi paling enggak, penampilannya yang sekarang cukup meyakinkan.” Ruri terkekeh. Aku bisa menebak apa maksudnya. “Karena dia botak,” jawabku, dan kami tertawa bersama. Selalu menyenangkan, mengingat masa-masa SMA kami. Kami punya geng--yang isinya para cowok nyeleneh, sedang ceweknya hanya aku, Ruri, dan Dian. Meski para cowok itu nyeleneh, tapi mereka sangat menghargai persahabatan kami. Mereka akan selalu berdiri di depan kami, ketika ada yang mengusik kami—para cewek. Selalu punya cara, untuk membuat kami happy--dengan segala tingkah mereka. “Trus, kalo si Ding? lo denger kabar dia, nggak?” tanyaku, mengingat Rahmat--yang biasa kami pangil ‘Ding’ hanya karena cowok berambut keriting itu, paling suka ngomong diakhiri dengan kata ‘ding’. Enggak ding, Iya ding, nggak tahu ding. Pokoknya, sering banget mengikutkan kata ding, sampai akhirnya, kami memanggil Rahmat ‘Ding’. “Masih ingat aja, sama si Ding. Dia punya toko kelontong. Udah punya istri juga doi. Lo jangan cemburu kalau ketemu istrinya lho, ya.” Aku tertawa. Kami memang pernah punya cerita. Sedikiiiiittt. Saat Ding, tiba-tiba saja nembak aku--waktu kami sedang kumpul makan siang bersama. Di kantin pula. Sekalipun anaknya agak-agak culun, tapi aku akui dia punya nyali besar. Saat itu, kami masih awal kelas 11, sebelum cerita cintaku yang sebenarnya. “Gue malah ikut senang, kalo dia sudah ketemu jodohnya.” “Lo takut dia bakal ngejar lo lagi kalau tahu lo masih betah menjomblo ??” ejek Ruri, yang membuatku menggelengkan kepala. Sumpah, aku seneng Rahmat sudah menemukan jodohnya. Cowok paling tulus yang pernah aku kenal. Yang selalu ada untuk sahabat-sahabatnya. Yang masih tersenyum, saat kutolak di depan banyak orang. Yang masih terus baik, sekalipun aku sudah menyakiti hatinya. Aku mendesah, mataku memanas ketika mengingat Ding. Dia yang pertama maju, mewakili rasa sakitku. Menghajar orang yang membuatku menangis, hingga rela di skors setelah kejadian itu. “Gue beneran seneng kali Rur … Ding tuh, yang paling sayang sama gue—” “Hei … hei … lo nggak ngakuin sayangnya gue ke elo, ya?” Suara Ruri terdengar kesal. Tentu aku tahu, Ruri, Dian, dan yang lain juga sayang sama aku. Hanya memang beda aja. Mungkin karena dia cowok, jadi aku seperti merasa mendapat seorang kakak. “Bukan gitu. Gue tahu … lo, Dian, semua juga sayang sama gue. Cuma mungkin, karena Ding itu lebih seperti sosok kakak buat gue.” Ruri menghela nafas. Aku bisa membayangkan wanita itu sedang cemberut sekarang. “Si Pipin juga … playboy cap kampak itu gimana kabarnya, ya?” tanyaku lagi, ketika mengingat satu-satunya anggota kami yang playboy. Uniknya, Pipin yang sering gonta-ganti pacar karena previllege yang cowok itu miliki--sebagai anak seorang pengusaha kolam renang di kota kami, selalu saja menceritakan bagaimana kencan-kencannya, bersama para pacarnya. Yah ... pacar seminggu, pacar sebulan, paling lama dia pacaran selama SMA itu, 3 bulan. Pernah suatu hari dia mutusin ceweknya hanya karena merasa risih, ketika tiap kali ia mengajak ceweknya naik motor, tuh cewek selalu melekatkan dadanya ke punggung Pipin. Waktu itu, kami semua tertawa keras, mendengar ceritanya. *** “Bukannya lo harusnya seneng Pin, bisa ngerasain yang empuk-empuk gratis gitu?” Komentar si Robot. Pipin berdecak, wajahnya memperlihatkan mimik jijik. “Gue nggak suka. Rasanya geli,” jawab Pipin, yang kembali membuat kami tertawa keras. “Emang rasanya gimana? Empuk, atau kenyal gitu?” tanya Demit, dengan wajah jahilnya. Tangan pria itu mengusap dahinya yang lebar--selebar lapangan terbang para lalat. Segera kupukul lengan yang tidak seberapa besar itu. Cowok-cowok di geng kami, kebanyakan bertubuh tinggi kecil. Hanya si robot, yang punya perawakan kekar, dan cara jalan yang agak kaku--hingga akhirnya kami panggil dengan sebutan robot. *** “Dia mah sudah jadi bos sekarang. Punya pemancingan juga,” jawab Ruri, yang sukses membuyarkan lamunanku. “Lo kok tahu kabar mereka semua, sih? Jangan bilang lo masih suka ketemuan sama mereka,” cecarku penasaran, karena Ruri bisa tahu semua kabar terbaru sahabat-sahabat kami. “Ya iyah lah … kami masih suka ketemuan, meski jarang. Emang lo? berapa lama lo kabur dari sini?” tanya Ruri, yang membuatku mendengkus. Aku bukan kabur, aku sekolah. Sekolah untuk bisa menggapai cita-citaku. “Enak aja ngatain gue kabur. Ngapain juga gue mesti kabur. Gue nggak punya salah apa-apa, ngapain harus kabur? Gue sekolah bego. Se-ko-lah,” sahutku kesal. Kudengar tawa keras Ruri, yang membuatku menggelengkan kepala. “Gue seneng, kali, Sean. Denger lo udah bisa bego-begoin gue lagi. Rasanya, gue kangen sama lo yang ini. Terima kasih ya, sudah balikin Asean yang dulu. Gue tuh, suka sedih kalau ingat lo berubah. Tahun terakhir sekolah kita, itu tahun yang berat buat lo. Tapi, lo tetep bisa berhasil seperti sekarang, bikin gua bangga sebagai teman. Meskipun gue sempet ngerasa kehilangan Asean yang gue kenal. Tapi gue tetep bangga sama lo, Sean. Gue suka lo udah balik jadi Asean Sofi yang gue kenal.” Kalau sudah mendengar kata-kata seperti ini, mataku seketika langsung memanas. Rasanya pengin nangis. Memang benar yang Ruri katakan, tahun terakhir masa putih abu-abu, adalah masa terkelam dalam kehidupanku. Waktu itu, rasanya aku sudah tidak sanggup menginjak sekolah itu lagi. Aku bahkan sempat meminta Ibu, untuk memindahkanku ke sekolah lain. Tapi ibu bilang, kemanapun aku pindah, tidak akan bisa membuat suasana hatiku membaik. Yang harus aku lakukan adalah menghadapinya. Sekalipun terasa menyesakkan di d**a, karena di tiap sudut, aku bisa melihat bayangannya. Banyak tempat yang akan langsung mengingatkanku pada dia. Aku mencoba menumbuhkan sesubur-suburnya rasa benci dalam hatiku, tapi tiap kali melihat bayangnya, tetap saja, ada rasa rindu, dan juga sakit--yang bergumul menjadi satu. Hingga yang bisa kulakukan saat itu hayalah mengubur diri di antara tumpukan-tumpukan buku di perpustakaan. Entah sudah berapa banyak buku yang k****a di tahun terakhir aku mengenyam masa SMA. Hingga pada akhirnya, teman-teman merasa kehilangan diriku. Apalagi setelah lulus, aku memutuskan melanjutkan kuliah ke Jogja. Kembali menghabiskan waktu dengan tumpukan buku-buku. Itu satu-satunya cara balas dendam yang efektif buatku. Aku bisa menunjukkan, bahwa aku bisa menjadi orang yang sukses tanpa dia. Aku tetap baik-baik saja, bahkan bisa hidup lebih baik, sekalipun dia sudah menghancurkan hatiku, hingga tak tersisa. Pecahan yang terlalu kecil itu, tak mampu lagi aku rekatkan kembali. “Sean … lo masih denger gue, kan?” tanya Ruri, setelah entah berapa lama aku kembali ke masa lalu. “Sure.” Ruri kembali berdecak, ketika aku reflek menjawab dengan bahasa yang tidak ia sukai. “Iya Ruri, putrinya Mama Nuri … gue masih dengerin lo ngomong. Sampe berbusa sekalian juga pasti gue dengerin, kok.” “Jadi, lo mau kan … datang ke reuni?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD